Angka 3,37 persen terlihat tenang. Tidak ada kontraksi. Tidak ada gejolak besar. Tidak ada kepanikan. Namun dalam ekonomi yang kompetitif, ketenangan sering kali menyembunyikan masalah yang lebih serius: rasa cukup.
Pertumbuhan 3,37 persen pada 2025—turun dari 4,37 persen tahun sebelumnya—bukan krisis. Tetapi dalam konteks nasional yang bergerak di kisaran 5 persen, ia adalah tanda bahwa laju kita lebih lambat. Dan dalam kompetisi antar daerah, laju yang lebih lambat bukan sekadar statistik. Ia adalah posisi relatif yang terus bergeser.
Pertanyaannya bukan apakah 3,37 persen itu buruk. Pertanyaannya adalah: mengapa kita cenderung merasa angka itu sudah cukup?
Budaya Kebijakan yang Terlalu NyamanDalam banyak forum ekonomi daerah, fokus diskusi sering berhenti pada satu kalimat: “Ekonomi tetap tumbuh.” Seolah-olah selama tidak minus, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Padahal pertumbuhan yang terus berada di bawah rata-rata nasional berarti daya saing relatif melemah. Daerah lain bergerak lebih cepat. Investasi mengalir ke wilayah yang menjanjikan ekspansi lebih tinggi. Tenaga kerja produktif mencari ruang yang memberi peluang lebih besar.
Jika kita terlalu lama memaknai stabilitas sebagai keberhasilan, kita berisiko terjebak dalam apa yang bisa disebut sebagai middle stability trap—jebakan stabilitas menengah. Tidak cukup buruk untuk memaksa reformasi, tetapi juga tidak cukup kuat untuk menciptakan lompatan.
Sumatera Barat menunjukkan ciri itu.
Struktur yang Tidak Berubah, Hasil yang Tidak MelonjakKontribusi sektor pertanian sekitar 22 persen terhadap PDRB menunjukkan daya tahan. Namun industri pengolahan masih berada di bawah 9 persen. Artinya, nilai tambah belum menjadi motor utama.
Kita sering berbicara tentang hilirisasi, tetapi struktur ekonomi belum benar-benar berubah. Tanpa pergeseran struktur menuju sektor bernilai tambah tinggi, pertumbuhan cenderung berulang pada pola yang sama: stabil, moderat, dan sulit melampaui batas psikologis tertentu.
Ekonomi tidak melonjak hanya karena kita berharap. Ia melonjak ketika struktur berubah.
Jika struktur stagnan, maka pertumbuhan juga akan cenderung stagnan.
Konsumsi yang Nyaman, Investasi yang TerabaikanKonsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari separuh PDRB. Ini menjaga mesin ekonomi tetap hidup. Tetapi konsumsi bukan strategi transformasi.
Pada 2025, investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto justru mengalami kontraksi. Ini bukan sekadar data teknis. Ini sinyal bahwa kapasitas produksi tidak bertambah secara signifikan.
Tanpa investasi baru, produktivitas sulit meningkat. Tanpa produktivitas, upah riil sulit tumbuh. Tanpa pertumbuhan produktivitas, daya saing regional akan tertinggal.
Pertanyaannya sederhana tetapi jarang dijawab secara jujur: apakah kita sungguh-sungguh menciptakan ekosistem yang membuat investor merasa masa depan daerah ini lebih menjanjikan dibandingkan wilayah lain?
Angka Sosial yang Baik Tidak Boleh MeninabobokanTingkat kemiskinan sekitar 5,31 persen dan Gini Ratio 0,280 menunjukkan kondisi sosial yang relatif terkendali. Ini capaian yang patut diapresiasi.
Namun angka sosial yang baik bisa menjadi paradoks. Ia membuat tekanan politik terhadap reformasi struktural menjadi rendah. Tidak ada urgensi yang terasa mendesak. Tidak ada krisis yang memaksa perubahan cepat.
Padahal lebih dari 60 persen tenaga kerja masih berada di sektor informal. Artinya, banyak yang bekerja, tetapi tidak semuanya berada dalam pekerjaan dengan produktivitas tinggi.
Jika kita puas pada rendahnya ketimpangan tanpa mendorong produktivitas, maka kita hanya mempertahankan keseimbangan—bukan meningkatkan kualitas ekonomi.
Fiskal: Apakah Kita Berani Mengganggu Kenyamanan?Dalam situasi seperti ini, peran fiskal menjadi krusial. Tetapi fiskal sering kali terjebak dalam pola yang sama: menjaga stabilitas, bukan mendorong transformasi.
Belanja publik diarahkan untuk memastikan tidak ada gejolak. Namun keberanian untuk menggeser belanja secara signifikan menuju sektor yang benar-benar produktif sering kali terbatas oleh kenyamanan administratif dan kehati-hatian politik.
Sebagai analis perbendaharaan negara, saya melihat bahwa data sudah berbicara cukup jelas. Investasi melemah. Struktur belum berubah. Pertumbuhan melambat.
Namun data tidak pernah otomatis mengubah kebijakan. Yang mengubah kebijakan adalah keberanian untuk membaca data sebagai panggilan perubahan, bukan sekadar laporan tahunan.
Ilusi Aman Itu Lebih Berbahaya dari KrisisKrisis memaksa kita berubah. Ilusi aman membuat kita menunda.
Pertumbuhan 3,37 persen adalah contoh klasik ilusi aman. Ia tidak cukup rendah untuk memicu alarm keras, tetapi juga tidak cukup tinggi untuk membawa lompatan.
Jika kita terus membaca angka itu sebagai tanda keberhasilan, maka kita mungkin sedang menormalisasi perlambatan.
Daerah yang ingin naik kelas tidak bisa hanya menghindari krisis. Ia harus berani mengejar akselerasi.
Pertanyaannya bukan apakah kita mampu tumbuh lebih tinggi. Pertanyaannya adalah apakah kita mau keluar dari kenyamanan stabilitas moderat.
Karena dalam ekonomi yang bergerak cepat, yang paling berisiko bukanlah yang gagal, melainkan yang terlalu lama merasa aman.
Dan 3,37 persen—jika tidak dibaca dengan jujur—bisa menjadi angka yang meninabobokan.
Daerah yang ingin naik kelas tidak bisa hanya menghindari krisis. Ia harus berani mengejar akselerasi.
Dalam kompetisi antar provinsi, tidak ada ruang untuk rasa cukup. Modal, talenta, dan teknologi bergerak menuju wilayah yang menawarkan pertumbuhan lebih cepat dan produktivitas lebih tinggi. Jika suatu daerah tumbuh di bawah rata-rata nasional secara konsisten, ia perlahan kehilangan daya tarik relatif—dan dalam ekonomi terbuka, kehilangan daya tarik berarti kehilangan peluang masa depan.
Pertumbuhan 3,37 persen mungkin tidak terlihat mengkhawatirkan. Tetapi jika angka itu tidak mendorong perubahan arah, maka ia bisa menjadi tanda bahwa kita terlalu nyaman untuk bergerak lebih cepat.





