Jakarta, tvOnenews.com - Pemerintah mempercepat strategi hilirisasi industri sebagai senjata utama menekan ketergantungan impor sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang juga Ketua Satgas Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional, Bahlil Lahadalia, melaporkan langsung perkembangan program tersebut kepada Presiden RI, Prabowo Subianto, dalam rapat di Istana Kepresidenan.
Bahlil menyebut pemerintah tengah menyiapkan lebih dari 18 proyek hilirisasi strategis, sebagian di antaranya sudah mulai berjalan di lapangan.
“Kami juga melaporkan tentang perkembangan hilirisasi. Jadi tadi dari Danantara, dari 18 proyek yang sudah disampaikan, enam-nya sudah groundbreaking, sisanya juga akan dilakukan dalam waktu dekat,” kata Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (11/02/2026).
“Nah, kami sebagai Ketua Satgas juga sudah merumuskan beberapa program hilirisasi baru tambahan,” tambah Bahlil.
Menurutnya, arah kebijakan tersebut tidak semata industrialisasi, tetapi juga upaya struktural mengurangi ketergantungan impor barang kebutuhan dalam negeri. Pemerintah ingin komoditas yang selama ini didatangkan dari luar negeri dapat diproduksi di dalam negeri sehingga menciptakan nilai tambah ekonomi.
“Karena kita dorong adalah bagaimana bisa semua kebutuhan dalam negeri yang selama ini kita impor, itu bisa kita produksi dalam negeri dan sekaligus untuk penciptaan nilai tambah,” ungkap dia.
Langkah percepatan itu diperkuat oleh Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) yang telah memulai fase pertama proyek hilirisasi. Sebanyak enam proyek resmi memasuki tahap peletakan batu pertama dan tersebar di 13 lokasi di Indonesia.
CEO BPI Danantara, Rosan Roeslani, mengungkapkan total investasi awal mencapai US$7 miliar atau sekitar Rp118,13 triliun.
“Enam proyek ini akan kurang lebih investasinya kami itu mencapai US$7 miliar, dan ini akan menciptakan lapangan pekerjaan kurang lebih 3.000 lapangan pekerjaan,” ungkap Rosan dalam agenda Groundbreaking Hilirisasi Fase-1, di Kantor Danantara, Jakarta, Jumat (6/2/2026).
Ia menegaskan proyek tersebut dipilih bukan hanya karena besaran investasi, tetapi juga efek berantai terhadap ekonomi daerah dan nasional.
“Bukan hanya dari segi investasi, tapi juga dari segi pemberian pekerjaan, dari segi pertumbuhan daerah dan juga pertumbuhan nasional tentunya akan berdampak positif terhadap pertumbuhan perekonomian kita,” tambah Rosan.




