Wall Street Ditutup Melemah, Harapan Pangkas Suku Bunga The Fed Memudar

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Indeks Saham Amerika Serikat (AS) Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Rabu (11/2). Hal ini terjadi setelah laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang lebih kuat dari perkiraan meredakan kekhawatiran terhadap ekonomi tetapi juga memicu spekulasi bahwa Federal Reserve dapat memperlambat pemangkasan suku bunga. Dikutip dari Reuters, Kamis (12/2), Dow Jones Industrial Average turun 66,74 poin atau 0,13 persen menjadi 50.121,40, S&P 500 turun 0,34 poin menjadi 6.941,47 dan Nasdaq Composite melemah 36,01 poin atau 0,16 persen menjadi 23.066,47. Adapun laporan menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja AS pada Januari jauh lebih cepat dari perkiraan dan tingkat pengangguran turun menjadi 4,3 persen. Hal ini membuat penguatan Wall Street yang sempat terjadi memudar karena pelaku pasar mengurangi taruhan terhadap pemangkasan suku bunga The Fed. Meski begitu, pasar masih memperkirakan setidaknya satu kali pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Juni. Probabilitas suku bunga tetap bertahan pada bulan tersebut bahkan naik menjadi 41 persen dari 24,8 persen menurut data terbaru CME Group FedWatch. “Ini adalah kabar konstruktif karena ekonomi tidak dalam kebutuhan mendesak untuk pemangkasan suku bunga, mengingat pasar tenaga kerja menunjukkan tanda-tanda baru,” kata Julia Hermann, ahli strategi pasar global di New York Life Investments.

Saham Microsoft turun 2,2 persen dan menjadi penekan terbesar S&P 500. Hal itu disusul Alphabet yang melemah 2,4 persen. Saham-saham perusahaan sekuritas yang telah melemah pada Selasa (10/2) setelah startup Altruist mengumumkan fitur perencanaan pajak berbasis AI kembali turun pada perdagangan hari Rabu (11/2). Adapun saham Charles Schwab dan Ameriprise Financial turun lebih dari 3 persen, sementara LPL Financial anjlok 6 persen. Indeks perbankan S&P 500 yang sensitif terhadap suku bunga ditutup turun 2,6 persen. Sementara itu, saham Robinhood jatuh 8,9 persen setelah pendapatan kuartal keempatnya tidak memenuhi ekspektasi pasar. Saham Generac melonjak 17,9 persen setelah laporan kinerja kuartalan yang positif dan menjadikannya saham dengan kenaikan terbesar di S&P 500. Sedangkan saham Humana turun 3,3 persen setelah memproyeksikan laba 2026 di bawah perkiraan analis. Saham Moderna juga turun 3,5 persen setelah FDA memutuskan tidak meninjau aplikasi persetujuan vaksin flu mereka. Di NYSE, jumlah saham yang naik sedikit lebih banyak dibanding yang turun dengan rasio 1,13 banding 1. Namun di Nasdaq, saham yang turun lebih banyak dibanding yang naik dengan rasio 1,61 banding 1. S&P 500 mencatat 99 saham mencapai level tertinggi baru dalam 52 minggu dan 24 saham mencatat level terendah baru. Nasdaq mencatat 123 saham tertinggi baru dan 232 saham terendah baru. Volume transaksi mencapai 20,86 miliar saham, sedikit di atas rata-rata 20 hari terakhir sebesar 20,79 miliar saham.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Selain Halilintar, Ini Tujuh Wahana di Dufan yang Wajib Dicoba
• 17 jam lalugrid.id
thumb
BEI Bakal Kirim Proposal Serupa MSCI ke FTSE Russell
• 14 jam lalubisnis.com
thumb
Gemak sumba: Burung Endemik Langka di Pulau Sumba, bukan Puyuh Biasa
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Covid-19 Ganggu Diagnosis dan Pengobatan Kanker, Harapan Hidup Pasien Menurun
• 15 jam lalugenpi.co
thumb
WWE 2K26 Umumkan Mode 2K Showcase: Punked, Fokus Karier CM Punk
• 11 jam lalumedcom.id
Berhasil disimpan.