Kopilot pesawat Smart Aviation, Baskoro Adi Anggoro, tewas ditembak Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Bandara Koroway, Papua Selatan. Di mata keluarga, Baskoro dikenal sebagai sosok yang humoris.
"Suka ngelawak dia. Iya, humoris," kata paman Baskoro, Doni Widiatmoko, saat ditemui di rumah duka di kawasan Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Kamis (12/2).
Doni bilang, Baskoro memang sudah bercita-cita sejak muda untuk menjadi seorang pilot. Dia bahkan menolak untuk mengenyam bangku kuliah demi menjadi pilot.
"Sempet kuliah tapi enggak mau, dia pokoknya pilot terus," ungkap Doni.
Baskoro sudah bertugas di maskapai Smart Aviation selama 5 tahun terakhir sejak lulus sekolah pilot.
Ini merupakan pertama kalinya Baskoro kembali ditugaskan terbang ke Papua. Orang tua Baskoro sebenarnya sempat ragu anaknya mengawaki pesawat ke daerah sana.
"Karena dia habis sakit tuh kemarin, habis opname. Terus kok tiba-tiba dapet Papua. Jadi dia enggak sempet berpikir panjang mungkin terus langsung berangkat aja ya," beber Doni.
"Tapi sempet ditanyain 'aman enggak?', sama orang tuanya. Dia bilang 'aman', katanya. Dia sudah pernah, ternyata bandaranya beda," ujar Doni.
Keraguan orang tua Baskoro ternyata terbukti. Penerbangan itu menjadi yang terakhir untuk anaknya. Baskoro meninggal ditembak KKB.
Penembakan ini terjadi pada Rabu (11/2) sekitar pukul 11.30 WIT. Saat itu, pesawat Smart Aviation baru saja mendarat di Bandara Koroway Batu.
Pesawat jenis Cessna Caravan itu dipiloti oleh Egon Erawan dan kopilot Baskoro. Setelah tembakan itu, Egon dan Baskoro serta penumpang yang lari ke hutan.
Namun nahas, Egon dan Baskoro tewas dalam peristiwa itu. Mereka tertangkap saat melarikan diri ke hutan lalu dieksekusi oleh pelaku.
Pelaku diduga berasal dari KKB Yahukimo yang dikenal dengan sebutan Batalyon Semut Merah dan Batalyon Kanibal. Kelompok ini dipimpin oleh Elkius Kobak. Polisi masih memburu para pelaku.





