FAJAR, MAKASSAR — Ujian datang di saat yang paling krusial. PSM Makassar dipastikan tampil tanpa kapten sekaligus palang pintu andalan, Yuran Fernandes, saat menjamu Dewa United pada pekan ke-21 Super League di Stadion Gelora BJ Habibie, Sabtu (14/2/2026).
Absennya Yuran memaksa pelatih Tomas Trucha memutar otak. Opsi yang mengemuka: memasangkan rekrutan anyar Dusan Lagator dengan Aloisio Neto di jantung pertahanan.
Duet Baru, Harapan Baru
Lagator memang dikenal sebagai gelandang bertahan, tetapi postur 190 cm dan kemampuannya membaca permainan membuatnya fleksibel ditarik lebih dalam. Neto, dengan pengalaman dan ketenangan khas bek Brasil, diharapkan menjadi penyeimbang.
Di atas kertas, ini kombinasi kekuatan fisik dan disiplin taktik. Di lapangan, semuanya masih tanda tanya.
Kedatangan Lagator sendiri mendongkrak valuasi Pasukan Ramang. Berdasarkan data Transfermarkt, nilai skuad kini menyentuh Rp102,55 miliar—naik dari kisaran Rp98 miliar sebelumnya. Lagator bahkan langsung menyandang status pemain termahal PSM dengan nilai pasar Rp7,82 miliar, menggeser Yuran.
Namun angka tidak mencetak gol. Angka juga tidak mencegah kebobolan.
Evaluasi Total dan Tekanan Suporter
PSM baru saja memutus rentetan tujuh laga tanpa kemenangan saat menaklukkan PSBS Biak 2-1. Sebelumnya, hasil imbang tanpa gol kontra Semen Padang memicu kritik keras. Crossing tak efektif, penguasaan bola lepas, dan penyelesaian akhir tumpul menjadi catatan.
Kelompok suporter Red Gank bahkan mendesak evaluasi total. Kehilangan 19 poin dari tujuh laga dinilai sebagai alarm serius.
Trucha memahami tekanan itu, tetapi ia meminta publik melihat konteks.
“Kami punya tiga peluang, tapi kondisi tim tidak ideal. Banyak pemain yang tidak bisa digunakan. Sebagai pelatih, saya harus memikirkan detail—berapa kali menang duel, berapa sentuhan di kotak lawan, dan bagaimana eksekusi akhir,” tegasnya.
Ia juga membantah isu keretakan ruang ganti. Menurutnya, persoalan murni teknis dan cedera.
Dewa United Lebih Mahal, PSM Lebih Lapar?
Secara valuasi, Dewa United masih unggul dengan total Rp110,81 miliar dan rata-rata nilai pemain lebih tinggi. Namun rekor pertemuan menunjukkan duel berimbang: tiga kemenangan PSM, dua imbang, dua kalah dari tujuh laga terakhir.
Artinya, laga di GBH bukan sekadar adu harga pasar.
Ia adalah pertaruhan mental.
Tanpa Yuran, lini belakang PSM akan diuji. Duet Lagator–Neto harus segera padu. Komunikasi, koordinasi, dan disiplin garis pertahanan menjadi kunci.
PSM mungkin kalah mewah.
Tapi jika lapar pembuktian lebih besar, Pasukan Ramang masih punya alasan untuk percaya diri.
Sabtu malam nanti, publik Parepare akan melihat: apakah duet baru ini sekadar eksperimen—atau awal kebangkitan.





