Bisnis.com, JAKARTA — Holding BUMN Industri Pertahanan Defend ID menyiapkan anggaran investasi strategis sebesar Rp3,14 triliun dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2026.
Dana tersebut diarahkan untuk memperkuat struktur industri hulu serta mengurangi ketergantungan impor komponen kritis alat utama sistem persenjataan (alutsista).
Berdasarkan struktur anggaran, Defend ID mengalokasikan Rp2,67 triliun atau sekitar 84,9% dari total investasi untuk kategori pengembangan. Sementara itu, investasi pemeliharaan tercatat sebesar Rp474 miliar. Komposisi tersebut mencerminkan fokus holding yang lebih agresif dalam penguasaan teknologi dan peningkatan kapasitas produksi.
Direktur Utama Holding Defend ID Yoga Dharma Setiawan menjelaskan sumber pendanaan investasi berasal dari kombinasi dana internal dan dukungan negara.
“Sumber pendanaan dari non-PMN mendominasi sebesar 67,7% atau Rp2,13 triliun, sementara dukungan melalui Penyertaan Modal Negara (PMN) berkontribusi sebesar 32,3% atau Rp1,01 triliun,” ujarnya dilansir dari YouTube TV Parlemen, Rabu (11/2/2026).
Dari sisi distribusi, PT Pindad memperoleh alokasi terbesar yakni Rp1,11 triliun. Anggaran tersebut digunakan untuk memperkuat lini produksi kendaraan tempur (ranpur), munisi, serta proyek strategis fasilitas Propelan Merah Putih.
Baca Juga
- Defend ID Berangkatkan 1.250 Pemudik Asal Jabar ke Kampung Halaman
PTDI menyerap Rp608,1 miliar untuk pengembangan fasilitas dan peningkatan kapasitas produksi pesawat N219 serta CN235.
Adapun PT Dahana memperoleh Rp558,2 miliar untuk pembangunan pabrik bahan peledak dan operasional on-site plant. Sementara itu, PT PAL Indonesia dan PT Len Industri masing-masing mengelola anggaran investasi sebesar Rp507,2 miliar dan Rp358,9 miliar guna mendukung penguatan infrastruktur produksi kapal selam serta industri radar nasional.
DPR Soroti Struktur Utang dan TKDNMeski postur investasi dinilai progresif, sejumlah anggota dewan memberikan catatan kritis, terutama terkait struktur pembiayaan dan tingkat komponen dalam negeri (TKDN).
Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PKS Nevi Zuairina menyoroti tingginya beban utang berbunga yang berpotensi menekan profitabilitas perusahaan.
“Beban utang yang tinggi menjadi tantangan utama yang bisa menggerus laba bersih. Sejauh mana Defend ID membutuhkan skema pembiayaan khusus agar harga jual produk tetap kompetitif?” ujarnya.
Berdasarkan audit 2025, Defend ID mencatat utang berbunga sebesar Rp14,89 triliun dengan rasio debt to equity (DER) mencapai 3,41 kali.
Senada, anggota Komisi VI DPR RI Mufti Anam meminta transparansi penggunaan anggaran untuk peningkatan TKDN pada produk unggulan seperti Maung dan Garuda. Dia menekankan agar investasi tersebut tidak sekadar digunakan untuk merakit komponen impor, melainkan benar-benar mendorong kemandirian industri nasional.
Di tengah berbagai catatan tersebut, Defend ID tetap optimistis terhadap prospek kinerja keuangan tahun depan. Holding menargetkan laba bersih konsolidasian sebesar Rp1,55 triliun pada 2026, meningkat signifikan dibandingkan realisasi laba 2025 sebesar Rp667,8 miliar.
“Investasi strategis ini diharapkan dapat memacu laba bersih konsolidasian hingga mencapai Rp1,55 triliun pada 2026,” kata Yoga.
Syifa Anindya




