Jakarta, VIVA – Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menargetkan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional bisa menembus antara 5,5 - 6 persen.
Hal itu diutarakannya dalam acara Indonesia Economic Outlook 2026, yang digelar di Wisma Danantara, Jakarta.
"Mungkin pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kuat tahun 2025 akan terus berlanjut hingga tahun 2026," kata Purbaya, Jumat, 13 Februari 2026.
- [Mohammad Yudha Prasetya]
Dia pun membeberkan strategi ekonomi pemerintah guna mencapai target tersebut. Dimana pada kuartal I-2026, belanja negara yang telah dianggarkan mencapai sebesar Rp 809 triliun bisa benar-benar dibelanjakan dengan optimal.
Cakupan programnya antara lain yakni untuk percepatan program Makan Bergizi Gratis (MBG) Rp 62 triliun, pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) Aparatur Sipil Negara (ASN)/TNI/Polri Rp 55 triliun, anggaran rehabilitasi dan rekonstruksi bencana Sumatera sebesar Rp 6 triliun, serta paket stimulus Rp 13 triliun. Sehingga, total stimulus langsung ini mencapai sekitar Rp 136 triliun di luar belanja rutin.
Tambahan momentum diperkirakan juga akan berasal dari faktor musiman, seperti misalnya libur dan cuti bersama Imlek serta Idul Fitri serta kebijakan Work From Anywhere (WFA).
Dengan konsumsi rumah tangga sebagai kontributor utama Produk Domestik Bruto (PDB), Purbaya mengatakan bahwa injeksi sebesar ini berpotensi menghasilkan efek pengganda signifikan, terutama pada sektor perdagangan, transportasi, makanan-minuman, hingga Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).
Pada sisi penawaran dan investasi, akselerasi dilakukan melalui pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) sebanyak 30 ribu unit senilai Rp 90 triliun dan pembangunan 190 ribu unit rumah komersial, rumah subsidi, maupun bantuan renovasi (BSPS/Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya) dengan total Rp 20 triliun. Selain itu, terdapat groundbreaking proyek hilirisasi Danantara senilai US$7 miliar atau sekitar Rp 110 triliun.
Dengan demikian, total dorongan investasi langsung yang teridentifikasi mencapai sekitar Rp 220 triliun. Purbaya mengatakan, investasi ini tidak hanya menciptakan lapangan kerja dan mendorong sektor konstruksi serta industri bahan bangunan, tetapi juga memperkuat hilirisasi berbasis ekspor dan meningkatkan nilai tambah domestik.
“Jadi kita keluarkan semua belanjanya mungkin di triwulan pertama untuk memastikan bahwa momentum pertumbuhan ekonomi masih akan berkelanjutan,” ujarnya.





