Hasil Survei Terbaru: Sjafrie Sjamsoeddin Hingga Purbaya Masuk Bursa Bakal Capres 2029

jpnn.com
2 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com, JAKARTA - Hasil survei terbaru lembaga Indonesian Public Institute (IPI) menunjukkan sejumlah wajah baru masuk dalam bursa bakal calon presiden 2029.

Di antaranya Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dan sejumlah Gubernur hingga Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.

BACA JUGA: Partai Gema Bangsa Dukung Prabowo Maju Pilpres 2029, Bukan Keputusan Pragmatis

“Berdasarkan hasil survei terbaru kami, sejumlah wajah baru masuk dalam bursa bakal capres 2029 seperti Menhan Sjafrie Sjamsoeddin, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi hingga Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa,” ujar Peneliti IPI Abdan Sakura dalam konferensi pers rilis hasil survei bertajuk 'Peta Elektabilitas Calon Presiden 2029' di Semanggi, Jakarta, Senin (9/2/2026).

Wajah-wajah baru tersebut masuk dalam 10 besar tokoh untuk menjadi bakal capres 2029.

BACA JUGA: Gerakan Rakyat Dukung Anies untuk Pilpres 2029, NasDem Pilih Fokus Bantu Prabowo

Sjafrie Sjamsoeddin berada di urutan ke-7 dengan tingkat elektabilitas di angka 7,5 persen disusul Purbaya Yudhi Sadewa 4,9 persen dan Sherly Tjoanda 3,8 persen.

“Elektabilitas Sjafrie Sjamsoeddin bersaing ketat dengan sejumlah tokoh kepala daerah, seperti Mantan Gubernur Jakarta Anies Baswedan yang berada di urutan ke-4 dengan elektabilitas 8,5 persen, lalu Gubernur Jakarta sekarang Pramono Anung di urutan ke-5 (elektabilitas 7,8 persen) dan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (7,9 persen)," ujar Abdan.

BACA JUGA: Baru Deklarasi, Partai Gema Bangsa Dukung Prabowo Maju Pilpres 2029

Abdan menjelaskan munculnya wajah-wajah baru tersebut tidak terlepas dari sejumlah faktor mempengaruhi elektabilitas mereka seperti kepemimpinan, ketokohan, rekam jejak, publikasi media, integritas, visi - misi dan program kerja.

Abdan mencontohkan 4 indikator yang memperkuat elektabilitas Sjafrie Sjamsoeddin, seperti kepemimpinan dan ketokohannya di angka 44 persen, rekam jejak kepemimpinan 17 persen, rekomendasi lingkungan dan media 12 persen serta integritas 10 persen.

“Tokoh-tokoh seperti Pramono Anung, Dedi Mulyadi, dan Syafri Syamsuddin tampil sebagai figur potensial yang memperoleh penilaian kelayakan cukup kuat, meski belum sepenuhnya terkonversi menjadi dukungan elektoral. Celah inilah yang membuka ruang bagi dinamika politik baru—terutama jika terjadi krisis, perubahan peta koalisi, atau absennya 'pemain utama. Sementara itu, rendahnya elektabilitas sejumlah tokoh populer menegaskan bahwa popularitas semata tidak lagi cukup di tengah pemilih yang makin rasional dan kontekstual," ujar dia.

Lebih lanjut, Abdan mengatakan di puncak elektabilitas dikuasai Prabowo Subianto dengan angka 22,3 persen.

Angka tersebut jauh melampaui tokoh lainnya. Elektabilitas Gibran Rakabuming Raka berada di urutan kedua dengan angka elektabilitas 12,2 persen dan Ganjar Pranowo di angka 9 persen.

“Nama-nama besar masih mendominasi persepsi publik, seperti Prabowo Subianto, Gibran Rakabuming Raka, Ganjar Pranowo, dan Anies Baswedan menempati posisi teratas baik dalam penilaian kelayakan maupun elektabilitas, menunjukkan kuatnya pengaruh kekuasaan, kontinuitas elite, dan eksposur media dalam imajinasi pemilih. Namun, jarak antara tingkat kelayakan yang tinggi dan elektabilitas yang relatif moderat mengindikasikan satu hal penting, publik mengenal dan menilai, tetapi belum sepenuhnya menjatuhkan pilihan," pungkas Abdan.

Survei Indonesian Public Institute (IPI) digelar 30 Januari 2026 hingga 5 Februari 2026 terhadap 1.241 responden yang merupakan masyarakat berusia 17 tahun - 65 tahun dan berasal dari 35 Provinsi di Indonesia.

Teknik sampling yang digunakan pada riset ini adalah Multistage Random Sampling. Metode ini adalah teknik sampling di mana pemilihan sampel dilakukan dalam beberapa tahap (stage), dari unit besar ke unit yang lebih kecil, dan setiap tahap dilakukan secara acak (random).

Berdasarkan teknik sampling tersebut, sampel berasal dari 35 Provinsi di Indonesia yang terdistribusi secara proporsional. Margin of error dari ukuran sampel tersebut sebesar 2,78 persen pada tingkat kepercayaan ± 95 persen.(fri/jpnn)


Redaktur & Reporter : Friederich Batari


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Evaluasi Kinerja 2025, PPI Jawa Timur Tegaskan Riset Harus Masuk Industri dan Harus Berdampak Nyata
• 14 jam lalujpnn.com
thumb
Foto: Penambalan Jalan Rusak di Kedoya, Jakarta Barat
• 13 jam lalukumparan.com
thumb
Publikasi Kasus Epstein Bisa Jadi Pelajaran Transparasi Data Indonesia
• 10 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Perusahaan Makanan dan Minuman Bersiap! Pemerintah Segera Jalankan Aturan Label Gula
• 9 jam lalubisnis.com
thumb
Penganiaya Driver Ojol di Jakbar Bukan Paspampres, Diduga Anggota TNI
• 9 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.