CELEBESMEDIA.ID, Jakarta - Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI), Jusuf Kalla menegaskan bahwa masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat sosial, persatuan umat, serta pemberdayaan masyarakat.
Hal tersebut disampaikannya saat membuka Seminar Nasional dan Focus Group Discussion (FGD) Dialog Publik Masjid Inklusif di Auditorium Kementerian Pekerjaan Umum, Jakarta, Senin (10/2/2026).
Dalam sambutannya, Jusuf Kalla menyampaikan bahwa masjid merupakan bangunan publik terbanyak di Indonesia. Jumlah masjid besar diperkirakan mencapai sekitar 800 ribu unit, dan jika dihitung secara keseluruhan jumlahnya melebihi satu juta bangunan, melampaui jumlah sekolah sebagai fasilitas publik.
“Masjid adalah bangunan publik terbesar di Indonesia. Karena itu, fungsinya tidak boleh semata-mata untuk ibadah, tetapi juga harus mampu memajukan masyarakat dari sisi sosial, pendidikan, hingga ekonomi,” ujar Jusuf Kalla.
Ia menjelaskan, visi DMI adalah memakmurkan dan dimakmurkan masjid, yang berarti masjid tidak hanya dikelola dengan baik, tetapi juga memberi dampak nyata bagi masyarakat di sekitarnya.
Oleh karena itu, desain masjid harus mendukung berbagai fungsi, seperti kegiatan sosial, pendidikan anak usia dini (PAUD), kesehatan, hingga aktivitas ekonomi umat.
Dari sisi arsitektur, Jusuf Kalla menilai tidak ada satu ciri tunggal masjid Indonesia. Menurutnya, arsitektur masjid sangat beragam, dipengaruhi budaya dan karakter daerah masing-masing.
JK juga menekankan bahwa kubah dan menara bukanlah ciri keislaman, melainkan solusi teknis pada masa lalu untuk menciptakan ruang luas dan menyebarkan suara azan.
“Kubah dan menara itu teknologi lama. Secara fungsi sekarang tidak selalu diperlukan, tapi tetap penting sebagai penanda bahwa bangunan tersebut adalah masjid,” jelasnya.
Namun demikian, Jusuf Kalla mengingatkan para arsitek agar tidak hanya mengejar keindahan visual, tetapi juga memperhatikan fungsi utama masjid, khususnya kualitas akustik. Ia menyebut sistem tata suara sebagai salah satu persoalan terbesar di banyak masjid.
“Sekitar 80 persen aktivitas di masjid adalah mendengarkan, baik khutbah, ceramah, maupun pengumuman. Kalau suaranya tidak jelas, maka fungsi masjid tidak berjalan,” tegasnya.
Ia mengkritisi penggunaan material seperti kaca, marmer, dan keramik secara berlebihan karena dapat memantulkan suara dan menurunkan kualitas akustik. Sebaliknya, material seperti kayu, karpet, dan panel akustik dinilai lebih membantu meredam gema suara.
Jusuf Kalla juga menekankan pentingnya melibatkan ahli akustik dan sound engineer sejak tahap perencanaan pembangunan masjid. Menurutnya, banyak persoalan tata suara masjid sebenarnya dapat diperbaiki hanya dengan pengaturan arah dan jarak pengeras suara yang tepat.
Selain itu, ia menyoroti pentingnya desain alur jamaah yang inklusif dan nyaman, mulai dari area parkir, tempat wudu, tempat penyimpanan alas kaki, hingga ruang utama salat.
Menurutnya, masjid yang inklusif adalah masjid yang terbuka untuk semua umat Islam tanpa membedakan latar belakang organisasi, suku, maupun praktik ibadah.
“Masjid tidak mengenal sekat. Tidak ada masjid NU, Muhammadiyah, atau kelompok tertentu. Siapa pun boleh singgah dan beribadah,” ujarnya.
Melalui seminar dan FGD ini, Jusuf Kalla berharap para arsitek dan pemangku kebijakan dapat merancang masjid yang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga fungsional, nyaman, dan benar-benar memakmurkan masyarakat sekitarnya.
“Masjid harus dipahami dari fungsinya, bukan hanya dari luarnya. Dengan begitu, kita bisa membangun masjid yang baik, sesuai kebutuhan ibadah dan kehidupan umat,” pungkasnya.
Sementara itu,acara seminar tersebut merupakan hasil kerja sama Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), Kementerian Pekerjaan Umum, dan Dewan Masjid Indonesia (DMI), yang dihadiri oleh Wakil Menteri Pekerjaan Umum Diana Kusumastuti, pengurus IAI, Wakil Ketua Umum DMI Rudiantara serta Sekjen DMI Rahmat Hidayat.




