Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno, berbicara soal disrupsi digital di era sekarang.
Hal ini sampaikan saat acara Konsolidasi Nasional Kemendikdasmen 2026 di kantor Pusat Pelatihan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Kemendikdasmen, Depok, Senin (9/2).
"Kalau saya menggambarkan disrupsi itu ada dua yang paling besar. Satu adalah disrupsi digital dan AI. Siapa sangka kok tiba-tiba ada media massa tanpa wartawan? Siapa sangka semua orang bisa menjadi pemberitaan atau bisa menjadi wartawan seperti sekarang ini dengan sosial media? Siapa sangka orang berjualan kok tanpa ada tokonya? Sekarang ini eranya," kata Pratikno.
Pratikno juga menyoroti soal robot yang bertransformasi dari yang sebelumnya menjadi alat bantu fisik, kini menjadi alat bantu berpikir. Bahkan kapasitas daya pikir robot, menurut Pratikno, lebih besar dibandingkan manusia.
"Siapa sangka robot tadinya hanya membantu secara fisik, tetapi sekarang robot membantu untuk berpikir dengan IQ yang lebih tinggi. Ini disrupsi besar," ujar Pratikno.
Bicara Krisis IklimLebih lanjut, Pratikno juga berbicara soal perubahan iklim. Ia menilai krisis iklim belakang ini menyebabkan bencana, termasuk di Indonesia.
"Ada disrupsi yang kedua, yaitu climate change, yaitu perubahan iklim. Bencana di mana-mana di seluruh Indonesia. Hidrometeorologi (kondisinya) luar biasa," kata Pratikno.
"Kemarin banjir besar di Kalimantan Timur, di Kabupaten Kutai Timur. Yang terdampak ribuan keluarga. Jadi ini terus setiap hari. Beberapa minggu yang lalu di Tegal, tanah amblas, banjir. Apalagi rob di Pekalongan sampai Jakarta, dan seterusnya. Climate change is real," sambungnya.
Ia pun berharap sekolah bisa lebih peduli terkait perubahan iklim ini. Hal kecilnya, lanjut dia, seperti memilah-memilah sampah.
"Apa yang bisa dilakukan di sekolah? Satu, kecil-kecil, memilah sampah. Memilah sampah. Ini kita ini, Pak Presiden sedang besar-besaran punya program waste to energy. Tapi mengapa waste to energy—even di Jakarta—itu sulit atau tidak efisien? Karena apa? Karena memang tidak terjadi pemilahan sampah yang disiplin mulai dari keluarga," ujar Pratikno.
"Jadi di sekolah, kita bisa membiasakan anak untuk memilah sampah. Setidak-tidaknya sampah basah, sampah organik harus terpisah dari yang lain. Karena kalau tidak, tidak bisa diolah. Jadi kebiasaan memilah sampah. Sampah organik, non-organik, syukur kalau non-organik bisa dipilah lagi. Kalau tidak, minimal organik dan non-organik. Karena organik ini yang membuat sampah basah dan kemudian sulit diolah. Mahal ongkosnya," tambahnya.





