Ketua Dewan Penasehat Kadin Indonesia, Hashim Djojohadikusumo, menyebut Menteri Keuangan Purbaya akan memberi beberapa kemudahan atau insentif untuk industri galangan kapal. Hal ini merupakan dukungan untuk kebangkitan industri galangan kapal nasional.
Kadin Indonesia saat ini sedang memprakarsai agenda untuk revitalisasi atau membangkitkan kembali industri galangan kapal dan pelayaran nasional. Hal ini akan didukung kebijakan kementerian terkait termasuk Kementerian Keuangan.
“Kemudahan berupa apa? Bea masuk bisa jadi 0 persen untuk banyak komponen-komponen, dan untuk kapal-kapal baru yang membeli atau memesan nanti akan dapat insentif dan sebagainya, kemudahan,” kata Hashim usai acara Revitalisasi Galangan Kapal dan Pelayaran Indonesia yang diselenggarakan Kadin di Ayana Midplaza, Jakarta, Selasa (10/2).
Dalam agenda tersebut, bahasan mengenai revitalisasi galangan kapal dan pelayaran Indonesia dilakukan Kadin Indonesia bersama Menkeu Purbaya, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, dan Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti secara tertutup.
Hashim juga melihat industri galangan kapal merupakan industri padat karya. Dengan begitu, hal ini juga akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi Indonesia.
“Kadin Indonesia memprakarsai suatu acara untuk revitalisasi atau membangkitkan kembali industri galangan kapal nasional dan industri pelayaran nasional. Karena kita lihat bahwa ini ada kesempatan agar supaya industri galangan kapal dan pelayaran menjadi salah satu sektor pendongkrak pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.
Selain itu, Hashim juga menjelaskan mengenai skema tenor pinjaman usaha untuk industri kapal ke depan. Menurutnya, hal itu akan dibahas utamanya terkait tenor yang lebih panjang.
“Sudah sampaikan ada skema-skema kalau bisa pinjaman dalam negeri, pinjaman itu kan lebih panjang tenornya. Dari 7 tahun mungkin bisa 15 tahun, 20 tahun, 30 tahun. Nah, ini harus dibahas dengan Danantara, harus dibahas dengan, tadi Menteri Keuangan sudah hadir,” kata Hashim.
Lebih lanjut, Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie menuturkan saat ini untuk mengejar industri kapal yang saat ini sudah ada di Jepang, Korea, dan China memang perlu keberpihakan pemerintah. Ia juga sudah melihat adanya dukungan.
"Ya, tadi sudah didiskusikan panjang lebar bagaimana untuk meningkatkan daya saing kita bertahap. Seperti yang kita lihat bagaimana tentunya Jepang, Korea, China membuat suatu industri yang kuat, dan tentu dibutuhkan keberpihakan,” kata Anindya.
“Tadi terlihat dari Menteri Keuangan yang ingin sekali berpihak kebijakan-kebijakannya, dan juga dari Kementerian Perindustrian untuk membuat roadmap bersama industri,” lanjutnya.
Anindya juga menjelaskan dalam inisiasi ini, nantinya swasta juga bisa menggandeng PT PAL. Namun, ia menggarisbawahi bahwa tetap harus ada ekosistem yang kompetitif dalam persaingan.
“Tadi juga didiskusikan bahwa dengan PT PAL tentu merupakan suatu industri yang besar. Jadi kita ingin bersama-sama gotong royong dan memastikan bahwa ujungnya kompetitif. Untuk itu biaya mesti bersaing dan tidak bisa ada perantara,” ujarnya.
Ia mengakui dari segi teknologi, kini PT PAL memang memiliki teknologi tinggi. Hal ini karena dalam 3-4 tahun belakangan PT PAL sudah bisa membangun beberapa kapal seperti Fregat Merah Putih (FMP) dan kapal tanpa awak. Dari sisi keuangan, saat ini keuangan PT PAL juga sudah membaik.
Purbaya Heran KKP Minta Anggaran Kapal, tapi Industri Dalam Negeri Belum Dapat OrderSementara itu, Purbaya mengaku kaget anggaran pengadaan kapal untuk Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tak dirasakan oleh industri galangan kapal dalam negeri. Ini dikarenakan belum ada order yang masuk ke industri dalam negeri.
Meski demikian, Purbaya mengaku sudah mengucurkan anggaran pengadaan kapal untuk KKP.
“Kan, aneh enggak masuk akal, uangnya gue keluarin, ordernya enggak ada. Ini apa-apaan? Ini mungkin Kadin kurang aktif apa gimana nih?” kata Purbaya.
“Kenapa KKP belum ada order? Belum ada order ke sana, kan, kita mendorong pertumbuhan ekonomi. Uangnya sudah saya anggarin, rugi saya, Pak,” lanjutnya.
Selain itu, Purbaya menilai industri galangan kapal dalam negeri hanya bisa maju jika sisi permintaan domestik sudah diamankan. Potensi dalam negeri juga cukup besar menurutnya. Meski demikian, ia memperkirakan hanya ada sedikit dari potensi tersebut yang akan masuk ke industri galangan kapal dalam negeri.
“Industri kita maju, demand domestik harus diamankan. Tadi bilang ada 2.491 kapal lebih dari 25 tahun umurnya, itu, kan, pasti akan diganti, berapa yang nyangkut ke (industri) domestik? Kalau saya lihat kondisi galangan kapal domestik, mungkin satu per seratusnya, mungkin lebih sedikit lagi,” ujar Purbaya.
Menurut Purbaya, alasan mengapa hanya ada sedikit potensi yang bisa diserap industri galangan kapal dalam negeri adalah karena kapal yang mahal. Namun, Purbaya siap memberi dukungan kebijakan agar kapal dari industri dalam negeri bisa lebih murah nantinya.
“Alasannya harganya mahal, bahan bakunya mahal, dipajakin segala macam, kan, bisa datang ke saya kalau itu, saya turunin aja, kalau perlu saya subsidi,” kata Purbaya.





