Industri furnitur nasional masih menghadapi tantangan untuk bersaing di pasar global. Berdasarkan analisis pelaku usaha, belum separuh industri furnitur di Indonesia yang dinyatakan siap masuk pasar ekspor, khususnya ke kawasan Eropa.
Tingkat kesiapan tersebut dinilai dari sejumlah aspek, mulai dari legalitas, teknologi produksi, hingga penerapan sistem otomasi industri.
Direktur Pengembangan Ekspor Produk Manufaktur Ditjen Pengembangan Ekspor Nasional, Deden Muhammad Fajar Shiddiq, mengatakan hanya sekitar 39,5 persen industri furnitur yang telah memenuhi standar untuk masuk pasar global.
“Hanya kurang lebih 40 persen pengusaha furnitur kita yang siap masuk pasar global. 39,5 persen. Jadi yang siap itu seperti SVLK (Sistem Verifikasi Legalitas dan Kelestarian) lolos, kemudian juga teknologi industrinya juga sudah bagus, otomasi,” kata Deden dalam agenda Rapat Kerja Nasional Asosiasi Pengusaha Mebel Indonesia (Asmindo) di Yogyakarta, Jumat (6/2).
Selain kelompok yang dinilai siap ekspor, masih terdapat pelaku usaha furnitur yang berada pada kategori rentan dan membutuhkan pendampingan lebih lanjut. Kelompok ini umumnya telah memiliki legalitas usaha, namun belum didukung sistem produksi yang memadai untuk memenuhi kebutuhan pasar Eropa.
Ia menjelaskan, sebanyak 32,6 persen industri furnitur berada dalam kategori tersebut.
“Yang kedua 32,6 persen ini dalam rentan. Agak sedikit perlu perhatian jika memang mau masuk ke pasar Eropa, jadi dia hanya punya legalitas saja, produksi semi manual,” katanya.
Sementara itu, sekitar 27,9 persen pelaku usaha furnitur dinilai belum memungkinkan untuk masuk ke pasar global. Kondisi ini disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari keterbatasan teknologi produksi hingga ketidaksiapan memenuhi standar internasional.
Meski demikian, pemerintah dan pelaku industri menargetkan peningkatan kinerja ekspor furnitur pada 2026. Ekspor furnitur Indonesia pada 2026 ditargetkan mencapai 2,5 miliar USD, meningkat dibandingkan realisasi ekspor furnitur pada 2025 yang tercatat sebesar 1,82 miliar USD.
“Target pertumbuhan kita di 2026 2,5 USD. Kita hitung tidak hanya berdasarkan statistik namun juga beberapa parameter termasuk ekonomi, kondisi geopolitik dan sebagainya,” katanya.
Untuk mendukung pencapaian target tersebut, kawasan Asia Tenggara dan Asia Selatan dinilai menjadi pasar potensial baru bagi industri furnitur Indonesia. Permintaan furnitur di kedua kawasan tersebut disebut masih tinggi dan terus mengalami pertumbuhan.
Fokus ekspor ke depan akan diarahkan pada penguatan pasar tradisional sekaligus perluasan pasar nontradisional.
“Ada dua daerah yang bisa menjadi fokus para pengusaha ekspor yaitu ke asia tenggara dan asia selatan termasuk India dan Pakistan. Itu juga permintaan furnitur juga tinggi,” ujarnya.
Selain penguatan pasar, upaya penetrasi pasar nontradisional juga akan dilakukan melalui partisipasi dalam pameran internasional. Strategi ini melibatkan asosiasi industri sebagai bagian dari upaya promosi dan peningkatan daya saing produk furnitur nasional di pasar global.

