Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Rusia melalui Kremlin melontarkan tuduhan keras terhadap Amerika Serikat pada Senin (9/2/2026), dengan menyebut Washington telah menerapkan langkah-langkah yang mencekik terhadap Kuba. Tudingan ini muncul di tengah krisis energi yang kian parah melanda negara kepulauan Karibia tersebut akibat sanksi dari pihak Negeri Paman Sam.
Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov memberikan keterangan kepada awak media mengenai kondisi sekutu tradisional Rusia tersebut yang kini semakin terpuruk.
"Situasinya benar-benar kritis di Kuba. Langkah-langkah mencekik yang diterapkan oleh Amerika Serikat menyebabkan banyak kesulitan bagi negara tersebut. Kami sedang mendiskusikan solusi yang memungkinkan dengan teman-teman Kuba kami, setidaknya untuk memberikan bantuan apa pun yang kami bisa," kata Peskov dikutip AFP.
Kuba saat ini sedang berada dalam kondisi kritis setelah Amerika Serikat memerintahkan penghentian pengiriman minyak dari Caracas menyusul penangkapan pemimpin Venezuela Nicolas Maduro oleh pasukan AS bulan lalu. Situasi ini memaksa pemerintah Kuba pada Jumat pekan lalu mengumumkan langkah-langkah darurat, termasuk pemberlakuan empat hari kerja bagi perusahaan negara dan pembatasan penjualan bahan bakar.
Ketegangan semakin meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani perintah eksekutif yang mengizinkan pengenaan tarif terhadap negara-negara yang menjual minyak ke Havana. Trump juga menyatakan bahwa Meksiko, yang telah memasok minyak ke Kuba sejak 2023, akan menghentikan pasokannya karena berada di bawah ancaman tarif AS tersebut.
Kelangkaan minyak ini mengancam Kuba jatuh ke dalam kegelapan total lantaran pembangkit listrik di sana kesulitan beroperasi untuk menjaga pasokan energi tetap menyala. Rusia selama berminggu-minggu terus mengecam kampanye AS terhadap Havana dan menyebutnya sebagai tindakan yang tidak dapat diterima serta memperingatkan potensi krisis kemanusiaan.
Dampak krisis ini juga mulai merambah ke sektor transportasi udara internasional setelah pihak berwenang Kuba mengeluarkan peringatan darurat.
"Kuba telah memperingatkan maskapai penerbangan bahwa mereka menangguhkan pasokan bahan bakar jet selama sebulan," ujar seorang pejabat di sebuah maskapai penerbangan Eropa pada Minggu.
Washington sendiri telah lama berupaya untuk menggulingkan atau melemahkan pemerintahan Kuba yang dipimpin komunis. Sebaliknya, Havana menuduh Trump sengaja ingin mencekik ekonomi pulau tersebut, di mana pemadaman listrik dan kelangkaan bahan bakar yang sudah sering terjadi dalam beberapa tahun terakhir kini menjadi jauh lebih akut.
Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel menegaskan posisi negaranya dalam menghadapi tekanan diplomatik dan ekonomi dari Amerika Serikat yang kian agresif.
"Kuba bersedia untuk mengadakan pembicaraan dengan Amerika Serikat, tetapi tidak di bawah tekanan," tegas Miguel Diaz-Canel.
(tps/luc)




