EtIndonesia. Model chatbot AI asal Tiongkok, DeepSeek, yang sebelumnya sempat mengguncang dunia dengan klaim “biaya rendah, performa tinggi”, baru-baru ini diam-diam meluncurkan versi terbaru. Namun sehari setelah pembaruan tersebut, warganet Tiongkok langsung heboh.
Banyak pengguna mengeluhkan bahwa DeepSeek setelah diperbarui justru “menjadi bodoh”, gemar berbicara bertele-tele, terlalu kaku, dan terkesan sok menggurui. Media sosial pun dipenuhi kritik.
Gaya Percakapan Berubah Drastis
Pada malam 11 Februari waktu setempat, DeepSeek memperbarui versi web dan aplikasi ponselnya secara diam-diam, sekaligus membuka uji coba terbatas (grey test). Panjang konteks percakapan disebut meningkat hampir delapan kali lipat.
Namun, keesokan harinya para pengguna menemukan bahwa gaya percakapan DeepSeek berubah drastis. Banyak yang merasa kualitasnya menurun tajam. Tagar “DeepSeek disebut menjadi dingin” bahkan sempat masuk daftar tren teratas.
Warganet ramai-ramai mengeluh di media sosial, dengan komentar seperti:
- “Kenapa jadi bodoh begini?”
- “Sekarang galak dan dingin.”
- “Makin sok dan berminyak.”
- “Sering berbicara dengan nada menggurui.”
- “Sudah tidak nyaman dipakai.”
- “Kalau tidak dikembalikan ke versi lama, bakal uninstall.”
Keluhan Pengguna: Dari Gaya Bahasa Hingga Nada Bicara
Beberapa pengguna juga mengeluhkan perubahan kecil namun terasa mengganggu. Misalnya, DeepSeek tidak lagi menyapa dengan nama panggilan yang sebelumnya telah diatur pengguna, melainkan membuka percakapan dengan kalimat formal seperti, “Baik, pengguna kali ini ingin mengetahui…”
Seorang penulis yang menggunakan DeepSeek untuk menulis novel mengaku kecewa dengan perubahan gaya bahasa. Ia mengatakan bahwa versi terbaru terasa “berbau asam dan basi”, dengan kalimat-kalimat pendek yang memecah suasana naratif. Bahkan saat menggunakan mode “deep thinking”, hasilnya tetap terasa kaku dan merusak atmosfer penulisan.
Pengguna lain juga mengkritik bahwa tulisan yang dihasilkan terasa terlalu berlebihan, cenderung dramatis dan kuno, bahkan lebih canggung dibandingkan gaya sastra remaja era belasan tahun lalu. Ia mengaku biasanya menggunakan DeepSeek untuk mengobrol santai, tetapi jika tidak diperbaiki, ia benar-benar akan menghapus aplikasi tersebut.
Beberapa warganet juga menyebut bahwa jawaban DeepSeek kini terasa sangat berpola dan seolah meniru gaya AI lain, tetapi justru kehilangan keunggulan khas yang dulu dimilikinya. Mereka merasa semakin lama digunakan, responsnya semakin terkesan asal-asalan.
Upaya Mengembalikan Gaya Lama Gagal
Di berbagai forum diskusi, pengguna saling bertukar tips untuk mencoba mengembalikan gaya percakapan lama DeepSeek.
Mereka mencoba mengganti versi, mengubah prompt, bahkan melakukan pelatihan ulang. Namun pada akhirnya, banyak yang menyimpulkan bahwa semua upaya tersebut tidak membuahkan hasil.
Meski demikian, ada pula pengguna yang mengaku bekerja di bidang hukum atau pemrograman dan menyatakan bahwa versi terbaru justru lebih efisien dalam menganalisis dokumen hukum atau merekonstruksi basis kode.
Namun, di tengah gelombang kritik yang meluas, suara-suara positif tersebut dengan cepat tenggelam oleh keluhan mayoritas pengguna.
Versi “Cepat” untuk Uji Tekanan?
Seorang sumber dari perusahaan pengembang model AI dalam negeri mengatakan kepada media bahwa versi terbaru DeepSeek lebih menyerupai “versi cepat” atau versi eksperimental.
Diduga, pembaruan ini merupakan bagian dari uji tekanan terakhir sebelum peluncuran versi V4 yang dijadwalkan pada pertengahan Februari 2026. Dalam upaya mempercepat peluncuran fitur baru, pengalaman inti pengguna kemungkinan terabaikan.
Pembaruan ini menunjukkan bahwa dalam persaingan AI yang semakin ketat, inovasi teknis saja belum cukup. Konsistensi pengalaman pengguna tetap menjadi faktor krusial yang dapat menentukan loyalitas dan reputasi sebuah platform. (Jhon)
Sumber : NTDTV.com





