Bonnie Triyana Soroti Gaji Dosen Rendah, 43 Persen di Bawah Rp3 Juta

jpnn.com
6 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com, JAKARTA - Anggota Komisi X DPR RI Bonnie Triyana menyoroti persoalan kesejahteraan dosen dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama rektor perguruan tinggi negeri dan swasta. Bonnie menyebut mayoritas dosen di Indonesia masih menerima penghasilan yang tergolong rendah dan tidak sebanding dengan beban serta tanggung jawab akademik yang mereka emban.

Legislator dari Fraksi PDI Perjuangan ini mengungkapkan, berdasarkan riset yang ia pelajari, sebanyak 42,9 persen dosen menerima pendapatan tetap di bawah Rp3 juta per bulan. Sementara itu, 29,8 persen dosen memperoleh gaji di kisaran Rp3 juta hingga Rp5 juta per bulan. Adapun dosen yang menerima penghasilan di atas Rp5 juta per bulan hanya mencapai 27,3 persen.

BACA JUGA: Baru Sehari Jadi Hakim MK, Adies Kadir Diadukan 21 Guru Besar-Dosen ke MKMK

“Ini kondisi penghasilan dosen kita. Hampir separuh dosen menerima pendapatan tetap di bawah Rp3 juta per bulan,” kata Bonnie dalam rapat tersebut, Selasa (10/2).

Bonnie juga menyinggung soal tunjangan jabatan akademik lektor kepala yang dinilai stagnan selama puluhan tahun. Bonnie menyebut tunjangan lektor kepala hanya sebesar Rp900 ribu dan tidak mengalami peningkatan signifikan sejak lama.

BACA JUGA: Kabar Gembira untuk Guru dan Dosen PNS, PPPK, Honorer

“Lektor kepala itu tunjangannya cuma Rp900 ribu. Itu sudah bertahun-tahun, berpuluh-puluh tahun. Sejak zaman Gus Dur, berarti sudah sekitar 25 tahun,” ujarnya.

Kondisi tersebut, menurut Bonnie, mendorong banyak dosen berlomba-lomba mengejar jabatan profesor semata-mata demi peningkatan penghasilan, bukan karena dorongan akademik. Bonnie menilai situasi ini berpotensi memicu berbagai cara instan untuk meraih gelar profesor.

BACA JUGA: Jumlah Dosen dan Tendik Berstatus PPPK di PTN Ini 638 Orang

“Banyak yang kemudian berlomba-lomba ingin jadi profesor supaya tunjangannya naik, dan berbagai cara ditempuh,” katanya.

Bonnie mengusulkan agar pemerintah dan pemangku kepentingan mempertimbangkan penguatan jabatan akademik alternatif, seperti profesor madya, agar dosen tidak terburu-buru mengejar jabatan profesor penuh hanya demi faktor ekonomi.

“Kenapa tidak menghidupkan saja jabatan profesor madya, sehingga orang tidak buru-buru menjadi profesor penuh dan mengejar jabatan itu hanya untuk penghasilan semata,” ujar Bonnie.

Bonnie menegaskan, perhatian terhadap kesejahteraan dan jenjang karier dosen penting untuk menjaga mutu pendidikan tinggi nasional. Menurutnya, banyak dosen dengan jabatan lektor kepala yang memiliki kompetensi dan keahlian setara dengan profesor.

“Mutu pendidikan kita juga bergantung pada status dan kesejahteraan dosen senior yang sudah ahli di bidangnya. Lektor kepala yang belum profesor pun dari segi kemampuan bisa setara dengan profesor-profesor yang ada,” tuturnya. (tan/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Dosen Pelaku Asusila terhadap Mahasiswi di NTB Dituntut Penjara Selama Ini


Redaktur & Reporter : Fathan Sinaga


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Coppa Italia: Tekuk Napoli, Como ke Semifinal Pertama Kalinya dalam 40 Tahun
• 17 jam lalukumparan.com
thumb
Indeks Integritas Parpol: Keuangan Partai Masih Kurang Transparan, Pakar Usulkan Reformasi
• 4 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Perluas Pasar UMKM Medan, Rico Waas Serahkan Sertifikasi Halal pada 100 UMKM
• 7 jam lalumediaapakabar.com
thumb
Catat! Ini 5 Lokasi Parkir Resmi di Pecinan Glodok Jelang Imlek 2026
• 3 jam lalukompas.com
thumb
Menkes Tegaskan RS Harus Terima Semua Pasien BPJS PBI, Minta Masyarakat Lapor
• 2 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.