Cafe biasanya identik dengan segelas kopi atau matcha yang menggugah selera. Kedua minuman ini telah menjelma menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat urban, khususnya generasi Z. Namun, Indonesia sesungguhnya memiliki minuman tradisional yang tak kalah menarik dan kaya manfaat, yakni jamu.
Untuk menikmati secangkir jamu, seseorang biasanya membelinya lewat mbok jamu gendongan yang memikul beragam racikan di pundaknya, atau dari kios-kios kecil di pinggir jalan. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu jamu bisa dinikmati dengan lebih modern berkonsep kafe.
Inilah yang dilakukan oleh Acaraki, kedai jamu modern yang mengemas jamu dengan lebih kekinian. Lewat konsep ini, mereka ingin memperluas cara masyarakat mengenal dan menikmati jamu. Sekaligus menjadikan jamu sebagai alternatif minuman yang “kafein-free”.
“Lewat tren wellness yang kini banyak dipilih masyarakat, jamu bisa menjadi salah satu pilihan sebagai minuman yang kafein-free,” ujar Jony Yuwono, Founder & Director PT Acaraki Nusantara Persada (acaraki) saat konferensi pers pembukaan gerai baru di PIK 2, pada Rabu (4/1).
Menurut Taruna Ikrar, Ketua Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Indonesia, jamu bukan sekadar obat, tapi juga memiliki nilai seni dan budaya di dalamnya. Sehingga, jamu memiliki potensi ekonomi yang cukup besar untuk dikembangkan.
“Jamu memiliki potensi ekonomi 350 triliun setiap tahun. Namun, yang baru dimanfaatkan oleh masyarakat baru sekitar 1 triliun setiap tahunnya,” ujarnya.
Melihat kafe jamu yang diinisiasi oleh acaraki, Taruna melihat dampak yang besar. Bukan hanya untuk pertumbuhan ekonomi, tapi juga menjadi ajang pengenalan budaya.
Mengemas Jamu dalam Lanskap ModernSebelumnya, Acaraki telah membuka sejumlah gerai di beberapa kota besar, di antaranya di kawasan Kota Tua, Landmark Pluit, dan Aeon Mall Tanjung Barat. Pembukaan gerai di PIK 2 menjadi langkah lanjutan untuk memperluas jangkauan.
Di gerai terbarunya, Acaraki mengusung konsep joglo yang kental dengan nuansa budaya. Interiornya didominasi elemen kayu, termasuk dinding ukiran berukuran besar yang memberi kesan hangat. Di bagian tengah ruangan, terdapat bar tempat para peracik jamu (yang disebut acaraki) menyiapkan minuman secara langsung.
Menu yang ditawarkan pun beragam. Berbagai bahan tradisional seperti kunyit, jahe, hingga daun kelor diolah dengan teknik yang lebih modern untuk menghasilkan cita rasa yang lebih akrab di lidah.
“Menu kami antara lain beras kencur dengan susu, kunyit asam dengan es krim, daun kelor yang diseduh menyerupai matcha, hingga jahe yang diolah dengan teknik vietnam drip,” jelas Jony.
Menariknya, pengunjung juga dapat meracik jamu sesuai preferensi masing-masing melalui sistem pemesanan khusus. Beberapa menu bahkan dapat dipadukan dengan soda untuk memberikan sensasi yang lebih segar.
“Kombinasi dari menu ini tetap kita perhatikan dan mengikuti arahan dari BPOM. Karena ada bahan-bahan jamu yang cukup berat,” jelasnya.
Acaraki berharap, jamu semakin diterima oleh generasi muda, sekaligus menginspirasi lahirnya lebih banyak kafe jamu di Indonesia.
Baca juga: Manfaat Jamu Kunyit untuk Lancarkan dan Atasi Nyeri saat Menstruasi





