Pengusaha Teriak Harga Garam RI Mahal, Begini Respons KKP

cnbcindonesia.com
9 jam lalu
Cover Berita
Foto: CNBC Indonesia/ Donald

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi S. Lukman menyoroti masih mahalnya harga garam lokal dibandingkan produk impor, khususnya dari Australia. Perbedaan harga itu dinilai terjadi karena karakter produksi yang berbeda.

Di Australia, katanya, garam diproduksi dari tambang sehingga biaya logistik dan distribusinya relatif lebih murah. Sementara di Indonesia, garam masih bergantung pada proses produksi yang masih tradisional dan memerlukan waktu panjang.

Baca: Pelabuhan Karimun RI Tiba-Tiba Jadi Target Sanksi Uni Eropa, Kenapa?

"Saingan kita kan Australia, India. Australia itu garam sangat murah sekali. Karena tinggal gali, garamnya sudah ada. Tidak usah menanam air, panen, segala macam," ujar Adhi saat ditemui di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Jakarta, Kamis (12/2/2026).


Selain faktor produksi, Adhi juga menyoroti kualitas garam lokal yang dinilai belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan industri pengolahan. Garam dengan kualitas rendah masih harus melalui proses peleburan sebelum dikristalkan kembali, yang menyebabkan penyusutan bobot cukup besar dan berdampak pada biaya.

Foto: CNBC Indonesia/ Donald
Petani Garam

"Kalau yang garam bagus seperti garam madura itu sebagian bagus ya yang KW1, itu bisa dari kristal langsung digiling, disesuaikan, terus difortifikasi dengan iodium, sudah beres. Itu kan jadi murah," jelasnya.

Dari sisi harga di tingkat petani, Adhi menyebut harga garam rakyat di Indonesia berada di kisaran Rp2.500 per kilogram (kg). Angka tersebut jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan Australia yang diperkirakan di bawah Rp1.000 per kg.

"Tapi perkiraan menurut saya sih, kalau garam di sini kan, di tingkat petani sekitar Rp2.500 per kg. Mungkin di Australia sekitar di bawah Rp1.000 per kg," ucap dia.

Ia pun berharap pemerintah, khususnya KKP, dapat lebih fokus meningkatkan kualitas garam di tingkat petambak agar mampu menekan biaya lanjutan di industri pengolahan.

Sementara itu, Direktur Sumber Daya Kelautan KKP, Frista Yorhanita, mengatakan tingginya harga garam nasional juga dipengaruhi kendala logistik dan distribusi yang belum optimal, terutama di wilayah sentra tambak garam.

Menurut Frista, keterbatasan infrastruktur seperti akses jalan dan pelabuhan menyebabkan biaya distribusi meningkat sebelum garam sampai ke konsumen industri.

"Untuk yang membuat harga garam tinggi, salah satunya adalah jalur distribusi yang kurang bagus, perbaikan jalan, pelabuhan, itu kita harus menggandeng teman-teman di Kementerian PU, Kementerian Perhubungan untuk membangun pelabuhan, memperbaiki jalan," ujarnya.

Baca: Kiamat Baterai, Mobil Listrik Pertama Pakai Garam Sudah Rilis

Dalam upaya meningkatkan kualitas garam rakyat, Fista mengatakan, pemerintah terus membenahi sisi hulu agar sesuai dengan standar industri. Upaya tersebut dilakukan melalui perbaikan saluran air hingga penyediaan fasilitas pengolahan.

"Ini kita lakukan perbaikan juga misalnya dengan memperbaiki saluran airnya, sehingga intake air ke petambak itu kualitasnya bagus, kemudian juga kita menyediakan sarana-sarana pengolahan seperti washing plant untuk mencuci garamnya, meningkatkan kualitasnya," pungkasnya.


(wur)
Saksikan video di bawah ini:
Video: Tergantung Bahan Baku Impor, Industri Mamin RI Sulit Bersaing

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bursa Asia Menguat, Nikkei 225 Jepang Cetak Rekor 58.000 saat Wall Street Lesu
• 13 jam laluviva.co.id
thumb
Kebijakan Pemerintah Menentukan Arah Pertumbuhan Ekonomi Syariah 2026
• 8 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Varietas PS-08, Harapan Baru Padi Organik Nasional Tumbuh dari Banten
• 9 jam lalutvrinews.com
thumb
BPJS PBI Dinonaktifkan, Kadinsos Kota Bekasi: Jangan Panik, Tiap Hari Kita Layani Reaktivasi
• 17 jam lalurealita.co
thumb
Adu Kinerja Saham Logam, ANTM hingga NCKL Mana Paling Prospektif?
• 15 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.