Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) mulai membersihkan tumpukan sampah raksasa yang menimbun salah satu distrik komersial tertua di Gaza City, Rabu (11/2). Gunungan sampah yang muncul sejak perang Gaza pecah pada Oktober 2023 itu dinilai menjadi ancaman serius bagi lingkungan dan kesehatan warga.
Tumpukan sampah tersebut menutupi Pasar Fras, kawasan bersejarah yang sebelumnya melayani sekitar 600 ribu penduduk. Kepala Kantor UNDP Gaza Alessandro Mrakic mengatakan volume sampah diperkirakan mencapai lebih dari 300 ribu meter kubik dengan ketinggian sekitar 13 meter. Sampah menumpuk karena otoritas kota tak lagi bisa mengakses tempat pembuangan utama di Juhr al-Dik yang kini berada di bawah kendali Israel.
Selama enam bulan ke depan, limbah itu akan dipindahkan ke lokasi sementara di Abu Jarad, selatan Kota Gaza. Area seluas 75 ribu meter persegi tersebut disiapkan sesuai standar lingkungan dan akan digunakan untuk pengumpulan sampah harian. Proyek ini didanai Dana Kemanusiaan dan Operasi Perlindungan Sipil serta Bantuan Kemanusiaan Uni Eropa.
Warga menyambut langkah ini dengan lega meski sebagian masih terlihat memilah sampah untuk mencari barang yang bisa dimanfaatkan.
Pemerintah Gaza City menyebut relokasi ini sebagai langkah mendesak setelah sekitar 350 ribu meter kubik sampah menumpuk di pusat kota.
Menurut UNDP, lebih dari 570 ribu ton sampah telah dikumpulkan di seluruh Gaza sejak perang dimulai. Meski jumlah lokasi pembuangan sementara sudah dikurangi, sebagian besar masih sulit diakses dan dua tempat pembuangan utama tetap tertutup. Badan PBB itu memperingatkan risiko lingkungan dan kesehatan masyarakat masih berada pada level kritis.





