GenPI.co - Pasien stroke kini memiliki peluang untuk kembali berkomunikasi melalui sebuah kalung berbasis kecerdasan buatan (AI).
Dilansir PA Media, Minggu (8/2), para peneliti dari Universitas Cambridge mengembangkan perangkat bernama Revoice.
Revoice bisa menghilangkan kebutuhan akan implan otak invasif dan memungkinkan pasien berkomunikasi secara lebih alami.
Revoice menggabungkan sensor dengan AI untuk menerjemahkan sinyal ucapan dan isyarat emosional pasien menjadi kata-kata serta kalimat yang utuh.
Tim peneliti berharap teknologi ini juga bisa membantu orang dengan kondisi lain seperti penyakit Parkinson dan neuron motorik (MND).
Perangkat ini dikenakan seperti kalung yang lembut dan fleksibel.
Revoice menangkap detak jantung dan getaran kecil dari otot tenggorokan pasien.
Sinyal-sinyal tersebut kemudian diterjemahkan dengan cepat menjadi kata-kata, bahkan mampu memprediksi kalimat yang ingin diucapkan pasien.
Pasien bisa "berbicara" tanpa suara, sementara sistem AI lainnya menafsirkan kondisi emosional dan informasi kontekstual seperti waktu serta cuaca.
Pengguna juga bisa mengontrol perangkat dengan menganggukkan kepala dua kali.
Dalam uji coba kecil terhadap lima pasien penderita disartria (gangguan bicara yang sering terjadi setelah stroke), perangkat ini berhasil mengenali kata dengan tingkat kesalahan hanya 4,2 persen dan kesalahan kalimat sebesar 2,9 persen.
Peneliti utama dari Departemen Teknik Cambridge Luigi Occhipinti mengatakan Revoice merupakan perangkat yang nyaman dikenakan dan bisa digunakan di luar lingkungan rumah sakit.
"Saat kembali ke rumah, pasien bisa memulihkan fungsi bahasa dan kemandirian. Komunikasi sangat penting untuk martabat dan pemulihan," ujarnya.
Studi ini dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications dan akan dikembangkan dalam penelitian selanjutnya.
Para peserta melaporkan peningkatan kepuasan hingga 55 persen. (*)
Video heboh hari ini:



