jpnn.com, BANDUNG - Operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Antapani Kulon, Kota Bandung, untuk sementara harus berhenti karena dana dari pemerintah pusat yang belum cair.
Informasi tersebut pertama kali terungkap berdasarkan surat edaran yang diterima, yang memuat pemberitahuan pemberhentian sementara operasional SPPG Antapani Kulon per Senin (9/2/2026).
BACA JUGA: Pengawas Gizi sampai Aslap SPPG Wajib Tahu Bahan Baku Sebelum Dimasak & Peralatan Layak
Ketua SPPG Antapani Kulon, Firmansyah Bentang Saputra, pun mengonfirmasi perihal surat edaran pemberhentian sementara operasional SPPG.
"Kalau itu banyak hal, karena ada administrasi (belum selesai)," kata Firmansyah saat ditemui di SPPG Antapani Kulon, Jalan Jakarta Nomor 143, Kota Bandung.
BACA JUGA: Pemda Belum Tahu Sumber Gaji SPPG yang Diangkat jadi PPPK
Firmansyah menuturkan, pihaknya belum bisa mengungkapkan mengapa dana tersebut belum cair. Namun, menurutnya, memang ada perubahan sistem yang membuat pencairan dana tertunda.
Sejak berjalan selama enam bulan, kata dia, belum pernah ada kejadian seperti ini. Ia pun berharap operasional bisa segera berjalan kembali setelah uang untuk belanja makanan bisa cair.
"Mungkin ini karena sebelumnya pakai proposal sekarang diubah jadi sistem top up (penambahan anggaran). Jadi setelah uang realisasinya dicek, baru dikeluarkan untuk disesuaikan," paparnya.
Menurutnya, untuk menyiapkan MBG sebenarnya tidak lama. Asalkan uang itu hari ini cair maka petugas bisa segera membeli barang untuk dipersiapkan dan dimasak nanti malam sebelum disebar pada keesokan harinya.
Sementara masalah uang tersebut diurus oleh pihak yayasan sehingga SPPG hanya fokus pada penyediaan makanan ketika memang sudah ada yang bisa dimasak.
"Kalau kami di bawah kan tahunya harus menjaga (makanan tetap baik) aja. Menjadi dapur ini operasionalnya lancar," ujar Firman.
Dia menyebut SPPG Antapani Kulon setiap hari memasak hingga 3.000 porsi, untuk siswa maupun kebutuhan lansia, ibu hamil hingga menyusuai.
Untuk sekolah jumlahnya mencapai 12 yang mayoritas adalah sekolah Muhammadiyah yang berada di Antapani Kulon.
Jumlah porsi ini kemungkinan juga akan dipangkas karena sekarang jumlah SPPG meningkat di setiap wilayah. Terlebih untuk membuat terlalu banyak MBG di atas 3.000 itu riskan membuat mutu makanan tidak terjaga.
"Kalau terlalu banyak misalnya, susah (dijaga mutunya), bisa kenapa-napa lah. Makanya kami harus pengecekan rutin karena tiap masukin makanan itu kadang kaya derajatnya (suhu masakan) berubah drastis gitu."
"Menurut saya kalau misalkan di atas 3.000 (MBG tiap masak) itu ya untuk kualitas pasti berkurang. Takutnya, yang ditakutkan ya," pungkasnya. (mcr27/jpnn)
Redaktur : Elvi Robiatul
Reporter : Nur Fidhiah Sabrina




