Dari Ancaman ke Dialog: Babak Baru Diplomasi AS–Iran di Oman

kumparan.com
7 jam lalu
Cover Berita

Publik dunia menjadi lega, seperti dilaporkan The New York Times dalam artikel berjudul “Trump Reverts to Diplomacy With Iran, but the Road Is Narrow” oleh Steven Erlanger, 7 Februari 2026. Laporan tersebut menyebut pembicaraan Amerika Serikat dan Iran di Oman, sebelumnya sempat direncanakan di Istanbul, tidak berakhir dengan ketegangan ataupun serangan militer, serta membuka peluang lanjutan dialog dalam kerangka yang oleh Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi disebut sebagai “framework for future talks”.

Kelegaan ini muncul karena eskalasi sebelumnya dinilai berada di titik berbahaya. Pengerahan kekuatan militer AS di kawasan Teluk, ditambah kecemasan Israel atas kemampuan strategis Iran, sempat menimbulkan kekhawatiran bahwa diplomasi akan runtuh sebelum benar-benar dimulai. Oman, seperti dalam sejumlah episode sebelumnya, kembali memainkan peran sebagai mediator yang relatif diterima kedua pihak.

Namun, kelegaan ini tidak serta-merta berarti optimisme penuh. Sejarah panjang hubungan AS–Iran memperlihatkan bahwa setiap putaran perundingan hampir selalu berada di antara harapan dan kecurigaan. Dialog kali ini pun lebih tepat dibaca sebagai jeda strategis daripada terobosan besar.

Strategi Menunda sebagai Modal Tawar

Iran dikenal piawai menggunakan strategi klasik dalam diplomasi nuklir: memperpanjang negosiasi sambil menjaga posisi tawar tetap kuat. Dengan terus berada di meja perundingan, Teheran mengirim pesan bahwa ia terbuka terhadap kompromi, namun pada saat yang sama menghindari keputusan final yang dapat membatasi ruang manuvernya.

Pendekatan ini memberi beberapa keuntungan. Pertama, Iran dapat meredam tekanan internasional dan menghindari sanksi baru dalam jangka pendek. Kedua, waktu yang tercipta dari proses negosiasi memungkinkan konsolidasi internal dan penguatan kapasitas teknologi, baik dalam sektor energi nuklir maupun pertahanan.

Dalam perspektif teori coercive diplomacy yang dikemukakan oleh Alexander L. George, sebuah negara dapat memadukan ancaman terbatas dengan tawaran negosiasi untuk memengaruhi lawan tanpa harus masuk ke konflik terbuka. Iran memanfaatkan celah ini dengan baik: cukup kooperatif untuk mencegah serangan, tetapi cukup tegas untuk menjaga kepentingan strategisnya.

Bagi Teheran, hasil yang menguntungkan bukan semata kesepakatan tertulis, melainkan terjaganya status quo yang memberi ruang bernapas ekonomi dan politik. Selama dialog berjalan, risiko isolasi total dapat ditekan.

Kekhawatiran Israel dan Amerika Serikat

Dari sudut pandang Washington dan Tel Aviv, isu nuklir bukan satu-satunya sumber kecemasan. Kemajuan program rudal balistik Iran dipandang sama berbahayanya, karena berkaitan langsung dengan kemampuan proyeksi kekuatan regional.

Ahli hubungan internasional Kenneth Waltz, melalui kerangka structural realism, menekankan bahwa negara akan terus berupaya meningkatkan kapabilitas militernya untuk menjamin kelangsungan hidup dalam sistem internasional yang anarkis. Dalam konteks ini, pengembangan rudal Iran dapat dipahami sebagai upaya rasional untuk memperkuat posisi tawar, tetapi sekaligus memicu rasa tidak aman di pihak lawan.

Bagi Israel, rudal balistik berjangkauan jauh dianggap sebagai ancaman eksistensial. Bagi AS, perkembangan tersebut berpotensi mengganggu keseimbangan kekuatan di Timur Tengah dan memperbesar risiko konflik yang melibatkan sekutu-sekutunya.

Kekhawatiran inilah yang membuat AS cenderung memandang negosiasi bukan sekadar soal pembatasan pengayaan uranium, melainkan juga soal arsitektur keamanan regional yang lebih luas.

Kesepakatan yang Menguji Kesabaran

Setiap kesepakatan antara AS dan Iran hampir pasti akan menguji kesabaran karena perbedaan mendasar kedua pihak masih sangat besar. Iran menuntut pengakuan atas haknya mengembangkan teknologi nuklir sipil dan pencabutan sanksi yang signifikan. Sementara itu, AS menginginkan pembatasan ketat dan mekanisme verifikasi yang agresif.

Tarik-menarik ini menjadikan proses diplomasi berjalan lambat dan berlapis. Tidak ada pihak yang ingin terlihat mengalah, terutama di tengah tekanan politik domestik masing-masing.

Dalam jangka panjang, masa depan geopolitik kawasan sangat bergantung pada apakah dialog ini mampu bertransformasi menjadi kesepakatan yang stabil. Jika berhasil, Timur Tengah berpeluang memasuki fase de-eskalasi terbatas. Jika gagal, siklus ketegangan lama berpotensi kembali dengan intensitas lebih tinggi.

Oman, dalam konteks ini, bukan sekadar lokasi pertemuan, melainkan simbol bahwa diplomasi masih memiliki ruang, meski sempit. Jalan menuju kesepakatan mungkin panjang dan berliku, tetapi fakta bahwa pembicaraan berlangsung tanpa ledakan konflik memberi sinyal bahwa rasionalitas masih bekerja di tengah rivalitas keras kawasan.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
OJK Dorong Konsep Indonesia Incorporated Demi Geber Penyaluran Kredit
• 12 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Viral Guru di Sumedang Digaji Rp 50 Ribu, Disdik Beri Penjelasan
• 20 jam laludetik.com
thumb
PSN Merauke Beri Dampak Ekonomi Bagi Warga Sekita
• 19 jam lalutvonenews.com
thumb
Dugaan Pencurian Ipad di Bandara Soekarno Hatta Berujung Damai, Kok Bisa?
• 7 jam laludisway.id
thumb
Menhan Sjafrie: TNI Harus Revitalisasi Kekuatan Pertahanan
• 1 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.