Pantau - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, menyatakan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memiliki peran strategis dalam rantai besar perekonomian nasional dan menjadi salah satu instrumen penting menuju transformasi sosial dan ekonomi Indonesia.
MBG Jadi Model Big Push dalam Perekonomian"Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai model big push yang strategis karena berperan sebagai push factor sekaligus pull factor dalam rantai besar perekonomian nasional, dari produsen hingga penerima manfaat," ungkap Rachmat.
Pernyataan tersebut disampaikannya dalam acara penyerahan hasil implementasi Nota Kesepahaman antara Badan Pusat Statistik (BPS) dan Badan Gizi Nasional (BGN) di Jakarta.
Rachmat menjelaskan bahwa setiap negara memiliki pendekatannya masing-masing untuk keluar dari middle income trap, dan Indonesia memilih pendekatan yang menekankan transformasi sosial melalui dorongan besar seperti MBG.
Ia mengutip teori big push dari Paul N. Rosenstein-Rodan yang menekankan perlunya lonjakan besar dalam perekonomian untuk menciptakan perubahan struktural yang berdampak luas.
"Apabila variabel anggaran Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), belanja dapur, serta keterhubungan belanja dengan penerima manfaat dapat terekam oleh BPS, Indonesia akan memiliki data yang kuat untuk menunjukkan terjadinya perubahan sosial yang sangat signifikan," tambahnya.
Integrasi Data dan Kerangka Theory of ChangeDalam kerangka Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029, pemerintah menekankan pentingnya integrasi data untuk pemantauan dan evaluasi Program MBG secara menyeluruh.
BGN diharapkan menyusun sistem informasi digital yang dapat mencatat seluruh transaksi, merekam output program, dan mengukur dampaknya secara kuantitatif dan kualitatif.
Sementara itu, BPS bertugas mengumpulkan dan memverifikasi data hingga tingkat masyarakat untuk memastikan akurasi dan keterpaduan data nasional.
"Kerangka analisis lanjutan berbasis theory of change (ToC) agar pelaksanaan program MBG bisa diukur secara komprehensif dari aspek input, proses, output, hingga outcome," tegas Rachmat.
Langkah strategis lainnya meliputi penguatan mekanisme berbagi-pakai data, pemanfaatan data BPS untuk evaluasi kebijakan, pelaksanaan survei rutin hingga tingkat subnasional, serta integrasi data dari Survei Konsumsi Masyarakat Indonesia (SKMI) dan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI).
"Kita sedang membuat sejarah perubahan sosial dari cita-cita Bung Karno; seratus tahun kemudian kita menciptakan Indonesia Emas, dan program Makan Bergizi Gratis menjadi bagian menuju pencapaian Indonesia Emas 2045," pungkasnya.




