HARIAN FAJAR — Di Stadion Gelora BJ Habibie, sebuah nama baru bersiap menapaki rumput dengan ekspektasi yang tak kecil: Dusan Lagator.
Debutnya bersama PSM Makassar bukan sekadar soal menit bermain pertama. Ia datang di momen genting—ketika tim terdampar di peringkat ke-13 klasemen Liga Indonesia dengan 23 poin, angka yang terasa rapuh di tengah persaingan papan tengah yang kian padat.
Di hadapan mereka berdiri Dewa United Banten FC, tim dengan 24 poin yang juga sedang berusaha menjauh dari bayang-bayang zona degradasi. Selisih satu angka membuat laga ini lebih dari sekadar pertandingan rutin. Ia adalah pertaruhan arah musim.
Titik Tekan di Lini Tengah
Sepak bola modern kerap dimenangkan di ruang-ruang sempit lini tengah. Di sanalah tempo ditentukan, di sanalah ketenangan diuji. PSM memahami betul bahwa problem mereka bukan semata soal lini depan yang tumpul, melainkan inkonsistensi transisi bertahan yang kerap membuka celah.
Lagator datang untuk menjahit celah itu.
Didatangkan untuk mengisi peran vital yang sebelumnya diemban kapten Yuran Fernandes, gelandang asal Montenegro ini membawa reputasi sebagai pemain dengan disiplin taktik dan pengalaman kompetisi Eropa. Bagi publik Makassar, reputasi itu adalah secercah harapan di tengah tujuh laga tanpa kemenangan.
“Saya akan berikan yang terbaik di pertandingan besok. Saya berharap itu cukup untuk memenangkan pertandingan, karena ini akan menjadi debut saya,” ujarnya dalam konferensi pers, mendampingi pelatih kepala.
Nada bicaranya tenang. Tidak meledak-ledak. Seperti tipikal gelandang bertahan yang lebih banyak bekerja dalam diam, membiarkan statistik intersep dan tekel bersih berbicara.
Membaca Dewa United
Pelatih Tomas Trucha tidak menutupi fakta bahwa lawan mereka bukan tim sembarangan. Di bawah arahan Jan Olde Riekerink, Dewa United tampil dengan struktur permainan yang rapi dan kesabaran dalam membangun serangan.
“Mereka sabar dalam bermain dan menciptakan peluang,” kata Trucha.
Kesabaran itulah yang kerap menjebak lawan. Dewa United tidak tergesa-gesa. Mereka mengalirkan bola, memancing pressing, lalu menusuk ketika ruang terbuka. Jika PSM lengah satu detik saja, hukuman bisa datang tanpa aba-aba.
Di titik ini, peran Lagator menjadi krusial. Ia bukan hanya pemutus serangan, tetapi juga pengatur ritme awal transisi. Ketika PSM merebut bola, dialah yang menentukan: menenangkan permainan atau langsung memotong garis pertahanan lawan dengan umpan progresif.
Debutnya, dengan demikian, bukan sekadar adaptasi individu. Ia adalah ujian struktur kolektif.
Parepare dan Identitas Sepak Bola
Di Makassar dan Parepare, sepak bola bukan hiburan semata. Ia adalah identitas. Stadion Gelora BJ Habibie bukan hanya arena pertandingan, melainkan ruang emosi bersama. Setiap teriakan suporter memanggil sejarah panjang klub yang pernah berdiri sebagai simbol perlawanan dan kebanggaan kawasan timur Indonesia.
Karena itu, tekanan tidak pernah benar-benar sunyi.
Setiap sentuhan pertama Lagator akan dibaca. Setiap salah umpan akan disorot. Namun, di sisi lain, setiap tekel bersih dan distribusi matang bisa menjadi pemantik kebangkitan.
Lagator tampak memahami atmosfer itu. “Semoga dapat hasil terbaik. Saya berharap, ini bisa terjadi sehingga di akhir pertandingan kita meninggalkan stadion dengan bahagia,” katanya.
Kata “bahagia” terdengar sederhana, tapi dalam konteks tujuh laga tanpa kemenangan, ia terasa mahal.
Lebih dari Sekadar Debut
Musim panjang sering kali ditentukan oleh momen kecil—oleh satu pertandingan yang mengubah kepercayaan diri, oleh satu pemain yang menambal lubang tak terlihat. PSM membutuhkan momentum itu.
Jika Lagator mampu menghadirkan stabilitas, PSM bisa mulai merangkai ulang kepercayaan diri yang sempat retak. Lini belakang akan lebih tenang. Lini serang bisa bermain tanpa rasa cemas berlebihan. Dan Trucha memiliki pijakan taktik yang lebih kokoh.
Namun sepak bola tidak pernah memberi jaminan. Nama besar dan pengalaman hanyalah prasyarat. Eksekusi di lapanganlah yang menentukan.
Sabtu sore itu, ketika peluit awal berbunyi dan matahari perlahan turun di ufuk Parepare, publik menyaksikan bukan hanya 90 menit pertandingan. Mereka menyaksikan kemungkinan.
Kemungkinan bahwa musim yang sempat terasa berat bisa berbelok arah. Kemungkinan bahwa satu debut dapat menjadi awal kebangkitan.
Di bawah langit yang sama, PSM tidak sekadar bermain untuk tiga poin. Mereka bermain untuk memulihkan harga diri.
Dan di tengah lapangan, Dusan Lagator berdiri sebagai simbol harapan baru—tenang, fokus, dan siap menulis bab pertamanya bersama Juku Eja.





