Bisnis.com, JAKARTA — Danantara Indonesia menargetkan proses pembentukan holding maskapai BUMN dengan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA) sebagai induk perusahaan dapat rampung pada kuartal I/2026.
Melalui langkah konsolidasi ini, emiten bersandi saham GIAA tersebut nantinya akan membawahi PT Citilink Indonesia dan PT Pelita Air Service.
Aksi korporasi tersebut sekaligus menegaskan bahwa maskapai pelat merah tidak akan bergabung ke dalam Holding BUMN Spesialis Aviasi dan Pariwisata, PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney.
Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, menyampaikan proses transisi GIAA menuju struktur holding baru tersebut berjalan cukup progresif.
“Garuda di kuartal pertama ini sudah pindah, cepat mereka. Iya, Garuda Indonesia induk, [di bawahnya] ada Citilink, ada Pelita,” ungkap Dony saat ditemui di Jakarta, Selasa (10/2/2026) malam.
Dony menjelaskan bahwa penggabungan tersebut merupakan bagian dari transformasi besar untuk menyatukan ekosistem maskapai nasional dalam satu payung bisnis. Menurutnya, pemisahan antara permasalahan masa lalu dengan konsep bisnis masa depan menjadi kunci agar integrasi ini berjalan optimal.
Baca Juga
- Nagita Istri Sultan Andara Raffi Ahmad Bersiap Akuisisi Satu Visi (VISI)
- Kabar Terang Pemilik Saham Tambang BUMI, Anthoni Salim dan Adik Bungsu Bakrie jadi Pengendali Akhir
- Manulife (MAMI) Update Akuisisi Manajer Investasi (MI) Schroders Indonesia
Terkait kekhawatiran pasar mengenai beban keuangan Garuda Indonesia terhadap anggota holding lainnya, Kepala Badan Pengaturan BUMN ini memastikan proses penyehatan GIAA terus dimonitor secara ketat.
“Masalah ketakutan masyarakat bahwa ini nanti jadi problem kalau bergabung, kan itu kami akan perbaiki kan? Pasti kita harus monitor juga proses transformasi daripada Garuda Indonesia, ini nantinya lebih bagus,” ucap Dony.
Senada dengan hal tersebut, Managing Director Danantara Febriany Eddy sebelumnya menuturkan konsolidasi ini bertujuan untuk menghapus persaingan internal antarperusahaan pelat merah atau aksi saling 'kanibal' pasar.
Penataan itu juga akan mempertegas segmentasi konsumen antara Garuda Indonesia, Citilink, dan Pelita Air agar tidak saling bersinggungan secara negatif.
“Yang jelas bagian dari streamline dan konsolidasi adalah menghapus internal competition dan saling kanibal itu. Jadi segmen mesti jelas,” ucapnya.
Di sisi lain, manajemen Garuda Indonesia menyatakan masih terus melakukan kajian mendalam terkait opsi-opsi merger dan integrasi ini bersama Danantara serta PT Pertamina (Persero) selaku pemegang saham Pelita Air.
Vice President Director Garuda Indonesia, Thomas Sugiarto Oentoro, menyebutkan perseroan sedang melihat berbagai skema terbaik sebelum memberikan detail perkembangan lebih lanjut kepada publik.
“Ya, itu adalah satu yang kita masih dalam tahap pembicaraan dengan pemegang sahamnya, yaitu Danantara, dan juga dengan Pertamina,” pungkasnya.
---
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





