Bisnis.com, JAKARTA - Dunia pendaki gunung dan pecinta kegiatan outdoor berduka karena salah satu pegiatnya Yudi Kurniawan meninggal dunia karena sakit pada Minggu 8 Februari 2026 kemarin.
Kabar duka disampaikan di akun instagram resmi Avtech.
Yudi Kurniawan bukan hanya dikenal sebagai pendaki gunung, tapi juga founder salah satu brand peralatan outdoor lokal Avtech.
Bahkan, diapun mendirikan Avtech karena kecintaannya pada mendaki gunung.
Rest in Adventure, Legend.
Hari ini, keluarga besar AVTECH Indonesia kehilangan detak jantung dan sosok inspirasi utama kami. Telah berpulang ke Rahmatullah, Bapak H. Yudi Kurniawan Bin Nana Suryana, Founder sekaligus pimpinan kami tercinta.
Baca Juga
- Indofest 2025 Hadir Lagi 12-15 Juni, Lebaran Anak Outdoor
- Indofest 2023 Bersiap Bidik Pecinta Olahraga Outdoor di Surabaya
- Amazon Rilis Tiga Aksesoris untuk Kamera Keamanan Rumah Blink Outdoor 4
Beliau bukan sekadar pemimpin bagi kami, melainkan seorang ayah dan petualang sejati yang mengajarkan bahwa setiap puncak bisa diraih dengan kerendahan hati dan kerja keras. Semangat beliau dalam memajukan industri outdoor tanah air akan terus kami jaga sebagai api perjuangan AVTECH ke depan.
Terima kasih atas segala ilmu, dedikasi, dan cinta yang telah Bapak berikan kepada kami dan seluruh petualang di Indonesia.
Kami mohon doa dari rekan-rekan semua, agar almarhum diberikan tempat terbaik di sisi-Nya dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan.
Selamat jalan, Pak. Beristirahatlah dengan tenang di puncak tertinggi-Nya.
Yudhi Kurniawan, nama di balik merek produk outdoor Avtech pertama kali mendirikan Avtech pada 1997.
Awal dari memulai bisnis itu ketika dia merasakan kesulitan ketika mencari perlengkapan naik gunung, dan jika ada barangnya impor dan mahal pada tahun tahun 1988-1989 karena produk outdoor masih sedikit.
Tapi dengan segala keterbatasan bahan materi dan tukang jahit berjalan apa adanya. Namun semua didukung orang terdekat bisa tercipta Avtech itu.
Saat itu, dia meyakini, produk peralatan mendaki gunung bisa didapat dengan harga lebih murah jika membuat sendiri.
Yudi kemudian mulai belajar menjahit, terinspirasi dari ibunya.
Dari hasil belajar menjahitnya itu, barang pertama yang dijualnya adalah dompet. Produk ini yang membuatnya ingin mengeksplorasi lebih jauh lagi.
Memulai dengan modal Rp500.000, kini Avtech sudah berdiri lebih dari 25 tahun dan produknya sudah tersebar di banyak toko produk outdoor di seluruh Indonesia.
Yudi semula menyebarkan produknya ke distributor yang ada di sekitar daerah rumahnya. Saat itu, nama Avtech adventure mulai dikenali oleh pasar konsumen.
Bahkan, bisnis Avtech juga dimulai di rumah keluarganya di Sunter Jakarta Utara. Ketika bisnis mulai berkembang rumah tersebut berubah menjadi kantor dan gudang.
Selama lebih dari 15 tahun Sunter dari 1997 hingga 2012 Sunter menjadi kantor utara, kemudian Avtech buka cabang di Setu, dan karena dinilai lebih luas maka Setu Cilangkap Jakarta Timur dijadikan sebagai kantor pusat.
Avtech awalnya diawali dengan nama Adventure, namun saat akan dipatenkan, ternyata nama tersebut sudah dimiliki atau dipakai oleh perusahaan lain.
Oleh sebab itu dia mengubah nama Adventure menjadi Avtech, yaitu singkatan dari Adventure technology.
Dilansir dari channel Youtube Tanah Pictures, yang mengangkat podcast dengan Yudi Kurniawan, dia menceritakan produknya mulai berkembang 5 tahun pertama masa penetrasi pasar.
Tepatnya, tahun 2021 mulai banyak orang yang memakai produk Avtech sehingga bisnisnya makin berkembang.
Semula, Avtech hanya membuat dompet, akhirnya berkembang dengan membuat ransel, tas, jaket, celana dan lainnya untuk memenuhi kebutuhan dari konsumen.
Dia mengatakan ketika bisnisnya mulai maju, justru dirinya sakit terserang stroke saat pandemi covid, dimana setengah badannya tidak berfungsi sehingga berjalannya waktu bisnisnya itu diteruskan oleh adiknya.
“Jadi manajemen terbaru segalanya lebih baik daripada yang saya pegang,” ujarnya dalam podcast tersebut.
Selain stroke menyerang, bisnis Avtech juga terdampak. Kala itu, perusahaannya terpaksa harus memberhentikan 250 tukang jahit, termasuk juga 50 staf. Saat itu Avtech tetap berjalan ala kadarnya.
Kemudian usai diskusi dengan adiknya, mereka memutuskan bisnis diteruskan oleh sang adik yang dianggapnya sukses membuat Avtech bangkit lagi.
Di bawah kelolaan adiknya, manajemen hingga produk Avtech diperbaiki.
Yudi memaparkan beberapa perubahan yang dilakukan Avtech untuk bersaing dengan kompetitor adalah fokus pada bisnis Apparel.
Alasannya, karena pola perilaku belanja pecinta kegiatan outdoor sudah berubah, dimana mereka lebih suka menyewa alat-alat outdoor seperti ransel dan sepatu.
Akhirnya, Avtech beradaptasi fokus pada apparel yang umumnya masih jarang disewakan, dan kebutuhannya juga lebih banyak.
Akhirnya dia memutuskan pensiun dan fokus pada recovery penyakitnya, hingga kabar meninggalnya kemarin.





