FAJAR, SURABAYA — Persebaya Surabaya tak sekadar berpikir tentang laga pekan ini. Di balik dinamika kompetisBursa transfer memang telah usai. Pintu registrasi pemain sudah ditutup rapat. Namun di sepak bola Indonesia, rumor jarang benar-benar berhenti. Ia hanya berubah wujud—menjadi bisik-bisik di tribun, menjadi unggahan samar di media sosial, atau menjadi percakapan panjang di warung kopi sekitar stadion.
Di antara desas-desus yang mengemuka, dua nama mencuat dan mengendap sekaligus: Ragnar Oratmangoen dan Marselino Ferdinan. Yang satu dikaitkan dengan Persib Bandung, yang lain tak pernah benar-benar jauh dari bayang-bayang Persebaya Surabaya.
Apakah ini sekadar spekulasi akhir musim? Atau pertanda pergeseran peta kekuatan menuju musim 2026/2027?
Di Surabaya, proyek itu berjalan nyaris tanpa suara. Sejak ditangani Bernardo Tavares, Persebaya perlahan membangun identitas baru. Bukan sekadar tim yang emosional dan mengandalkan atmosfer Gelora Bung Tomo, tetapi skuad yang terstruktur, disiplin, dan berpikir beberapa langkah ke depan.
Musim ini, Green Force memang masih berjuang menjaga konsistensi. Namun arah klub tampak jelas: bukan hanya ingin bersaing di papan atas domestik, melainkan menyiapkan diri untuk kompetisi Asia. Ambisi itu tidak diucapkan berlebihan, tapi terasa dalam kebijakan perekrutan dan regenerasi pemain.
Di tengah proyek jangka panjang itu, satu nama kembali menghangat: Ramadhan Sananta.
Sananta bukan sekadar penyerang dengan naluri gol. Ia adalah simbol generasi baru tim nasional—striker yang tumbuh dari kompetisi lokal, matang lebih cepat, dan memiliki pengalaman juara bersama PSM Makassar pada musim 2022/2023. Kini bermain di luar negeri, kontraknya akan berakhir pertengahan 2026. Momentum yang terlalu ideal untuk diabaikan.
Bagi Persebaya, Sananta bukan solusi instan atas krisis lini depan yang sempat menghantam akibat cedera para penyerang utama. Ia adalah bagian dari desain. Tavares memahami, untuk berbicara di Asia, klub tak cukup hanya mengandalkan pemain asing berkualitas. Dibutuhkan tulang punggung lokal yang tangguh, mentalnya teruji, dan memahami atmosfer sepak bola Indonesia.
Menariknya, di saat rumor Sananta beredar, Persebaya juga kerap disandingkan dengan Marselino Ferdinan—putra Surabaya yang namanya selalu punya resonansi emosional bagi Bonek. Marselino adalah simbol generasi emas tim nasional. Visi bermainnya, keberanian menusuk dari lini kedua, dan kemampuannya membaca ruang membuatnya berbeda.
Secara realistis, kepulangan Marselino bukan perkara mudah. Ia sedang meniti karier di Eropa. Namun dalam sepak bola, narasi sering kali lebih kuat dari logika. Dan narasi tentang “pulang kampung” selalu memiliki daya pikat tersendiri.
Jika Persebaya berhasil memadukan striker matang seperti Sananta dan gelandang kreatif seperti Marselino, fondasi untuk kompetisi Asia bukan lagi sekadar mimpi. Itu akan menjadi pernyataan.
Di Bandung, cerita yang berbeda tengah berlangsung.
Langkah Persib di Asia musim ini tersendat. Kekalahan telak di kandang Ratchaburi FC pada babak gugur kompetisi Asia membuka mata banyak pihak: level Asia bukan sekadar perpanjangan dari Liga 1.
Di atas kertas, Persib memiliki skuad kompetitif. Kedatangan pemain asing baru diharapkan menjadi pembeda. Namun di lapangan, intensitas, determinasi, dan detail taktik menjadi jurang yang sulit dijembatani.
Di tengah evaluasi itu, muncul wacana liar: bagaimana jika Persib memiliki sosok bertipikal pemimpin besar di lini belakang? Atau penyerang dengan insting klinis di depan gawang?
Nama Sergio Ramos memang terdengar seperti fantasi. Begitu pula Ole Romeny yang digadang-gadang punya darah Indonesia dan agresivitas khas Eropa. Tetapi spekulasi itu mencerminkan kegelisahan publik Bandung: Persib butuh karakter besar untuk benar-benar berbicara di Asia.
Dalam konteks itu, rumor Ragnar Oratmangoen menjadi relevan.
Ragnar adalah pemain dengan pengalaman Eropa, fleksibel di lini depan, dan memiliki keberanian duel satu lawan satu. Ia bukan sekadar winger cepat; ia membawa kultur sepak bola yang berbeda—tempo tinggi, pressing agresif, dan mentalitas kompetitif.
Bagi Persib, pemain seperti Ragnar bisa menjadi jembatan antara ambisi dan realitas. Ia bukan hanya tambahan kualitas, tetapi juga suntikan perspektif baru tentang bagaimana permainan harus dijalankan di level lebih tinggi.
Namun persoalannya tak sederhana. Mendatangkan pemain diaspora atau yang berkarier di Eropa bukan sekadar soal dana. Ada faktor adaptasi, komitmen jangka panjang, hingga keselarasan visi.
Persib saat ini berada di persimpangan: mempertahankan dominasi domestik atau benar-benar menggeser orientasi menuju Asia. Dua-duanya membutuhkan pendekatan berbeda.
Menariknya, baik Persebaya maupun Persib menghadapi pertanyaan serupa: bagaimana menjembatani ambisi dengan realitas?
Persebaya membangun dari dalam—regenerasi, fondasi taktik, dan proyeksi jangka panjang. Persib menghadapi tekanan eksternal lebih besar—ekspektasi publik, sejarah, dan tuntutan hasil instan.
Jika Marselino dan Sananta adalah simbol proyek masa depan Green Force, maka Ragnar—or bahkan sekadar gagasan tentang sosok seperti Ramos dan Romeny—mewakili kerinduan Persib pada figur pembeda.
Sepak bola Indonesia sedang bergerak. Klub-klub mulai berpikir lebih strategis. Kompetisi Asia bukan lagi sekadar bonus, tetapi target. Dan untuk mencapainya, mereka membutuhkan lebih dari sekadar nama besar. Mereka membutuhkan struktur, keberanian mengambil risiko, dan visi yang konsisten.
Bursa transfer memang telah ditutup. Namun proyek tidak pernah berhenti.
Mungkin kejutan itu tidak terjadi musim ini. Mungkin juga tidak semuanya akan menjadi kenyataan. Tetapi satu hal pasti: nama-nama seperti Ragnar Oratmangoen dan Marselino Ferdinan tak akan berhenti bergaung selama ambisi klub-klub besar Indonesia terus tumbuh.
Dan ketika musim 2026/2027 benar-benar dimulai, bisa jadi kita menyadari—rumor yang dulu terdengar liar itu, ternyata adalah tanda awal perubahan besar.




