- Purnawirawan Polri Dharma Pongrekun mengkritik narasi global wabah, menyoroti kepentingan di balik penamaan virus baru.
- Dharma melihat pola berulang di mana virus baru diumumkan secara global dengan narasi seragam yang menuntut kepatuhan.
- Ia menekankan bahwa narasi wabah kerap membangun kepatuhan berbasis ketakutan, bukan kewaspadaan ilmiah sejati.
Suara.com - Purnawirawan Polri Dharma Pongrekun kembali menyatakan pandangan kritisnya terhadap pola narasi global terkait wabah penyakit.
Sebelumnya, ia dikenal publik lantaran pernyataan kontroversialnya mengenai infeksi Covid-19 yang ia sebut permainan elit global. Paparan Serupa ia lontarkan terhadap virus nipah yang saat ini juga melanda sejumlah negara.
Menurut Dharma, setiap kemunculan virus baru perlu ditelaah secara mendalam, bukan hanya dari sisi biologis, tetapi juga dari sisi kekuasaan dan kepentingan yang menyertainya.
Ia menyoroti pola berulang dalam cara dunia diperkenalkan pada ancaman virus baru.
“Setiap kali dunia diumumkan ‘virus baru’, saya tidak lagi bertanya seberapa berbahaya virusnya, tapi siapa yang menamainya, atas perintah siapa, dan untuk kepentingan apa,” ujar Dharma kepada suara.com dihubungi Senin (9/2/2026).
Ia mempertanyakan proses yang membuat sebuah fenomena biologis berubah menjadi peristiwa politik dan ekonomi berskala global.
Dalam pandangannya, publik dan media jarang diajak untuk mengajukan pertanyaan mendasar terkait hal tersebut.
Selain itu, Dharma juga melihat bahwa dalam rentang dua hingga tiga dekade terakhir, pola serupa terus berulang dengan nama virus yang berbeda.
Menurutnya, pola yang terjadi selalu adanya nama virus baru yang diumumkan secara global dengan narasi seragam dan publik diminta untuk patuh.
Baca Juga: Lebih Ganas dari COVID-19, Menakar Kesiapan Indonesia Hadapi Virus Nipah yang Mematikan
Ia menyebutkan kalau pola itu terus berulang terhada sejumlah wabah yang silih berganti menghilang tanpa pertanggungjawaban yang tuntas.
“Super flu hilang, flu burung sunyi, flu babi lenyap, SARS selesai, MERS mengendap, Covid-19 dikubur pertanyaannya, sekarang Nipah,” tuturnya.
Dharma menekankan perbedaan antara urusan biologi dan urusan politik dalam konteks wabah. Menurutnya, yang kerap dibangun bukan kewaspadaan berbasis pengetahuan, melainkan kepatuhan berbasis ketakutan.
“Kalau ancamannya selalu luar biasa, kenapa yang luar biasa justru narasinya, bukan faktanya? Karena yang diproduksi bukan kewaspadaan, tapi kepatuhan,” tegasnya.
Dalam pernyataannya, Dharma juga mengajak publik untuk mengubah cara berpikir dalam menyikapi isu virus dengan revolusi cara berpikir, mulai dari menolak kepatuhan otomatis terhadap istilah “virus” hingga pentingnya mempertanyakan pihak yang diuntungkan dari narasi ketakutan tersebut.
Dharma menegaskan bahwa kritik tidak boleh disamakan dengan penolakan terhadap sains. Ia menyatakan dukungannya terhadap sains, namun menolak kepanikan yang menurutnya dikemas sebagai kebenaran ilmiah.



