Pesawat Tanpa Ledakan yang Bisa Menjatuhkan Negara: Sinyal Perang Baru AS

erabaru.net
4 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Di tengah memburuknya hubungan Amerika Serikat dan Iran, serta meningkatnya ketegangan militer di Timur Tengah, militer AS diam-diam melakukan sebuah pengerahan strategis yang dinilai sangat tidak biasa dan sarat makna geopolitik.

Pada awal Februari 2026, sebuah pesawat peperangan elektronik strategis generasi terbaru EA-37B terbang langsung dari daratan Amerika Serikat menuju Pangkalan Udara Ramstein, Jerman. Pangkalan ini dikenal sebagai salah satu simpul komando dan logistik paling krusial militer AS di Eropa, yang selama puluhan tahun menjadi pusat dukungan operasi militer AS di Timur Tengah, Eurasia, dan Afrika.

Bagi para pengamat militer, langkah ini jauh melampaui sekadar pemindahan satu unit pesawat.

Bukan Sekadar Pengerahan, Melainkan Persiapan Sistemik

Penilaian dominan di kalangan analis pertahanan menyebutkan bahwa kehadiran EA-37B di Ramstein kemungkinan besar menandakan persiapan sistem pelumpuhan medan perang secara menyeluruh, khususnya jika konflik AS-Iran meningkat menjadi operasi militer intensitas tinggi.

Sejumlah pakar bahkan secara terbuka menyebut pengerahan ini sebagai indikator bahwa kemampuan perang pelumpuhan tingkat nasional Amerika Serikat telah memasuki fase kesiapan tempur nyata.

Berbeda dengan pesawat tempur konvensional, EA-37B tidak dirancang untuk menjatuhkan bom atau menembakkan rudal. Misi utamanya jauh lebih fundamental: melumpuhkan kemampuan berperang lawan dari akarnya.

EA-37B: Senjata Pembuka Perang Modern

EA-37B mampu melakukan penekanan elektromagnetik berskala luas, dengan target utama meliputi:

Dalam doktrin perang modern, platform semacam ini dikenal sebagai “kunci pembuka perang”. Artinya, sebelum gelombang serangan udara dan rudal dimulai, sistem deteksi dan koordinasi musuh terlebih dahulu dibutakan, membuat pertahanan runtuh bahkan sebelum tembakan pertama dilepaskan.

Ketika rantai komando terputus, radar menjadi buta, dan komunikasi lumpuh, maka serangan lanjutan dapat berlangsung nyaris tanpa hambatan—seperti memasuki rumah tanpa kunci pintu.

Jumlah Terbatas, Makna Strategis Besar

Yang membuat pengerahan ini semakin signifikan adalah fakta bahwa jumlah EA-37B sangat terbatas, dan lokasi penempatannya selama ini dijaga dengan tingkat kerahasiaan tinggi. Kemunculan pesawat ini secara terbuka di Eropa sudah cukup untuk memicu spekulasi strategis luas.

Meski pihak militer AS menyatakan kepada publik bahwa kehadiran EA-37B di Ramstein merupakan bagian dari latihan koordinasi NATO dan uji kemampuan tempur—serta menegaskan bahwa pesawat tersebut belum memasuki penugasan tempur penuh—komunitas analis menilai pernyataan ini sebagai strategi ambiguitas yang disengaja.

Dengan kata lain, Washington tidak menyatakan akan berperang, namun secara bersamaan mengirim pesan tegas bahwa jika perang pecah, bentuk operasinya akan jauh melampaui serangan udara konvensional.

Postur Militer AS terhadap Iran Terus Menguat

Secara paralel, tata letak militer AS di kawasan Timur Tengah juga mengalami peningkatan signifikan. Di wilayah tanggung jawab Komando Pusat AS, kelompok tempur kapal induk, pesawat siluman, serta sistem pertahanan berlapis kini membentuk jaringan tempur terintegrasi tingkat tinggi.

Sebagian besar penilaian militer menyebutkan bahwa AS saat ini memiliki kemampuan untuk:

Dalam peperangan elektronik taktis, AS selama ini mengandalkan EA-18G Growler serta pesawat intelijen elektronik RC-135, yang telah lama beroperasi di sekitar wilayah udara Iran untuk mengumpulkan data frekuensi radar dan komunikasi.

Namun, EA-37B berada satu tingkat di atas semuanya—bukan sekadar taktis, melainkan strategis tingkat negara.

Menuju Konsep “Perang Penghancuran Sistem”

Banyak analis meyakini bahwa jika AS benar-benar memilih opsi militer terhadap Iran, bentuknya hampir pasti adalah perang majemuk terintegrasi, yang menggabungkan:

Tahap pertama perang ini kemungkinan tidak dimulai dengan rudal, melainkan dengan serangan elektromagnetik tak kasat mata. Begitu sistem peringatan dini, jaringan komando, dan komunikasi militer Iran runtuh, pertahanan udara bisa jatuh ke dalam “lubang hitam informasi”.

Dalam skenario terburuk, bahkan sistem komando tingkat negara dapat ikut lumpuh, membuat seluruh struktur militer kehilangan kemampuan koordinasi.

Karena itu, banyak peneliti militer mulai memandang EA-37B sebagai simbol inti doktrin “perang penghancuran sistem” Amerika Serikat—melumpuhkan kemampuan berperang suatu negara dalam waktu singkat tanpa harus menghancurkannya secara fisik.

Israel, Iran, dan Eskalasi Regional

Di sisi lain, Israel terus mengawasi ketat program nuklir dan rudal Iran. Perdana Menteri Israel dijadwalkan mengunjungi Amerika Serikat pekan ini, dan diperkirakan akan menuntut tekanan maksimal terhadap Teheran, termasuk pemindahan seluruh uranium yang telah diperkaya ke luar negeri serta pembatasan ketat kemampuan rudal balistik Iran.

Sumber keamanan Israel menyebutkan bahwa Iran baru-baru ini memindahkan sebagian rudalnya ke wilayah timur, meningkatkan kompleksitas serangan pencegahan. Tanpa pengawasan, stok rudal Iran diperkirakan bisa kembali mendekati 2.000 unit, hampir setara dengan sebelum serangan tahun lalu.

Iran sendiri merespons dengan memperkuat strategi perang asimetris—mulai dari pengerahan rudal hipersonik, latihan penutupan Selat Hormuz, hingga kesiapan serangan siber dan aktivasi jaringan proksi regional.

Ketegangan Internal Iran Ikut Memanas

Di dalam negeri, situasi Iran juga tengah bergejolak. Awal Februari 2026, pemerintah mengumumkan penangkapan empat tokoh reformis terkemuka, yang dituduh berkolusi dengan AS dan Israel.

Namun banyak pengamat menilai langkah ini sebagai manuver kubu garis keras untuk menekan kelompok moderat dan memperketat kontrol internal di tengah tekanan eksternal yang kian besar.

Penutup: Pertarungan Senyap Telah Dimulai

Secara keseluruhan, situasi saat ini menyerupai permainan catur berisiko tinggi. Iran memperluas kemampuan militernya secara diam-diam, Israel bersiap bertindak sendiri, dan Amerika Serikat mengawasi dengan kesiapan penuh.

Dalam lanskap perang modern, tembakan pertama mungkin bukan suara ledakan, melainkan lenyapnya sinyal.

Dan di bawah langit Timur Tengah hari ini, pertarungan senyap itu tampaknya telah dimulai.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jazuli Juwaini: Dai Mathla’ul Anwar Siap Terjun ke Pelosok Negeri, Menjaga & Memajukan NKRI
• 23 jam lalujpnn.com
thumb
Amien Rais Sebut PAN dan PKB Bijak, Tak Cantumkan Gibran Jadi Cawapres di Pilpres 2029
• 16 jam lalugenpi.co
thumb
Tren Kenaikan Harga Pangan Nasional Februari 2026
• 10 jam lalutvrinews.com
thumb
Menjamu Persib di AFC Champions League Two, Ratchaburi FC Ingin Kemenangan di Kandang Sendiri
• 12 jam lalubola.com
thumb
Jelang Imlek, Parkir Liar di Glodok Pancoran Bakal Ditertibkan
• 8 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.