Utusan Khusus Presiden untuk Energi dan Lingkungan, Hashim Djojohadikusumo, mengungkapkan Presiden Prabowo Subianto marah saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 8 persen pada Rabu (28/1) dan Kamis (29/1).
Merosotnya IHSG pada akhir Januari 2026 itu tidak terlepas dari pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait perubahan metodologi penilaian free float saham di Indonesia.
"Kalian semua tahu kan apa yang terjadi minggu lalu? Morgan Stanley, jatuhnya pasar saham, dan saya tidak tahu apakah kalian mengikutinya, tapi itu menjadi topik hangat minggu lalu, kan? Beberapa orang diminta untuk mengundurkan diri," kata Hashim di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (11/2).
Setelah IHSG anjlok tersebut, pada Jumat pagi (30/1), Iman Rachman mengundurkan diri sebagai Direktur Utama BEI. Kemudian pada sore harinya menyusul Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar, Wakil Ketua OJK Mirza Adityaswara, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon (KE PMDK) Inarno Djajadi, serta Deputi Komisioner Pengawas Emiten, Transaksi Efek, Pemeriksaan Khusus, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon (DKTK) Aditya Jayaantara.
Posisi Dirut BEI saat ini diisi oleh Pjs Jeffrey Hendrik dan di OJK dipimpin oleh Friderica Widyasari dan Hasan Fawzi.
Hashim menegaskan investor ritel dirugikan saat merosotnya IHSG. "Investor ritel, banyak yang menjadi korban kan? Banyak yang menjadi korban," ungkap Hashim.
Hashim menilai kepercayaan investor menjadi berkurang imbas merosotnya IHSG saat itu. Ia menegaskan pentingnya menjaga kredibilitas pasar modal.
“Ini tentang kepercayaan dan kredibilitas. Pasar ini hanya akan berhasil jika ada kepercayaan dan kredibilitas,” ujar Hashim.
Hashim mengaku ada delapan investor yang bertemu dengannya pada Senin (9/2). Investor tersebut meminta Hashim dan pemerintah untuk menjaga kredibilitas pasar modal Tanah Air.
Untuk itu, Hashim menekankan ke Jeffrey kalau kinerja di BEI akan diawasi secara ketat.
“Jadi harapan saya, harapan Presiden Prabowo, dan harapan pemerintah adalah agar Anda terus mengawasi. Ketika Anda melihat semua anomali yang tidak masuk akal ini, itu adalah tanda bahaya. Dan itu memang terjadi,” tutur Hashim.





