Tak Cuma Biang Kerok Bencana Ekologis, Pakar IPB Sebut Deforestasi Picu Ledakan Nyamuk

medcom.id
4 jam lalu
Cover Berita
Jakarta: Ahli Entomologi IPB University, Prof Upik Kesumawati Hadi, mengungkap, hilangnya tutupan hutan secara permanen akibat aktivitas manusia terbukti tak hanya menyebabkan bencana ekologis. Lebih dari itu, deforestasi juga meningkatkan populasi nyamuk dan risiko penularan penyakit berbahaya.
 
Potensi ini rentang terjadi, utamanya di wilayah bekas hutan yang kini menjadi kawasan permukiman. Deforestasi adalah proses hilangnya tutupan hutan secara permanen akibat campur tangan manusia. Aktivitas tersebut mengubah kawasan berhutan menjadi lahan nonhutan secara irreversibel dan melenyapkan fungsi ekologis hutan.
 
“Hutan memiliki peran utama sebagai habitat flora dan fauna, penyeimbang siklus air, serta pengatur iklim. Ketika hutan hilang, seluruh fungsi tersebut ikut lenyap,” ujar Upik dalam siaran persnya, dikutip Jumat, 13 Februari 2026.

Deforestasi umumnya terjadi di kawasan hutan yang berbatasan langsung dengan aktivitas manusia, seperti pertanian, perkebunan, pertambangan, dan permukiman.  Menurutnya, konversi kawasan hutan untuk kepentingan tertentu menyebabkan hilangnya vegetasi dan ekosistem hutan secara permanen.
 
“Dampak paling serius dari kondisi tersebut adalah hilangnya habitat alami flora dan fauna, terutama spesies endemik. Deforestasi yang terus berlanjut dapat menyebabkan kepunahan berbagai jenis makhluk hidup yang tidak dapat dihindari,” lanjutnya. Ledakan Nyamuk Upik mengatakan, hilangnya hutan juga berdampak langsung pada perilaku nyamuk. Ketika habitat alami nyamuk dan satwa liar rusak, nyamuk kehilangan inang alaminya dan beralih menggigit manusia. 
 
“Manusia yang bermukim di kawasan bekas hutan menjadi target paling mudah sebagai sumber darah utama,” jelasnya.
 
Banyak laporan penelitian menunjukkan wilayah dengan tingkat deforestasi tinggi memiliki populasi nyamuk yang lebih melimpah dan risiko penyakit yang lebih besar.  Berkurangnya keanekaragaman hayati menghilangkan penyangga alami penularan penyakit, sehingga manusia semakin sering menjadi sumber darah utama nyamuk yang bersifat oportunis.
 
Nyamuk dikenal sebagai vektor berbagai penyakit berbahaya, seperti demam berdarah dengue (DBD), Zika, chikungunya, malaria zoonotik, dan demam kuning. “Kondisi ini menjadi peringatan bahwa kerusakan hutan bukan hanya krisis lingkungan, tetapi juga ancaman nyata bagi kesehatan manusia,” tegas Upik.
 
Selain itu, lanjut dia, deforestasi mengganggu siklus air melalui hilangnya proses penguapan dan penyerapan air tanah, meningkatkan risiko banjir, tanah longsor, dan kekeringan. Deforestasi juga menghilangkan fungsi hutan sebagai penyerap karbon, meningkatkan emisi gas rumah kaca, serta memperparah perubahan iklim dan pemanasan global.
 
Sebagai upaya pencegahan, Prof Upik menekankan upaya reboisasi dan penghijauan, pengawasan hutan melalui aparat dan teknologi satelit, serta penegakan hukum yang tegas disertai edukasi masyarakat. 
 
Ia juga menyoroti perlunya peran aktif masyarakat juga dalam mendukung pelestarian hutan, mulai dari kampanye lingkungan hingga pemanfaatan sumber daya hutan secara bijak dan bertanggung jawab. 

Baca Juga :

Ikan Dewa di Kuningan Mati Massal, Guru Besar IPB Ungap Penyebab dan Cara Pemulihan Populasinya

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(CEU)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Gelar Reses Kedua, Anggota DPRD Rezki Serap Aspirasi Warga Kecamatan Makassar
• 7 jam laluterkini.id
thumb
Inter Milan OTW Cuan Fantastis, Bek Murah Mereka Ditawar 40 Juta Euro oleh Klub Liga Inggris di Bursa Transfer Mendatang
• 15 jam lalutvonenews.com
thumb
Syarat Ikut Mudik Gratis Lebaran 2026, Catat Dokumen dan Cara Daftarnya
• 11 jam lalusuara.com
thumb
Hitung-hitungan Prabowo Program MBG Bisa Lecut Ekonomi RI
• 6 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Viralitas Tanpa Konsensus dan Kewajiban Negara Melindungi Korban
• 9 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.