“Waktu untuk Perang?” Netanyahu Terbang Darurat ke Washington, Iran di Ambang Serangan Besar

erabaru.net
3 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Dalam beberapa hari terakhir, dinamika geopolitik di Timur Tengah bergerak dengan kecepatan yang mencengangkan. Jika sebelumnya publik internasional masih bertanya-tanya kapan konflik terbuka terhadap Iran benar-benar akan dimulai, maka rangkaian peristiwa sejak awal Februari 2026 kini memberikan sinyal bahwa eskalasi besar bukan lagi sekadar wacana.

Dari taruhan spekulatif bernilai fantastis, pernyataan religius bernada perang, kunjungan darurat tingkat tinggi, hingga pengerahan militer dan evakuasi teknisi asing—semua potongan ini membentuk satu pola yang sulit diabaikan.

Taruhan 100.000 Dolar dan Malam 9 Februari

Pada 8 Februari 2026, platform prediksi global Polymarket mencatat kemunculan akun anonim yang memasang taruhan sebesar 100.000 dolar AS. Spekulasinya sangat spesifik: Amerika Serikat akan melancarkan serangan militer terhadap Iran pada malam 9 Februari 2026.

Saat taruhan itu dipasang, probabilitas yang dihitung pasar hanya 2,5 persen. Namun jika prediksi tersebut benar, nilai kemenangan diperkirakan bisa melonjak hingga 4 juta dolar AS.

Serangan yang diprediksi itu tidak terjadi pada malam 9 Februari. Meski demikian, kemunculan taruhan besar tersebut memicu perhatian luas. Di tengah suasana regional yang sudah tegang, spekulasi bernilai ratusan ribu dolar itu dipandang sebagian pengamat sebagai indikator bahwa ada pihak-pihak yang memperkirakan eskalasi militer tinggal menunggu waktu.

10 Februari 2026: Netanyahu Terbang ke Washington

Perkembangan paling signifikan terjadi pada 10 Februari 2026, ketika Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, melakukan kunjungan darurat ke Washington untuk bertemu Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Sejak Trump kembali menjabat untuk periode keduanya, keduanya telah enam kali bertemu dalam forum resmi yang terjadwal. Namun pertemuan kali ini berbeda: tidak diumumkan jauh-jauh hari dan disebut sebagai pertemuan mendesak di tengah meningkatnya ancaman regional.

Sehari sebelum keberangkatannya, Netanyahu menyampaikan pernyataan yang langsung mengundang perhatian dunia. 

Dia mengutip Kitab Pengkhotbah: “Ada waktu untuk damai, dan ada waktu untuk perang. Sekarang adalah waktu untuk perang.”

Dalam tradisi budaya Yahudi dan Kristen, kutipan semacam ini bukan sekadar metafora politik. Dia kerap dimaknai sebagai legitimasi moral untuk mengambil tindakan keras ketika ancaman dianggap telah melewati batas toleransi.

Secara resmi, agenda pembahasan mencakup situasi Gaza dan stabilitas kawasan. Namun berbagai sumber diplomatik menilai isu utama tetap Iran—khususnya perkembangan kemampuan militer dan program strategisnya.

Lonjakan Produksi Rudal Iran

Laporan terbaru dari kalangan militer dan intelijen Israel menunjukkan peningkatan signifikan dalam kapasitas produksi rudal Iran sepanjang 2025 hingga awal 2026.

Meskipun berada di bawah sanksi ekonomi internasional, industri pertahanan Iran dilaporkan mampu memproduksi sekitar 300–500 rudal balistik per bulan.

Setelah konflik singkat selama 12 hari pada 2025 yang sempat menguras persediaan rudal jarak menengah Iran hingga tersisa sekitar 1.000–1.500 unit, stok tersebut kini diperkirakan telah kembali meningkat menjadi 2.000–3.000 unit.

Proyeksi jangka menengah yang beredar di kalangan analis keamanan bahkan memperkirakan:

Bagi Israel—negara dengan wilayah geografis yang relatif kecil—angka-angka tersebut dipandang sebagai ancaman eksistensial.

Sumber-sumber di Yerusalem menyebutkan bahwa pesan Netanyahu ke Washington jelas: diplomasi telah diberi ruang. Namun jika jalur negosiasi gagal menahan laju penguatan militer Iran, Israel siap bertindak—baik dengan dukungan penuh Amerika maupun secara mandiri.

Pengerahan Militer Amerika Serikat

Di sisi lain, Washington menunjukkan tanda-tanda peningkatan kesiapsiagaan.

Pangkalan dan Sistem Pertahanan

Amerika Serikat memiliki sedikitnya 19 pangkalan utama di Timur Tengah, termasuk:

Awalnya, banyak dari pangkalan tersebut dirancang untuk operasi kontra-terorisme. Namun dalam skenario konflik skala besar dengan Iran, fasilitas ini berpotensi menjadi sasaran serangan rudal balistik dan drone.

Sebagai respons, AS mempercepat pengerahan sistem pertahanan:

Gugus Tempur Kapal Induk

Di laut, gugus tempur yang dipimpin oleh USS Abraham Lincoln dilaporkan berada di sekitar Laut Oman sejak awal Februari 2026.

Uni Emirat Arab disebut turut memperkuat sistem pertahanan udara di wilayahnya guna melindungi jalur operasional kapal induk tersebut.

Di udara, jet tempur F-15 yang ditempatkan di Yordania serta F-35 di Siprus menjalankan patroli pengawasan intensif, khususnya untuk mengantisipasi potensi serangan drone atau rudal jelajah jarak jauh.

Rusia Evakuasi Personel dari Bushehr

Perkembangan yang tak kalah penting terjadi pada 9–10 Februari 2026. Rusia dilaporkan mulai mengevakuasi sejumlah insinyur nuklir senior dari fasilitas Bushehr Nuclear Power Plant.

Dalam kurun 24 jam, sedikitnya empat pesawat Rusia disebut telah membawa ratusan ahli dan anggota keluarga mereka keluar dari Iran.

Sebagai perbandingan, pada konflik singkat 2025, Rusia baru mengevakuasi personelnya beberapa hari setelah pertempuran dimulai. Kali ini, langkah itu diambil bahkan sebelum terjadi serangan terbuka.

Langkah tersebut dipandang banyak analis sebagai sinyal bahwa Moskow memperkirakan potensi eskalasi dalam waktu dekat—atau setidaknya tidak ingin terseret langsung dalam konfrontasi militer yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat.

Ledakan di Teheran dan Pernyataan Washington

Pada saat yang sama, laporan mengenai ledakan dan kebakaran di sejumlah lokasi di Teheran mulai beredar pada 9 Februari 2026. Otoritas setempat menyebut insiden itu sebagai kebakaran gudang militer, namun waktunya yang sensitif memicu spekulasi luas.

Sementara itu, dalam wawancara dengan media Israel Channel 12, Presiden Trump menyatakan bahwa jika kesepakatan dengan Iran gagal, Amerika Serikat akan mengambil langkah “sangat keras”.

Pernyataan tersebut mempertegas bahwa opsi militer tetap berada di meja perundingan.

Menuju Titik Kritis

Jika seluruh rangkaian peristiwa ini dirangkai secara kronologis:

Maka gambaran yang terbentuk adalah konsolidasi politik dan militer dalam tempo sangat cepat.

Deklarasi “waktu untuk perang”, pengerahan sistem pertahanan AS, kesiagaan gugus tempur laut, evakuasi teknisi Rusia, serta meningkatnya produksi rudal Iran—semuanya menunjukkan bahwa kawasan Timur Tengah tengah bergerak menuju titik kritis.

Apakah badai benar-benar akan pecah atau masih ada ruang diplomasi terakhir?

Untuk saat ini, dunia menyaksikan dengan tegang—karena setiap keputusan yang diambil dalam beberapa hari ke depan berpotensi mengubah bukan hanya keseimbangan kawasan, tetapi juga stabilitas global.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ikan di Sungai Cisadane Mati Tercemar Pestisida, Warga: Kucing Sampai Gak Doyan!
• 4 jam laludisway.id
thumb
Antara by Sleeping Lion: Hunian Mewah di Dataran Tinggi
• 13 jam lalumediaapakabar.com
thumb
Profil Bonatua Silalahi, Sosok Peneliti yang Berhasil Buka Salinan Ijazah Jokowi di KPU
• 11 jam lalusuara.com
thumb
Indeks Integritas Parpol: Keuangan Partai Masih Kurang Transparan, Pakar Usulkan Reformasi
• 4 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Modal Rp1,6 Juta Pinjam Kartu Kredit Ibu, Penghasilan Rp1 Triliun
• 13 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.