Harga Bitcoin (BTC) mulai kembali ke level US$ 70.000 atau setara Rp 1,18 miliar. Bahkan BTC pada pagi hari ini (10/2) sempat menyentuh harga US$ 71.003 atau setara Rp 1,19 miliar (kurs Rp 16.838 per dolar AS) namun level ini masih turun 10,7% dalam sepekan terakhir.
Koin digital lainnya juga menunjukan arah yang positif. Harga Ehtereun (ETH) mencapai level US$ 2.109 per dolar AS atau setara Rp 35,51 juta. Level ETH naik 0,99% dalam 24 jam terakhir namun masih melemah 10,18% dalam tujuh hari terakhir.
Tether (USDT) juga berhasil naik 0,03% dalam 24 jam terakhir di level US$ 0,999 atau setara Rp 16.821. Level USDT juga naik dalam sepekan terakhir hingga 0,02%.
Sementara itu XRP saat ini mencapai US$ 1,44 atau setara Rp 24.247. Level XRP ini naik dalam 24 jam terakhir hingga 0,94% namun masih melemah 11,10% dalam sepekan terakhir.
Mengutip Coin Desk, perusahaan Wall Street, Bernstein, menegaskan kembali target harga akhir tahun Bitcoin bisa mencapai $150.000 atau setara Rp 2,53 miliar. Nili Bitcoin pada hari ini telah naik lebih dari 3% dari titik terendah.
"Apa yang kita alami adalah skenario penurunan Bitcoin terlemah dalam sejarahnya. Mengulangi target harga Bitcoin sebesar US$ 150.000 pada akhir tahun. Waktu, tetap menjadi lingkaran datar pada Bitcoin,” kata Gautam Chhugani dari Bernstein.
Mengutip Trading View, konfisi makro ekonomi saat ini masih akan mempengaruhi pergerakan Bitcoin.
Faktor-faktor makro ekonomi tetap menjadi pendorong utama volatilitas jangka pendek, dengan data Indeks Harga Konsumen AS Januari 2026 diprediksi masih akan dibayangi oleh ketidakpastian kebijakan yang tinggi.
Pasar juga memprediksi The Fed tidak akan menurunkan suku bunga acuan pada FOMC Maret 2025. Hal ini mencerminkan tekanan inflasi yang terus-menerus dan prospek kebijakan yang ketat.
Ketidakpastian seputar penunjukan Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed juga menambah tekanan pada aset berisiko. Imbal hasil obligasi pemerintah yang tinggi dan kondisi keuangan yang ketat terus menekan aset berisiko. Hal ini membuat likuiditas kripto yang lebih rendah dan permintaan Bitcoin lesu.




