Tahun Kuda Api Merah (Bing Wu) 2026 dan Kambing Api Merah (Ding Wei) 2027  : Peristiwa 60 Tahun Sekali — Benarkah Ada Bencana Kuda Merah dan Kambing Merah?

erabaru.net
5 jam lalu
Cover Berita

Penulis: Ren Shuyi

Menurut kalender lunar, tahun Bing Wu 2026 hingga Ding Wei 2027 dikenal sebagai “Tahun Kuda Api atau Kuda Merah dan Kambing Api atau Kambing Merah”, yang mana konon hanya terjadi sekali dalam 60 tahun. 

Dalam tradisi ilmu takdir, kitab ramalan kuno, serta nubuat rakyat, beredar anggapan bahwa “Tahun Kuda Merah dan Kambing Merah” akan membawa bencana besar yang bersifat epochal. 

Dari mana asal-usul istilah “Bencana Kuda Merah dan Kambing Merah” ini? Apakah benar ada bukti nyata tentang “satu bencana besar setiap 60 tahun”?

Makna “Tahun Kuda Merah dan Kambing Merah”

Pertama-tama, apa sebenarnya yang dimaksud dengan “Tahun Kuda Merah dan Kambing Merah” dalam sistem penanggalan Gan-Zhi Tiongkok?

Yang dimaksud adalah tahun Bing Wu (丙午) dan tahun Ding Wei (丁未), dengan shio masing-masing Kuda dan Kambing.

Dalam sepuluh batang langit (Tian Gan), Bing melambangkan api Yang yang merah, panas, dan dahsyat. Ketika tahun Bing bertemu cabang bumi Wu (Kuda)—yang juga berelemen api—terjadi kondisi api di atas api, sehingga disebut Tahun Kuda Merah, membentuk medan energi ledakan dan transformasi besar.

Sementara itu, Ding melambangkan api Yin yang lebih lembut namun mudah dipengaruhi lingkungan. Ketika Ding bertemu cabang bumi Wei (Kambing) yang berelemen tanah, terbentuk Tahun Kambing Merah, dengan kondisi api kuat dan tanah kering, menciptakan medan energi hambatan, tarik-menarik, ujian, serta perubahan.

Dalam satu siklus enam puluh tahun (satu Jiazi) kalender Gan-Zhi, “Tahun Kuda Merah dan Kambing Merah” pasti muncul sekali. Jika demikian, dalam ribuan tahun pergantian dinasti, jumlah kemunculannya tentu tidak sedikit. Apakah benar setiap kali selalu terjadi “bencana Kuda Merah dan Kambing Merah”?

Ilustrasi (Gemini AI) Asal-usul Istilah “Bencana Kuda Merah dan Kambing Merah”

Pada akhir Dinasti Song Utara, pada masa pemerintahan Kaisar Huizong (era Zhenghe), terjadi bencana di dalam istana. Kaisar memerintahkan pemanggilan Zhang Jixian, seorang Taois tingkat tinggi dari aliran Tianshi Dao, untuk mengadakan ritual penolak bala.

Saat itu, Zhang Jixian secara rahasia melaporkan kepada kaisar adanya “malapetaka Kambing Merah dan Kuda Merah”, yang merujuk pada peristiwa besar yang kelak dikenal sebagai “Bencana Jingkang”.

Pada akhir Dinasti Song Selatan, seorang pejabat setia bernama Chai Wang (1212–1280) melakukan kajian mendalam terhadap berbagai bencana yang terjadi pada tahun Bingwu dan Dingwei. Chai Wang, nama kehormatan Zhongshan, bergelar Qiutang dan Guitian, setelah runtuhnya Dinasti Song ia menyebut dirinya “pejabat sisa Dinasti Song”.

Ia berasal dari rakyat biasa; leluhur ketujuhnya adalah seorang sarjana terpuji dari Quzhou. Pada masa Kaisar Lizong (era Jiaxi), ia mendapat izin khusus mengikuti ujian negara dan diangkat dalam administrasi pusat.

Pada hari pertama tahun Bingwu, tahun keenam era Chunyou, terjadi gerhana matahari. Dalam budaya Tiongkok kuno, gerhana matahari selalu dianggap sebagai pertanda langit akan datangnya bencana bagi raja dan negara. Peristiwa gerhana yang bertepatan dengan Tahun Baru ini membuat Chai Wang sangat gelisah akan masa depan negara.

Ia lalu menelusuri berbagai catatan sejarah, menyusun karya “Bing Ding Guijian” (Cermin Penyu Bing-Ding) dalam sepuluh jilid, dan menyerahkannya kepada kaisar pada pertengahan bulan tersebut. Dalam memorialnya ia menulis:

“Sepanjang sejarah, masa damai selalu lebih sedikit dibanding masa kekacauan; sekalipun raja bijaksana dan pejabat setia, kereta di depan terbalik, kereta di belakang hendaknya mengambil pelajaran.”

Dari sini tampak bahwa tujuan buku ini mirip dengan “Zizhi Tongjian” karya Sima Guang. Karya “Bing Ding Guijian” kemudian dimasukkan ke dalam Siku Quanshu pada Dinasti Qing.

Dalam buku tersebut, Chai Wang merangkum fenomena sejarah yang disebut “malapetaka Bing-Ding” (yakni Bencana Kuda Merah dan Kambing Merah), dengan harapan agar kaisar menjadikannya pelajaran dari sejarah.

Contoh Nyata: Bencana Jingkang

Pelajaran terbesar yang dihadapi Dinasti Song Selatan adalah kehancuran Dinasti Song Utara dalam “Bencana Jingkang”, yang memang terjadi pada Tahun Kuda Merah dan Kambing Merah.

Ini adalah bencana kehancuran negara yang “tak sanggup diucapkan para pejabat, dan tak sanggup didengar para kaisar.”

Pada tahun Jingkang pertama hingga kedua (1126–1127), pasukan Jin menyerbu. Pada hari pertama bulan keempat tahun Jingkang kedua, Kaisar Qinzong dan Huizong, beserta permaisuri, putra mahkota, dan rombongan istana ditawan dan dibawa ke utara.

Pejabat istana, selir, kasim, pengrajin, seniman, hingga seluruh harta, emas, buku, dan arsip kerajaan dijarah habis. Runtuhnya Dinasti Song Utara merupakan contoh klasik Bencana Kuda Merah dan Kambing Merah, yang oleh Chai Wang disebut sebagai “malapetaka Bing-Ding.”

Apakah “Bencana Kuda Merah dan Kambing Merah” Terbukti?

Apakah malapetaka Bing-Ding hanya terbatas pada Bencana Jingkang?

Chai Wang melakukan kajian sejarah yang sangat ketat. Ia pertama-tama menelusuri catatan resmi, namun tidak menemukan penjelasan sistematis. Maka ia menelusuri berbagai sumber sejarah, dan menemukan bahwa sejak Zaman Negara-Negara Berperang hingga Dinasti Qin, Han, sampai Lima Dinasti—dari tahun ke-52 pemerintahan Raja Zhaoxiang Qin hingga tahun ke-12 Tianfu Dinasti Han Akhir (255 SM–947 M)—terdapat 21 kali peristiwa yang terjadi pada tahun Bingwu dan Dingwei.

Dalam setiap periode tersebut, bencana dan perubahan besar tak terhitung jumlahnya, dan masing-masing selalu disertai peristiwa sejarah besar: kekacauan politik, invasi asing, bencana besar, reformasi sosial, hingga runtuhnya dinasti.

Temuan berbasis sejarah inilah yang menjadi dasar nyata bagi konsep Bencana Kuda Merah dan Kambing Merah, bukan sekadar legenda rakyat.

Bagaimana Menghadapi Bencana Bing-Ding?

Dalam “Bing Ding Guijian”, Chai Wang tidak hanya membahas penyebab perubahan, tetapi lebih menekankan cara meredam dan mengatasinya. Ia menyimpulkan:

“Mencari kehendak langit di langit, tidak sebaik mencarinya dalam diri sendiri; mencari takdir lewat hitungan, tidak sebaik mencarinya lewat prinsip.”

Ketika menghadapi bencana alam dan malapetaka buatan manusia, bagaimana cara melewati ujian tersebut? Jawabannya adalah selaras dengan hukum langit dan introspeksi diri.

Ia menegaskan bahwa perubahan jalan langit berakar pada perubahan perilaku manusia. Jika ingin mengatasi kesulitan dengan ramalan dan perhitungan semata tanpa memperbaiki moral dan tindakan, maka hasilnya tetap sia-sia.

Sebagaimana diingatkan Laozi dalam Dao De Jing: “Jalan Langit tidak berpihak, tetapi selalu bersama orang yang berbuat baik.”

Sumber: Bing Ding Guijian, Sejarah Dinasti Song, Kunxue Jiwen, Xuan Pin Lu, Siku Quanshu Tiyao

 Editor : Li Mei


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kendaraan Salju Canggih Buatan China Berhasil Tempuh 10.000 Km di Antarktika Tanpa Gagal
• 15 jam lalupantau.com
thumb
Pria di Palopo Tewas Usai Jatuh dari Jembatan Gantung Kayu yang Rapuh
• 10 jam laludetik.com
thumb
Top Skor Proliga 2026 Jelang Seri Bojonegoro: Megawati Hangestri Masih Jadi Satu-satunya Pemain Indonesia yang Tembus 10 Besar
• 4 jam lalutvonenews.com
thumb
Pemkab Bandung Anggarkan Hingga Rp300 Miliar untuk Pembangunan Jalan, Gandeng TNI dalam Program TMMD 2026
• 14 jam lalupantau.com
thumb
RI Akan Pimpin KTT D-8, Ini Prioritas Ekonomi yang Jadi Fokus
• 5 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.