GenPI.co - Inovator teknologi Elon Musk kembali berambisi mengubah industri global. Kali ini dia berencana menempatkan pusat data kecerdasan buatan (AI) di luar angkasa.
Musk ingin menempatkan hingga satu juta satelit di orbit Bumi untuk membentuk pusat data bertenaga surya raksasa.
Hal itu memungkinkan penggunaan AI dan chatbot dalam skala jauh lebih besar tanpa membebani jaringan listrik di Bumi atau memicu lonjakan tagihan energi.
"AI berbasis ruang angkasa jelas merupakan satu-satunya cara untuk meningkatkan skala. Di luar angkasa selalu cerah," ujar Musk, dilansir AP News, Senin (9/2).
Meski demikian, pakar memperingatkan bahwa proyek ini menghadapi rintangan teknis, finansial, dan lingkungan yang sangat besar.
Mengoperasikan pusat data di luar angkasa memang bisa mengurangi tekanan pada jaringan listrik dan menekan kebutuhan pusat komputasi di Bumi yang memakan lahan serta air dalam jumlah besar.
Namun, ruang angkasa memiliki tantangan tersendiri.
Pusat data menghasilkan suhu sangat tinggi. Meski ruang angkasa dikenal dingin, kondisi hampa udara justru bisa menjebak panas, mirip termos yang menjaga suhu minuman.
"Chip komputer tanpa pendingin di luar angkasa akan memanas dan meleleh jauh lebih cepat dibandingkan di Bumi," kata pakar teknik komputer dan elektro di Northeastern University Josep Jornet.
Selain itu, risiko sampah antariksa juga menjadi kendala.
Satu satelit rusak atau kehilangan orbit bisa memicu rangkaian tabrakan berbahaya.
"Kita bisa mencapai titik kritis di mana kemungkinan tabrakan menjadi terlalu besar," kata mantan insinyur NASA John Crassidis.
Dengan kecepatan sekitar 17.500 mil per jam, tabrakan antarsatelit bisa berdampak sangat destruktif.
Selain tabrakan, risiko kegagalan perangkat juga tinggi. Chip grafis (GPU) khusus AI bisa rusak dan sulit diganti.
"Di Bumi, kita cukup mengirim teknisi ke pusat data. Di orbit, hal ini tidak mungkin," kata CEO Aetherflux Baiju Bhatt. (*)
Video viral hari ini:




