Penulis: Nirmala Hanifah
TVRINews, Jakarta
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto membeberkan laporan awal mengenai perkembangan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Di mana, capaia tersebut dinilai positif. Namun, ia menegaskan bahwa data tersebut tetap perlu diverifikasi lebih lanjut.
“Saya dapat laporan kemarin, ini tolong diverifikasi, tapi saya dapat laporan bahwa statistik program makan bergizi gratis sampai hari ini, insya Allah kita pertahankan. Kalau bisa kita kurangi lagi, tapi statistik kita disebut lebih baik dari Jepang dan lebih baik dari Eropa. Ini saya baru dapat laporan dua hari yang lalu,” ujarnya saat acara peresmian 1.072 SPPG dan 18 gudang ketahanan pangan Polri di Palmerah, Jakarta pada Jumat, 13 Februari 2026.
Meski laporan tersebut dinilai menggembirakan, Presiden Prabowo mengingatkan agar seluruh jajaran tidak terjebak pada sikap berlebihan.
“Kalau demikian, kita tidak boleh terlalu kecil hati. Jangan kita sombong, jangan kita betapang betenteng. Kesombongan adalah awal dari kehancuran, ingat itu,” tegasnya.
Ia juga menyinggung filosofi kearifan lokal sebagai pedoman dalam memimpin.
“Semakin berisi, semakin menunduk. Itu ilmu padi nenek moyang kita. Semakin kuat, semakin rendah hati. Semakin dihujat, semakin difitnah, ya tegar, senyum,” katanya.
Menurutnya, kritik dan serangan justru menjadi indikator bahwa suatu kebijakan mendapat perhatian luas.
“Kalau kau diserang, kau difitnah, berarti kau diperhitungkan. Orang yang tidak diserang, tidak dihujat, memang dia tidak diperhitungkan,” ucapnya.
Dalam kesempatan itu, Presiden turut menyampaikan apresiasi kepada Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana atas pendekatan yang dinilai berbasis ilmiah dan rasional.
“Pendekatan kita rasional, logika, ilmiah, saintifik, dan hati bersih, niat baik. Kita ingin menghilangkan kemiskinan, kita ingin menghilangkan kelaparan,” kata Presiden Prabowo.
Manta Menha ini menyebut, berdasakan laporan dari sejumlah kepala daerah di berbagai kabupaten menunjukkan dampak sosial mulai terlihat, terutama dalam pengurangan kesenjangan ekonomi.
“Mereka katakan sekarang yakin manfaat dari MBG. Karena apa? Mengurangi kesenjangan. Mereka lihat gini rasionya berkurang,” katanya lagi.
Implementasi program melalui pembentukan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) juga disebut berdampak pada penciptaan lapangan kerja. Dalam satu dapur operasional, sekitar 50 tenaga kerja dilibatkan, termasuk warga yang sebelumnya tidak memiliki penghasilan tetap.
“Yang tadinya tidak punya penghasilan, sekarang bekerja. Mereka bisa bantu suami, bisa membantu anaknya,” ujar Presiden.
Ia juga mengungkapkan laporan dari kalangan pengusaha yang tergabung dalam Asosisasi Pengusaha Indonesia (APINDO)
“Saya ketemu pengusaha-pengusaha APINDO, mereka lapor ke saya, ‘Pak, sudah lama sekali belum pernah. Bulan Januari konsumsi rumah tangga di Indonesia naik sangat tinggi.’ Dan menurut mereka, ini karena MBG,” imbuhnya
Menurutnya, kebutuhan bahan pangan untuk setiap SPPG mulai dari sayur, telur, ayam, hingga daging mendorong perputaran ekonomi di berbagai daerah.
“Setiap hari satu SPPG butuh sayur, butuh telur, butuh ayam, butuh daging, dan sebagainya. Ini menggerakkan ekonomi rakyat,” tuturnya.
Editor: Redaksi TVRINews





