Sedikitnya 71.000 Siswa Terindikasi Masalah Mental, Ada Apa dengan Pelajar di Bandung?

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

Sebanyak 71.433 siswa SD hingga SMA di Kota Bandung, Jawa Barat, terindikasi mengalami masalah mental. Psikolog berpendapat, Generasi Alfa yang lahir antara tahun 2010 hingga 2024 ini memiliki kondisi mental yang jauh lebih rapuh dibandingkan generasi sebelumnya.

Data itu dikumpulkan Pemerintah Kota Bandung dari hasil pemeriksaan kesehatan gratis yang dilakukan pada Agustus hingga Oktober 2025. Hasil ini setara 48,19 persen dari 148.239 pelajar yang mengikuti pemeriksaan kesehatan jiwa.

Pemeriksaan dilakukan pada pelajar di sekolah SD, SMP, SMA, Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah hingga Madrasah Aliyah. Namun, temuan paling menonjol terjadi pada jenjang SMP/MTs sederajat. Jumlah siswa yang terindikasi alami kesehatan mental mencapai 49,09 persen siswa menunjukkan indikasi gangguan kesehatan mental.

Secara rinci, pada jenjang SMP/MTs sederajat tercatat, 76,46 persen siswa mengalami gejala ansietas (kecemasan) ringan, terindikasi ansietas berat (7,89 persen), gejala depresi ringan (15,23 persen) dan terindikasi depresi berat (7,42 persen).

Sementara itu, pada jenjang SD/MI sederajat, dari 80.724 peserta, sebanyak 43.390 siswa (53,75 persen) terindikasi masalah kesehatan jiwa, dengan dominasi gejala ansietas ringan dan depresi ringan.

Pada jenjang SMA/MA sederajat, tercatat 25,79 persen siswa terindikasi masalah kesehatan jiwa, sedangkan di SLB mencapai 48,51 persen.

Menanggapi hal ini, psikolog dan dosen Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha Bandung, Efnie Indrianie pada Senin (9/2/2026) berpendapat, temuan puluhan ribu siswa di Kota Bandung terindikasi alami masalah mental bukan sesuatu yang mengejutkan.

”Anak-anak Generasi Alfa yang lahir tahun 2010 hingga 2024 ini memiliki kondisi mental yang jauh lebih rapuh dibandingkan generasi sebelumnya,” kata dia.

Baca JugaWaspada jika Orang Terdekat Tiba-tiba Menyendiri, Selamatkan Sebelum Terlambat
Baca JugaFenomena Anak Bunuh Diri, Bagaimana Menyelamatkan Gen Alpha Terjebak Depresi?
Baca JugaBunuh Diri Generasi Alfa, Saat Teknologi Digital Memaksa Anak-anak Tumbuh Dewasa

Menurutnya, fenomena tersebut dipicu kompleksitas kehidupan yang dihadapi Generasi Alfa semakin tinggi. Mereka memiliki karakter mental yang cenderung lebih rapuh disebabkan karena lingkungan tumbuh kembang sangat dipengaruhi teknologi serba instan.

Jika dahulu anak-anak seperti pada generasi milenial harus melalalui berbagai tahapan untuk menyelesaikan tugas. Kini, lanjut Efnie, banyak proses yang diselesaikan secara instan dengan bantuan teknologi dan kecerdasan buatan.

“Kondisi tersebut membentuk pola kerja otak yang terbiasa pada kecepatan dan hasil yang cepat. Akibatnya Generasi Alfa ketika menghadapi tantangan hidup yang lebih besar, sistem kerja otak mereka belum cukup siap untuk mengimbanginya dengan kekuatan mental yang memadai,” paparnya.

Efnie menuturkan, kondisi ini patut diwaspadai karena depresi yang tidak ditangani sejak dini berpotensi anak mengambil keputusan ekstrem. Salah satu ciri utama depresi adalah munculnya pikiran mengakhiri hidup atau suicidal thoughts yang kerap disertai distorsi persepsi dan halusinasi.

Baca JugaGen Z dan Gen Alfa, Ujung Tombak Pelestari Budaya
Baca JugaGenerasi Beta dalam Balutan Pseudosains, Mitos dan ”Gimmick” Pemasaran

Dari analisisnya, anak atau remaja yang menjadi pelaku bunuh diri bukanlah individu dengan kondisi mental sehat yang tiba-tiba mengambil keputusan tersebut. Akan tetapi, mereka yang sebelumnya telah mengalami penurunan kondisi psikologis yang serius.

“Kerentanan Generasi Alfa mengambil tindakan ekstrem semakin diperparah ketika menghadapi masalah keseharian, seperti konflik dengan teman sebaya, perundungan, sindiran dan tanpa mendapatkan dukungan memadai dari lingkungan terdekat, khususnya keluarga,” tuturnya.

Butuh didengarkan

Ia merekomendasikan sejumlah cara yang efektif untuk mencegah atau menangani anak yang mengalami masalah mental. Pertama, pentingnya kehadiran figur orang dewasa yang siap mendengarkan. Generasi Alfa membutuhkan ruang aman untuk menceritakan apa yang mereka rasakan dan alami.

Cara berikutnya adalah pentingnya peran aktif orangtua, lembaga pendidikan, guru dan konseling. Upaya pencegahan tidak dapat dilakukan secara sesaat tapi berkelanjutan, terukur dan dipantau dari waktu ke waktu.

“Pendampingan sebaiknya diawali dengan mendengarkan sebelum memberikan arahan atau solusi. Dengan demikian, anak merasa tidak sendirian dan yakin ada orang terdekat yang siap membantunya,” ucap Efnie.

Anggota Majelis Psikolog Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Jabar sekaligus dosen psikologi Universitas Islam Bandung M Ilmi Hatta menilai, kondisi ini sudah masuk kategori “lampu kuning” dan membutuhkan intervensi profesional secara serius.

“Di sekolah memang sudah ada guru bimbingan konseling (BK), tapi kewenangannya terbatas. Untuk kasus-kasus tertentu yang cukup berat tidak bisa hanya ditangani guru BK. Harus ada psikolog yang turun langsung memberikan intervensi dan terapi kepada anak-anak yang bermasalah,” kata Ilmi.

Baca JugaKesehatan Jiwa Remaja Pelajar Sering Diabaikan
Baca JugaKekerasan Massal di Sekolah dan Pengabaian Alarm Kesehatan Jiwa Remaja

Ia menjelaskan, ke depan para psikolog akan dilibatkan secara aktif untuk mendampingi sekolah. Selain menangani siswa secara langsung, para psikolog juga akan memberikan pelatihan kepada guru BK agar memiliki kapasitas lebih baik dalam mengenali gejala awal gangguan mental serta melakukan penanganan awal.

“Guru BK nanti akan mendapat training. Jadi ketika menghadapi anak dengan masalah emosional atau perilaku, mereka sudah tahu harus berbuat apa, kapan perlu merujuk ke psikolog, dan bagaimana mendampingi siswa secara tepat,” jelasnya.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, hal ini menjadi alarm bagi Pemkot Bandung untuk memperkuat langkah pencegahan dan intervensi dini.

Farhan mengungkapkan, gangguan kesehatan mental tidak muncul secara tiba-tiba. Stres yang berkepanjangan dapat berkembang menjadi depresi dan pada kondisi ekstrem, mendorong munculnya pikiran bunuh diri.

“Kita sedang gelisah. Anak-anak kita sedang menghadapi tekanan yang jauh lebih besar dibanding generasi sebelumnya,” kata Farhan.

Baca JugaSiswa yang Diskors dan Dikeluarkan dari Sekolah Berpotensi Mengalami Depresi Saat Remaja dan Dewasa
Baca JugaKesehatan Mental Siswa Tetap Terjaga meski Belajar dari Rumah

Sebagai langkah konkret, Pemkot Bandung tengah menyiapkan program intervensi kesehatan mental di sekolah. Program ini akan melibatkan guru BK, psikolog, serta psikolog klinis untuk mendampingi siswa.

Farhan mengimbau para orangtua agar tidak tersinggung atau menolak ketika anak mereka masuk dalam asesmen kesehatan mental. Ia menekankan asesmen bukan bentuk pelabelan negatif, melainkan upaya perlindungan dini agar anak mendapatkan dukungan yang tepat.

“Bukan berarti anak kita dianggap bermasalah. Justru ini bentuk kepedulian. Apa yang dialami anak-anak di luar rumah sering kali di luar jangkauan orangtua,” ujarnya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Laris Manis di Inacraft 2026, Produk UMKM Binaan Pertamina Dicari Buyer Asing hingga Transaksi Tembus Miliaran
• 17 jam laluviva.co.id
thumb
Pekerja Magang Dapat THR Lebaran 2026 atau Tidak? Cek Ketentuannya
• 19 jam lalubisnis.com
thumb
Heboh Driver Ojol Dihantam Besi Hingga Luka di Jakbar, Pelakunya Anggota Denma Mabes TNI
• 1 jam laluviva.co.id
thumb
Mobil Angkut Narkoba Diamankan di Parkiran RS Jaktim, 9,4 Kg Ganja Disita
• 6 jam laludetik.com
thumb
Ketua Komisi XI DPR Tekankan APBN Harus Berikan Manfaat Langsung ke Masyarakat
• 16 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.