JAKARTA, KOMPAS– Analisis global terbaru dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC) mengungkapkan bahwa empat dari sepuluh kasus kanker di seluruh dunia seharusnya bisa dicegah. Adapun faktor risiko penyebab kanker yang bisa dihindari, yakni rokok, alkohol, obesitas, kurang aktivitas fisik, dan polusi udara.
Hasil analisis yang diterbitkan pada 4 Februari 2026, saat peringatan Hari Kanker Sedunia, menunjukkan bahwa 37 persen dari semua kasus kanker baru di seluruh dunia pada 2022 atau sekitar 7,1 juta kasus terkait dengan penyebab yang bisa dicegah. Analisis tersebut sekaligus menegaskan bahwa beban kanker dunia berpotensi besar untuk ditekan.
“Ini adalah analisis global pertama yang menunjukkan seberapa besar risiko kanker berasal dari penyebab yang dapat kita cegah. Kita bisa memberikan info yang spesifik untuk membantu mencegah banyak kasus kanker,” ujar Ketua Tim Pengendali Kanker WHO, Andre Ilbawi dikutip dalam siaran pers di laman WHO, Jumat (13/2/2026).
Analisis dilakukan pada data dari 185 negara dan 36 jenis kanker di dunia. Dari analisis itu ditemukan bahwa rokok menjadi penyebab utama dari kanker yang bisa dicegah. Rokok berkaitan erat dengan 15 persen kasus kanker dari seluruh kasus baru yang ditemukan. Penyebab lain yang cukup besar, yakni infeksi sebesar 10 persen dan konsumsi alkohol sebesar 3 persen.
Selain itu, diungkapkan pula tiga jenis kanker yang paling banyak ditemukan, yakni kanker paru, kanker lambung dan kanker serviks. Kanker paru terutama terkait dengan kebiasaan merokok dan paparan polusi udara. Kanker lambung terkait dengan infeksi Helicobacter pylori. Sementara kanker serviks terkait dengan infeksi human papillomavirus (HPV).
Dari analisis itu ditemukan bahwa rokok menjadi penyebab utama dari kanker yang bisa dicegah. Rokok berkaitan erat dengan 15 persen kasus kanker dari seluruh kasus baru yang ditemukan.
Adapun beban kanker yang bisa dicegah lebih tinggi ditemukan pada pria dibandingkan perempuan dengan 45 persen kanker baru pada pria dan 30 persen kasus kanker baru pada perempuan. Pada pria, merokok setidaknya menymbang sampai 23 persen dari semua kanker baru, diikuti dengan infeksi sebesar 9 persen dan alkohol sebesar 4 persen.
Pada perempuan, infeksi menyumbang 11 persen sebagai penyebab kasus kanker baru di dunia, diikuti dengan merokok sebesar 6 persen dan indeks massa tubuh yang tinggi sebesar 3 persen.
Analisis itu juga menunjukkan bahwa jenis kanker yang bisa dicegah bervariasi antarwilayah di dunia, tergantung pada faktor risiko yang ditemukan. Pada perempuan, kanker yang bisa dicegah sekitar 24 persen ditemukan di Afrika Utara dan Asia Barat, sementara di Afrika sub Sahara mencapai 38 persen.
Pada pria, kasus kanker yang bisa dicegah paling banyak ditemukan di kawasan Asia Timur yang mencapai 57 persen, sedangkan kasus yang terendah ditemukan di Amerika Latin dan Karibia sebesar 28 persen. Perbedaan itu bergantung pada paparan masyarakat terhadap faktor risiko yang terjadi di lingkungan, pekerjaan, risiko infeksi, serta perbedaan kondisi ekonomi dan kebijakan pencegahan di masing-masing negara.
Wakil Kepala Unit Pengawasan Kanker IARC, Isabelle Soerjomataram, menyebutkan, studi tersebut memperkuat pemahaman bahwa sebagian besar kanker bisa dicegah. Itu baik pada jenis kanker yang disebabkan oleh infeksi maupun kanker yang disebabkan karena faktor perilaku, lingkungan, dan pekerjaan.
“Mengatasi penyebab kanker yang dapat dicegah ini merupakan salah satu peluang yang paling efektif untuk mengurangi beban kanker di dunia,” ucapnya.
Serial Artikel
Cegah Kanker Serviks, Imunisasi HPV untuk Anak Usia Sekolah Digencarkan
Pemerintah terus menggencarkan imunisasi HPV untuk menekan angka kasus kanker serviks di Indonesia. Imunisasi menyasar anak-anak perempuan usia sekolah baik yang bersekolah formal maupun nonformal.
Upaya pencegahan yang spesifik mencakup, antara lain, pengendalian konsumsi rokok, regulasi pembatasan alkohol, pemberian vaksinasi terhadap infeksi penyebab kanker seperti HPV dan hepatitis B, peningkatan kualitas udara, memberikan tempat kerja yang aman, serta mendukung akses makanan dan aktivitas fisik yang lebih sehat.
Koordinasi lintas sektor menjadi salah satu catatan penting yang harus diperhatikan dan dijalankan di masing-masing negara. Koordinasi harus berjalan baik, mulai dari sektor kesehatan, pendidikan, energi, transportasi, hingga tenaga kerja.
Dengan memperkuat koordinasi yang berfokus pada upaya pencegahan, risiko kanker pada jutaan masyarakat bisa dicegah. Mengatasi faktor risiko kanker secara komprehensif tidak hanya dapat mengurangi angka kejadian kanker, namun juga menurunkan biaya perawatan kesehatan jangka panjang sekaligus meningkatkan kesejahteraan dan harapan hidup masyarakat.
Upaya pencegahan tersebut semakin mendesak akibat tingginya faktor risiko yang terjadi di masyarakat. Jika tidak ada upaya pengendalian yang masif, kasus kanker di dunia bisa meningkat menjadi 35 juta kasus pada 2050. Jumlah itu meningkat signifikan dari perkiraan yang tercatat pada 2022 sebesar 20 juta kasus.
Negara-negara berpendapatan tinggi diperkirakan akan mengalami peningkatan kasus kanker terbesar dengan tambahan sekitar 4,8 juta kasus baru pada 2050. Sementara pada negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah diperkirakan akan mengalami peningkatan yang tidak terlalu tinggi, namun angka kematian akibat kanker bisa meningkat berlipat ganda.
Kesenjangan tersebut paling nampak pada jenis kanker yang dialami oleh perempuan, khususnya pada kanker payudara. Sebanyak 1 dari 12 perempuan di negara kaya akan terdiagnosis mengalami kanker payudara dan 1 dari 71 perempuan akan meninggal karena penyakit tersebut.
Di negara miskin, jumlah kasus kanker payudara lebih sedikit dengan perbandingan 1 dari 27 perempuan. Akan tetapi, pada perempuan yang terdiagnosis kanker payudara di negara miskin diperkirakan setiap 1 dari 48 perempuan tersebut akan meninggal.
“Perempuan di negara berpenghasilan rendah akan jauh lebih berisiko tinggi meninggal karena kanker akibat diagnosis yang terlambat serta kurangnya akses terhadap pengobatan yang berkualitas,” ujar Isabelle.





