Miliarder Dunia Pun Cemas, Khawatir Anak Sulit Dapat Kerja

cnbcindonesia.com
15 jam lalu
Cover Berita
Foto: Ilustrasi/ Ilham

Jakarta, CNBC Indonesia - Kekhawatiran soal sulitnya mencari kerja kini tak hanya dirasakan kelas menengah atau lulusan baru. Bahkan para miliarder di Amerika Serikat pun mulai cemas memikirkan masa depan karier anak-anak mereka.

Hal ini diungkap Patrick Dwyer, Managing Director perusahaan manajemen kekayaan Aligned by NewEdge Wealth yang berbasis di Miami. Ia menangani klien superkaya dengan nilai kekayaan bersih mulai dari US$100 juta hingga lebih dari US$1 miliar.

Baca: Singapura Siapkan 15.700 Lapangan Kerja, Gaji di Atas Rp58 Juta

Menurut Dwyer, para kliennya khawatir anak-anak mereka yang berusia 22 hingga 35 tahun tidak mampu mempertahankan karier di sektor yang selama ini dianggap stabil dan bergaji tinggi, seperti teknologi, hukum, dan kedokteran.

Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Data Federal Reserve menunjukkan tingkat pengangguran lulusan baru perguruan tinggi di AS terus meningkat selama tiga tahun terakhir, mencapai 9,7% pada September 2025.

Baca: Jutaan Gen Z Nganggur, CEO Sarankan Adaptasi Jadi Teknisi & Sopir Truk

Sementara itu, Biro Statistik Tenaga Kerja AS mencatat 2024 menjadi tahun terlemah dalam perekrutan sejak 2009, jika tidak menghitung 2020 yang terdampak pandemi. Tekanan pasar kerja ini ikut dirasakan kalangan ultra-kaya, meski secara finansial mereka sebenarnya mampu membiayai hidup anak-anaknya selama bertahun-tahun.

"Para orang tua ini menyadari bahwa jika mereka tidak mewariskan kekayaan yang lebih bermakna, atau jika anak-anak mereka tidak mampu membangun kekayaan sendiri, maka generasi berikutnya bisa memiliki kendali hidup yang lebih kecil dibanding mereka," ujar Dwyer dikutip dari CNBC Make It, Kamis (12/2/2026).

Meski begitu, kondisi pasar kerja saat ini tidak serta-merta mengancam status finansial keluarga superkaya. Chief Investment Officer Citizens Wealth, Michael Hans, menyebut kelompok ultra high net worth (dengan kekayaan US$10 juta hingga US$20 juta) umumnya tidak terancam kehilangan rumah atau harus membatalkan liburan mewah.


Baca: Merasa Tak Dianggap, Gen Z Paling Tidak Bahagia di Dunia Kerja

Namun, orang kaya tetap ingin memastikan anak-anak mereka tidak perlu menurunkan standar hidup akibat ketidakpastian ekonomi. Sejumlah pakar ketenagakerjaan menilai kecerdasan buatan (AI) menjadi salah satu faktor yang mempersempit peluang kerja.

Di sisi lain, kenaikan biaya hidup dan kepemilikan rumah membuat pekerja senior enggan pindah kerja, sehingga peluang bagi generasi muda makin terbatas. Ekonom senior Gusto, Nich Tremper bilang, banyak pekerja kini memilih bertahan.

"Orang-orang cenderung diam di tempat. Mereka tidak mencari peran baru atau meninggalkan pekerjaan lama. Tanpa pergerakan itu, sulit bagi pekerja entry level untuk masuk dan memulai karier," ujarnya.

Ketidakjelasan soal berapa banyak pekerjaan yang akan tergantikan AI juga membuat para miliarder mulai memikirkan ulang strategi membimbing anak-anak mereka. Jika sebelumnya banyak orang tua superkaya mengikuti jalur klasik menuju kesuksesan, seperti sekolah elit, magang di perusahaan ternama, lalu naik tangga karier lewat jaringan, kini pendekatan itu dinilai tak lagi relevan.

"Ini bukan lagi permainan yang sama seperti dulu," kata Dwyer. "Keluarga harus memikirkan ulang apa arti mendukung anak. Bukan soal memanjakan, tapi bagaimana jika anak perlu pelatihan ulang di usia 33 tahun?" tambahnya.

Sebagai respons, banyak klien Dwyer kini justru mendorong, bahkan membiayai, anak-anak mereka untuk membangun perusahaan sendiri di industri baru dan menekuni kewirausahaan sejak usia 20-an hingga awal 30-an. Padahal, berwirausaha dikenal penuh risiko seperti pendapatan tidak pasti, jam kerja panjang, dan tingkat kegagalan tinggi pada tahap awal.

Banyak pakar usaha kecil bahkan tidak menyarankan bisnis sebagai solusi untuk ketidakstabilan karier. Namun, anak dari keluarga ultra-kaya memiliki bantalan finansial yang cukup untuk gagal berkali-kali sebelum akhirnya sukses.

Dwyer menilai pengalaman membangun bisnis justru membentuk karakter penting seperti ketahanan mental dan kemampuan beradaptasi, yang semakin dibutuhkan di dunia kerja modern.

"Anak-anak muda ini paham pemasaran, paham keuangan, dan tahu bagaimana membangun bisnis. Itu sangat berharga, dan saya yakin mereka akan semakin dicari di pasar," ujarnya.


(hsy/hsy)
Saksikan video di bawah ini:
Video: Souto: Meski Ditaklukan Iran, Kita Didukung Seluruh Dunia

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jaksa Tolak Eksepsi Peter Suyatmin, Penasihat Hukum Nilai Dakwaan Tak Konsisten
• 17 jam lalurealita.co
thumb
Tekan Dana Keluar Rp 40 T saat Musim Haji, Prabowo Minta Maksimalkan QRIS
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
Korban Maling Motor di Subang Malah Jadi Tersangka, Dedi Mulyadi Turun Tangan
• 9 jam lalutvonenews.com
thumb
Prabowo Bakal Hadiri Indonesia Economic Outlook 2026 Besok
• 1 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Perihal Pilpres 2029, Pangeran: Gibran Fokus Bekerja Mendukung Agenda Strategis Pemerintahan Presiden Prabowo
• 20 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.