Grid.ID - Penyanyi sekaligus content creator, Meisita Lomania, mengungkapkan trauma mendalam yang pernah ia alami dalam hidupnya. Meski telah memaafkan semua yang terjadi, ia mengakui bahwa melupakan sepenuhnya bukanlah hal yang mudah.
Meisita menyebut trauma adalah luka batin yang proses penyembuhannya tidak sederhana. Ia menegaskan bahwa memaafkan dan melupakan adalah dua hal yang sangat berbeda.
“Trauma itu tuh sebenarnya dibilang sembuh tuh susah ya, kita bisa memaafkan tapi kita tidak bisa melupakan dan tidak punya rasa percaya lagi, itu yang susah,” ujarnya dikutip dari Rumpi Trans TV pada Selasa (10/2/2026).
Trauma yang dialami Meisita bahkan berdampak pada kondisi fisiknya hingga sekarang. Ia mengungkapkan bahwa rasa sakit di bagian tubuh tertentu menjadi pengingat atas masa lalu yang pahit.
“Gara-gara ini (Pundak) sering sakit aku jadi agak bungkuk gini, itu gara-gara dulu beberapa kali ngelamin pelecehan seksual sampai hampir mau di rudapaksa gitu,” katanya.
Ia mengungkapkan bahwa peristiwa tersebut terjadi saat dirinya masih duduk di bangku sekolah. Pengalaman itu berlangsung dalam rentang waktu yang berbeda.
“Itu sempat dua kali waktu SD sama SMP. Ada satu yang sampai sekarang aku belum ingat, jadi kareana terlalu potongan-potongan kayak ada di suatu tempat sempit gitu terus posisi yang sudah tidak menyenangkan itu terjadi atau enggaknya aku enggak ingat. Tapi ada suara apa yang akhirnya menghentikan kegiatan itu,“ ungkapnya. Ingatan yang terputus-putus itu menjadi bagian dari trauma yang sulit ia pahami sepenuhnya.
Trauma lama tersebut kembali muncul ketika Meisita terpapar informasi tentang kasus pelecehan. Ia menyebut ada pemicu yang membuat ingatan lama itu perlahan kembali.
"Yang ngetrigger itu kan sekarang lagi ramai Epstein files, itu mulai keinget orangnya akhirnya selama 30 tahun aku enggak inget orangnya siapa. Dan gara-gara aku ngeliat (Epstein Files) disitu ketigger aku ingat orangnya siapa, dan orangnya sudah meninggal,“ tuturnya.
Ketika ingatan itu muncul kembali, wanita kelahiran tahun 1989 ini merasakan reaksi tubuh yang tidak bisa ia kendalikan. Ia mengaku mengalami respons fisik yang cukup ekstrem.
“Aku sempat tangggan tuh gemetar tapi enggak bisa dikontrol. Aku enggak tau kenapa gak bisa ngapa-ngapain karena keputar gitu aja,“ ucapnya.
Ia juga mengingat pengalaman lain yang terjadi saat masih kecil. Meski berat, kejadian itu tidak sedahsyat trauma yang kembali muncul belakangan ini.
"Dulu pernah waktu SD itu sama empat orang mau di rudapaksa. Tapi itu karena ingat jadi gak terlalu gimana, tapi yang terakhir ini bener-bener bikin aku shaking karena itu muncul lagi. Karena aku ingat mukanya, ingat kenapa berhentinya, ingat aku diapain aja, lokasinya tiba-tiba aku ingat semua,“ tuturnya. Ingatan yang muncul secara utuh membuat dampak emosionalnya jauh lebih kuat.
Dari pengalaman tersebut, Meisita menekankan pentingnya komunikasi antara anak dan orang tua. Ia menilai keterbukaan menjadi kunci untuk mencegah trauma berlarut-larut.
"Ternyata penting banget untuk anak kecil dibiasakan untuk lebih terbuka sama orang tuanya. Kalau aku kan mungkin basicnya broken home ya jadi aku agak kurang terbuka mengkomunikasikan itu dan terjadi di lingkungan sekolah,“ ujarnya.
Meski trauma masih membekas, wanita berusia 36 tahun ini mengaku telah banyak belajar dari perjalanan hidupnya. Ia berusaha membangun cara pandang baru untuk bertahan.
"Untungnya aku udah belajar banyak ngelamin trauma, jadi aku selalu nanemin diri aku kalau mislanya orang banyak bilang ‘hidup itu cuman sekali‘ aku gak bisa terima itu. Buat aku yang sekali itu mati, hidup itu berkali-kali jadi setiap hari tuh buka lembaran, aku lupain semuanya,“ tutupnya. (*)
Artikel Asli




