EtIndonesia. Apakah kita sedang ditempatkan di posisi yang salah? Jika kita berada di posisi yang tepat, kita akan tampil sebagai “jenius” yang penuh percaya diri. Namun jika berada di posisi yang keliru, kita akan dicap sebagai “orang bodoh” yang tak becus apa-apa.
Padahal, dalam hidup sebenarnya tidak ada yang benar-benar mutlak benar atau salah. Begitu pula manusia—tidak ada pembagian mutlak antara “jenius” dan “orang bodoh”.
Kesadaran inilah yang kini perlahan menjadi kesepakatan sosial, seiring semakin banyak orang mengenal dan menyadari jati dirinya.
Huang adalah seorang lulusan baru dari fakultas bisnis—talenta muda yang penuh ambisi. Dia masuk ke sebuah perusahaan swasta dan bekerja di bidang hubungan masyarakat (public relations). Namun setelah beberapa tahun bekerja, orang-orang menilai dia memiliki satu kekurangan besar: dia terlalu sensitif.
Karena terlalu sensitif, satu kalimat yang dilontarkan orang lain tanpa maksud apa pun, bisa membuatnya menderita berjam-jam lamanya.
Sifat kepribadian ini membuatnya merasa sangat tersiksa dan putus asa dalam pekerjaannya sebagai staf PR.
Suatu hari Minggu, sebagai seorang Kristen, dia datang ke gereja dengan hati yang penuh beban dan mencurahkan semua keluh kesahnya kepada pendeta.
Tiba-tiba sang pendeta mendapat inspirasi dan berkata, “Saudari Huang, melihat betapa peka dan telitinya dirimu terhadap hal-hal kecil, mengapa tidak mencoba beralih ke bidang akuntansi saja? Jangan lagi bekerja di PR. Cobalah mengelola pembukuan.”
Nona Huang merenung dan merasa saran itu masuk akal. Sebagai lulusan bisnis, dia pun meluangkan beberapa bulan untuk mengulang kembali ilmu keuangan yang pernah dipelajarinya. Beberapa bulan kemudian, dia mengajukan permohonan pindah ke bagian akuntansi.
Hasilnya sungguh di luar dugaan.
Sifat “terlalu sensitif” yang dulu dianggap sebagai kekurangan, justru membuatnya berkembang pesat di bagian akuntansi. Tidak ada lagi rekan kerja yang menganggapnya tidak kompeten. Sebaliknya, atasannya justru memuji dia sebagai sosok yang sangat teliti dan langka.
Benar saja—sensitif, jika ditempatkan di posisi yang tepat, akan berubah menjadi ketelitian.
Begitu pula dengan sifat-sifat lainnya:
- Orang yang terburu-buru, jika ditempatkan dengan tepat, akan menjadi cekatan dan proaktif.
– Orang yang pendiam dan kaku, jika ditempatkan dengan tepat, bisa menjadi tulus dan dapat dipercaya.
Ada sebuah ungkapan yang mengatakan: “Jenius adalah orang yang ditempatkan di posisi yang tepat.”
Di dunia ini tidak ada orang bodoh, tidak ada orang tak berguna—yang ada hanyalah orang-orang yang berada di posisi yang keliru.
Segala sesuatu memiliki dua sisi. Kekurangan seseorang, jika dilihat dari sudut lain, justru adalah kelebihan dan ciri khasnya. Selama kita mampu menempatkan diri di posisi yang tepat dan memanfaatkan karakter kita dengan bijak, kita pun bisa hidup dan bekerja dengan nyaman—seperti ikan yang kembali ke air.
Hikmah Cerita
Ada pepatah yang berkata: “Jika ingin melakukan pekerjaan dengan baik, peralatan harus tepat.”
Manusia pun sama. Hanya dengan berada di posisi yang tepat, potensi diri bisa benar-benar berkembang. Jika salah posisi, bahkan orang berbakat pun bisa dianggap tak berguna.
Orang yang benar-benar cerdas adalah mereka yang mampu mencari ruang hidup dan ruang kerja yang paling sesuai dengan dirinya. Sementara mereka yang pasif hanya menunggu ditempatkan oleh orang lain—jika beruntung, hidupnya lancar; jika tidak, dia akan menjalani hidup biasa-biasa saja tanpa pernah bersinar. (jhn/yn)





