Penulis: Christhoper Natanael Raja
TVRINews, Semarang
Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana mengapresiasi sekaligus mendorong Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) untuk terus konsisten menjalankan praktik pengelolaan sampah secara mandiri.
Langkah tersebut dinilai menjadi pilar penting dalam mewujudkan pariwisata Indonesia yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Hal itu disampaikan Menpar Widiyanti saat menghadiri Rapat Kerja Nasional I PHRI 2026 di PO Hotel Semarang, Jawa Tengah, Selasa, 10 Februari 2026. Ia menegaskan bahwa persoalan sampah saat ini berada dalam kondisi krusial dan menjadi perhatian serius pemerintah.
Menurut Widiyanti, keberhasilan agenda nasional penanganan sampah sangat ditentukan oleh penguatan kesadaran bersama serta langkah nyata di tingkat pelaku usaha, termasuk sektor perhotelan dan restoran.
“Hal ini tercermin dari berbagai langkah tambahan untuk meningkatkan kesadaran serta penguatan pengelolaan sampah mandiri. Presiden Prabowo Subianto juga telah menginisiasi Gerakan Indonesia ASRI,” ujar Widiyanti dalam keterangan tertulis yang diterima oleh tvrinews.com, Selasa, 10 Februari 2026.
Di tingkat Kabinet Merah Putih, kementerian dan lembaga terus menggulirkan berbagai inisiatif masif untuk mempercepat penyelesaian persoalan sampah.
Selain menjalin kerja sama dengan mitra internasional, pemerintah juga mengembangkan program waste-to-energy sebagai alternatif pembangunan infrastruktur pengelolaan sampah yang lebih modern dan terintegrasi.
Menpar menilai praktik pengelolaan sampah mandiri oleh hotel dan restoran akan memberikan kontribusi konkret terhadap agenda nasional, sekaligus memperkuat citra destinasi pariwisata yang bersih dan berdaya saing.
Upaya tersebut tidak hanya berdampak pada kualitas lingkungan, tetapi juga meningkatkan kepercayaan wisatawan terhadap komitmen Indonesia dalam menjaga keberlanjutan.
Selama ini, PHRI disebut sebagai mitra strategis pemerintah dalam menjaga kualitas layanan dan memperkuat daya saing pariwisata nasional. Kolaborasi yang telah terjalin diharapkan semakin solid, termasuk dalam merespons tantangan lingkungan yang kian kompleks.
“Kami mengimbau pengusaha perhotelan dan restoran untuk menerapkan serta melanjutkan pengelolaan sampah mandiri, sebagaimana surat dari Menteri Lingkungan Hidup yang dipertegas melalui surat Deputi Bidang Investasi dan Industri Kementerian Pariwisata,” kata Widiyanti.
Selain isu lingkungan, Widiyanti juga memaparkan perubahan lanskap pariwisata pada 2026. Preferensi wisatawan semakin mengarah pada kepedulian terhadap lingkungan, kesehatan dan kebugaran, serta pencarian pengalaman yang bermakna dan imersif dengan layanan yang personal.
Ia turut mengungkapkan kinerja pariwisata sepanjang 2025 yang tetap menunjukkan fondasi solid di tengah dinamika ekonomi.
Tingkat okupansi hotel terendah terjadi pada Maret 2025 sebesar 33,56 persen, turun 9,85 poin persentase dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kondisi ini dipengaruhi perubahan pola belanja pemerintah dan masyarakat, serta pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 4,87 persen.
Meski demikian, industri perhotelan dinilai mampu bangkit secara bertahap. Okupansi hotel meningkat konsisten hingga mencapai 56,12 persen pada Desember 2025, menjadi capaian tertinggi sepanjang tahun.
Editor: Redaktur TVRINews





