PT Smart Cakrawala Aviation menghentikan sementara penerbangan ke wilayah rawan di Papua usai insiden penembakan pesawat PK-SNR di Bandara Koroway Batu, Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan, Rabu (11/2) lalu, yang menewaskan dua pilotnya.
Direktur Utama PT Smart Cakrawala Aviation, Pongky Majaya, menilai kejadian tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap hak asasi manusia.
“Saya pikir kejadian ini adalah pelanggaran serius terhadap hak asasi manusia,” kata Pongky kepada kumparan, saat ditemui di Kantor Smart Aviation, Jakarta Utara, Jumat (13/2).
Ia kemudian mengatakan, demi keamanan, perusahaan menghentikan sementara penerbangan ke bandara yang pengamanannya dinilai belum memadai.
“Demi keamanan dan juga sesuai dengan imbauan dari aparat, kami sementara ini menghentikan seluruh penerbangan ke daerah yang saat ini penjagaan bandara-bandaranya belum memadai. Kami hentikan dulu sementara,” ujar Pongky.
“Kami tetap akan terbang ke daerah-daerah atau bandara-bandara yang sudah maksimum penjagaannya,” kata Pongky.
Ia mengungkap, insiden tersebut menjadi duka mendalam bagi dunia penerbangan, khususnya PT Smart Cakrawala Aviation, yang harus kehilangan kedua pilotnya.
"Pilot dan seluruh kru kami adalah aset terbesar kami. Kehilangan Kapten Egon, kapten senior kami dan juga kehilangan Kapten Baskoro adalah pukulan berat terhadap perusahaan kami," ujar Pongky.
Namun, Pongky juga menegaskan, Smart Aviation tidak akan meninggalkan Papua dan masih tetap akan melanjutkan penerbangan perintis.
"Namun kami juga harus realistis, perjuangan ini enggak boleh terhenti hanya karena kejadian ini. Kami... statement kami adalah kami akan terus berjuang, kami akan terus terbang di daerah Papua,” ujarnya.
Ia mengatakan, langkah ini akan dibarengi dengan evaluasi dan peningkatan keamanan.
“Dengan tentunya dengan penambahan, penambahan analisis keamanan dan lain-lain yang lebih mantap sehingga harapan kami tidak ada kejadian-kejadian seperti tadi di kemudian hari,” kata Pongky.
Ketika ditanya terkait pengamanan dari pihak maskapai, Pongky turut menegaskan, bahwa pengamanan bandara dan wilayah rawan merupakan tanggung jawab pemerintah.
"Pengamanan terhadap keamanan penerbangan itu sebetulnya adalah tugas dari pemerintah yang mana kami sebagai operator adalah tugas kami adalah menerbangkan dan apa namanya, menerbangkan penduduk masyarakat dan logistik sampai ke daerah tujuan,” ujarnya.
Ia menambahkan, pengamanan di bandara menjadi kewenangan kementerian dan aparat.
“Adapun tugas pengamanan terkait dengan kerawanan dan kondisi di bandara adalah tugas dari kementerian perhubungan dalam hal ini dan juga tentunya berkoordinasi dengan pihak aparat keamanan,” kata Pongky.
Ia juga berharap adanya langkah konkret pasca-insiden yang terjadi.
“Kami mengimbau peran serta pemerintah khususnya dari kementerian perhubungan mengingat kebanyakan penerbangan kami adalah penerbangan perintis yang diselenggarakan Kementerian Perhubungan agar keamanan bandara bisa lebih diprioritaskan dan ditingkatkan,” ujarnya.
Pongky menjelaskan, pesawat PK-SNR saat itu membawa 13 penumpang yang mana satu di antaranya adalah balita. Pesawat terbang dari Tanah Merah menuju Koroway Batu.
"Pesawat kami PK-SNR melakukan penerbangan membawa 12 penumpang dewasa dan satu penumpang balita dari Tanah Merah menuju Koroway Batu," katanya.
Terkait kondisi penumpang, Pongky memastikan bahwa seluruh penumpang berhasil selamat hingga kembali ke kediaman masing-masing.
“Sebagaimana informasi yang kami dapatkan dari pihak aparat bahwa ke-13 yakni 12 yang dewasa dan satu balita selamat sampai ke rumah masing-masing dalam keadaan yang baik ya,” pungkasnya.





