Perundingan atau Tipuan? AS–Iran Bicara Damai Saat Persiapan Perang Jalan Terus

erabaru.net
6 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat tajam setelah kedua negara menggelar perundingan tidak langsung di Oman pada Jumat 6 Februari 2026. Menurut laporan Associated Press, pembahasan perundingan ini pada dasarnya kembali ke isu lama yang tak kunjung tuntas, yakni program nuklir Iran.

Namun, terdapat perbedaan krusial dibandingkan putaran-putaran sebelumnya. Untuk pertama kalinya, Amerika Serikat mengirim komandan militer tertinggi di kawasan Timur Tengah untuk terlibat langsung dalam proses diplomatik tersebut, yakni Brad Cooper, Komandan US Central Command (CENTCOM). Langkah ini dipandang luas sebagai sinyal bahwa jalur diplomasi kali ini berjalan beriringan langsung dengan tekanan militer.

Israel Gelar Rapat Darurat, Rencana Operasi Militer Disiapkan

Pada hari yang sama, situasi regional turut memanas. Israel menggelar rapat darurat tingkat tinggi, melibatkan pimpinan militer senior. Komandan Angkatan Udara Israel, Tomer Bar, bersama Kepala Intelijen Militer, Shlomi Binder, dilaporkan telah merampungkan rencana darurat operasi militer.

Sumber-sumber keamanan menyebutkan bahwa rencana tersebut disiapkan sebagai respons terhadap kemungkinan eskalasi konflik dengan Iran, terutama jika Amerika Serikat memutuskan untuk mengambil langkah militer secara langsung.

Militer AS Perkuat Posisi di Sekitar Iran

Di saat perundingan berlangsung, Amerika Serikat secara nyata memperkuat kehadiran militernya di sekitar Iran. Gugus Tempur Kapal Induk USS Abraham Lincoln dikerahkan ke kawasan Timur Tengah, beroperasi di sekitar pesisir selatan Iran, lengkap dengan kapal pendukung.

Selain itu, jet tempur, kapal perusak, sistem pertahanan udara, dan persenjataan rudal dilaporkan berada dalam status siaga tinggi. Pejabat AS mengonfirmasi bahwa sekitar 40.000 personel militer Amerika Serikat saat ini ditempatkan di wilayah tanggung jawab CENTCOM, menjadikan kawasan tersebut salah satu titik konsentrasi militer AS terbesar di dunia.

Peringatan Keamanan dan Potensi Evakuasi Warga Asing

Masih pada 6 Februari 2026, Kedutaan Besar Virtual AS untuk Iran kembali mengeluarkan peringatan keamanan. Dalam pernyataannya, disebutkan bahwa Iran tengah menerapkan langkah-langkah keamanan yang semakin ketat, termasuk penutupan jalan utama, gangguan transportasi umum, serta pemblokiran internet secara luas.

Sejumlah maskapai internasional mulai mengurangi atau membatalkan penerbangan dari dan menuju Iran. Warga negara Amerika Serikat diimbau untuk bersiap menghadapi gangguan komunikasi jangka panjang, menyiapkan metode komunikasi alternatif, serta—jika kondisi memungkinkan—mempertimbangkan evakuasi darat melalui Armenia atau Turki.

Kementerian Luar Negeri Jerman juga mengeluarkan pernyataan resmi yang menyebutkan bahwa situasi berpotensi memburuk hingga konflik militer terbuka. Pemerintah Jerman memperingatkan bahwa Iran dapat menutup wilayah udaranya sewaktu-waktu dan menyerukan agar warganya segera meninggalkan negara tersebut demi menghindari risiko penahanan sewenang-wenang atau bahaya serius lainnya.

Dampak Strategis bagi Tiongkok

Bagi Partai Komunis Tiongkok (PKT), ketidakstabilan berkepanjangan di Iran dipandang sebagai pukulan strategis besar, meskipun belum bersifat fatal. Selama ini, Iran merupakan poros penting dalam strategi Beijing di Timur Tengah, mencakup pasokan energi, narasi anti-Amerika, serta simpul keamanan dalam proyek Belt and Road Initiative.

Para analis menilai bahwa jika Iran mengalami tekanan berat atau konflik berkepanjangan, maka ruang manuver strategis Tiongkok di Timur Tengah akan menyempit, sekaligus melemahkan pengaruh politik dan daya tawar energi Beijing di kawasan tersebut.

Sinyal Pesimistis dari Dalam Negeri Iran

Di dalam Iran, sinyal pesimistis terhadap diplomasi semakin menguat. Pada 6 Februari, para pemimpin doa di berbagai wilayah secara hampir serempak menyampaikan pandangan negatif terhadap perundingan dengan Amerika Serikat.

Perwakilan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, di Kota Mashhad menyatakan kepada jamaah bahwa perundingan berlangsung “dengan senjata dan pesawat tempur menggantung di atas meja”, serta menyebutnya sebagai permainan politik Amerika Serikat yang sia-sia.

Naskah khutbah tersebut diketahui disusun oleh markas pusat Iran yang berada langsung di bawah pengawasan kantor Khamenei. Banyak analis menilai ini sebagai indikasi bahwa elite politik Iran tengah bersiap menghadapi kegagalan perundingan atau bahkan konfrontasi militer lanjutan.

Peringatan Eropa dan Ancaman Perang Regional

Pada Jumat, 6 Februari, Menteri Luar Negeri Prancis memperingatkan bahwa jika konflik AS–Iran meningkat secara regional, maka kelompok-kelompok bersenjata yang didukung Iran di Timur Tengah harus menunjukkan penahanan diri maksimum guna mencegah destabilisasi kawasan.

Kekhawatiran lama kembali mengemuka bahwa jika Amerika Serikat menyerang Iran, maka kelompok pro-Iran di Irak, Yaman, dan Lebanon berpotensi terlibat langsung, sehingga memperluas konflik menjadi perang regional berskala besar.

Trump Teken Perintah Eksekutif Baru

Pada sore hari 6 Februari 2026, Presiden Donald Trump menandatangani perintah eksekutif yang diumumkan Gedung Putih. Dokumen tersebut menyatakan bahwa Amerika Serikat akan mengenakan tarif tambahan terhadap produk impor dari negara-negara yang masih melakukan perdagangan dengan Iran setelah 7 Februari 2026.

Gedung Putih menegaskan bahwa kebijakan ini tidak berlaku otomatis dan belum menetapkan besaran tarif tertentu. Evaluasi lanjutan akan dilakukan. Dalam pernyataannya, Gedung Putih kembali menyebut Iran sebagai sponsor terorisme terbesar di dunia, serta menegaskan bahwa Presiden Trump tidak akan pernah mengizinkan Iran memiliki senjata nuklir.

Manuver Diplomatik Terakhir dan Insiden Misterius di Teheran

Tak lama setelah pertemuan di Oman, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi terbang ke Doha, Qatar, untuk menghadiri Forum Al Jazeera ke-17. Sejumlah analis menilai langkah ini sebagai upaya diplomatik terakhir yang penuh risiko guna mencegah situasi meluncur ke titik tak dapat diperbaiki. Sumber lain menyebutkan bahwa pesawat Araghchi hanya singgah beberapa jam sebelum kembali ke Teheran.

Sementara itu, pada sore 6 Februari, sebuah kebakaran mendadak dilaporkan terjadi di bengkel kayu dalam kompleks fasilitas militer milik Staf Gabungan Angkatan Bersenjata Iran di Teheran Timur. Asap tebal terlihat membumbung di atas ibu kota. Pemadam kebakaran berhasil mengendalikan api dengan cepat. Media resmi Iran menyatakan tidak ada korban luka, namun hingga kini penyebab kebakaran belum diumumkan.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Koalisi Masyarakat Sipil Temui Komisi XIII DPR Minta Revisi UU Peradilan Militer
• 38 menit lalukumparan.com
thumb
Heboh! Perkara Main Drum di Jakbar, Oknum Pengacara dan Tetangga Saling Lapor Polisi
• 18 menit laludisway.id
thumb
Calon Gedung MUI-Baznas 40 Lantai di Bundaran HI Cagar Budaya, Ini Kata Pramono
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Anak WNI Tewas Jadi Korban Kecelakaan di Singapura, sang Ibu Masih Dirawat
• 21 jam lalukompas.tv
thumb
Satria Muda Pertamina Pimpin Klasemen IBL 2026 Usai Tundukkan Bogor Hornbills
• 14 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.