Aksi Tawuran di Jakarta Turun, tetapi Masih Mengkhawatirkan

kompas.id
6 jam lalu
Cover Berita

Aksi tawuran di wilayah Jakarta dan sekitarnya menurun signifikan. Upaya pencegahan terus dilakukan demi terciptanya zero tawuran. Keterlibatan warga dalam menciptakan keamanan Jakarta sangat diperlukan.

Dalam operasi Pekat Jaya 2026 yang digelar dalam rentang waktu 28 Januari sampai 11 Februari 2026, polisi telah mengungkap sejumlah kasus kejahatan di Jakarta. Beberapa yang menjadi perhatian adalah aksi tawuran, termasuk kasus turunannya seperti narkoba dan minuman keras.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Budi Hermanto, Sabtu (14/2/2026), mengatakan sepanjang pelaksanaan operasi, setidaknya ada 772 kasus yang ditangani. Beberapa di antaranya seperti kasus tawuran, geng motor, premanisne, peredaran minum-minuiman keras, narkoba, petasan dan kejahatan jalanan lain.

Dari jumlah itu, sebanyak 937 orang ditangkap. "Sebanyak 487 orang ditahan dan 450 orang lainnya dibina," kata Budi.

Namun, yang menjadi perhatian polisi adalah menurunnya aksi tawuran. Direktur Samapta Polda Metro Jaya Kombe Wahyu Dwi Ariwibowo mengatakan, selama operasi pekat berlangsung, tercatat ada 35 aksi tawuran. Sebanyak 10 tawuran di Jakarta Timur, enam kasus di Jakarta Pusat, dan lima tawuran terjadi di Jakarta Selatan.

Adapun di Depok terdata enam aksi tawuran, sementara untuk wilayah Jakarta Utara, Jakarta Barat, Bekas dan Tangerang masing-masing dua kasus. Jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menurut Wahyu, aksi tawuran di wilayah hukum Polda Metro Jaya cenderung menurun. "Tahun lalu jumlah (tawuran) mencapai 60 kasus, tahun ini hanya 35 kasus. Turun hampir setengahnya," katanya.

Baca JugaTawuran di Jakarta Tidak Pernah Mati, Justru Nyawa yang Rentan Melayang

Walau dari segi kuantitas, jumlah tawuran menurun namun dari segi perolehan barang bukti ada peningkatan signifikan. Dari kasus itu, polisi menyita puluhan barang bukti seperti senjata tajam berupa celurit panjang. "Celurit banyak dan besar itu didapatkan pelaku dari media online dan pasar," katanya.

Selain itu, polisi menyita 225.280 butir obat-obatan terlarang, 20.802 botol minuman keras, dan 572 petasan," katanya.

Adapun pelaku tawuran cenderung beragam. Ada yang sudah dewasa, dan ada pula yang masih di bawah umur. "Bagi pelaku dewasa dilakukan penegakan hukum, sedangkan pelaku anak dilakukan pembinaan," katanya.

Direktur Perlindungan Perempuan dan Anak serta Pemberantasan Perdagangan Orang Polda Metro Jaya Kombes Rita Wulandari mengatakan, kekerasan yang dilakukan oleh anak umumnya dipengaruhi oleh paparan konten kekerasan di media sosial.

"Jadi dengan menyiarkannya di media sosial, mereka ingin menunjukan ada pride (kebanggaan) untuk menunjukan jati diri baik sebagai personal maupun sebagai anggota di komunitasnya," kata Rita.

Berbagai upaya dilakukan untuk mengurangi risiko pecahnya tawuran. Mulai dari edukasi ke sekolah-sekolah hingga berkoordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Digital untuk mencabut konten kekerasan yang dapat memicu anak muda untuk terlibat tawuran.

Sebelumnya beberapa aksi tawuran sempat terekam, bahkan beberapa di antaranya menelan korban. Seperti di Kawasan Papango, Jakarta Utara, yang menelan satu korban jiwa, yakni AS. Dia tewas setelah dibacok oleh dua tersangka, yakni B (20) dan D (18).

Baca JugaTawuran Lagi dan Lagi, Legislatif Usul Bansos Dicabut

Adapun dua pelaku telah ditangkap. Dari hasil keterangan, para pelaku memang sengaja mencari korban secara acak untuk memancing pihak lain ikut dalam tawuran. "Motifnya hanya untuk memancing pihak lain terlibat dalam tawuran," katanya.

Motif yang sama juga terjadi saat tiga siswa menyiram air keras ke kelompok siswa yang lain di Jalan Cempaka Raya, Cempaka Putih Barat, Jakarta Pusat, Jumat (6/2/2026). Kejadian itu viral di media sosial pada Minggu (8/2/2026).

Kepala Satuan Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat Ajun Komisaris Besar Roby Heri Saputra, Senin (9/2/2026), mengatakan, dari hasil pemeriksaan sementara, ketiga pelaku beralasan menyiram ke tiga korban karena takut diserang. ”Mereka (pelaku) menyerang secara random (acak). Daripada diserang duluan, lebih baik menyerang lebih dulu,” kata Roby.

Bahkan, antara pelaku dan korban tidak saling kenal. Kelompok pelaku bersekolah di kawasan Cempaka Putih, sementara kelompok korban berasal dari sekolah yang ada di Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Baca JugaJakarta Masih Rentan Jadi Arena Tawuran, Solusi Harus Sentuh Akar Masalah
Persoalan psikosial

Psikolog klinis dan forensik Kasandra Putranto menilai fenomena aksi kekerasan yang dilakukan secara acak oleh remaja, khususnya di wilayah perkotaan, menunjukkan adanya persoalan psikososial yang cukup serius. Tindakan ini tidak bisa dipahami semata-mata sebagai kenakalan remaja biasa, karena melibatkan kekerasan ekstrem, penggunaan benda berbahaya, serta dilakukan tanpa relasi personal antara pelaku dan korban.

Dalam banyak kasus, kekerasan acak seperti ini tidak hanya didorong oleh konflik personal, melainkan juga dipengaruhi berbagai faktor lain, seperti kegagalan remaja dalam mengelola emosi dan empati, akumulasi tekanan emosional, kebutuhan akan pengakuan, tekanan kelompok, serta paparan kekerasan, baik secara langsung maupun tidak langsung

Secara psikologis, lanjut Kasandra, remaja berada pada fase perkembangan di mana kontrol impuls dan penilaian moral belum matang, sementara dorongan emosi dan kebutuhan pengakuan sosial sangat kuat. Kekerasan yang dilakukan secara acak juga menunjukkan adanya dehumanisasi korban, di mana pelaku tidak lagi memandang korban sebagai individu, melainkan sebagai objek pelampiasan agresi.

”Proses ini sering muncul pada lingkungan yang minim empati dan terbiasa dengan paparan kekerasan berulang,” katanya.

Dalam konteks perkotaan yang kompetitif dan anonim, korban sering kali dipilih secara acak karena dianggap “aman secara emosional” bagi pelaku tidak memiliki ikatan, sehingga tidak memunculkan rasa bersalah secara langsung.

Karena itu, ucap Kasandra, perlu ditekankan bahwa motif pelaku tidak selalu soal eksistensi atau ingin terkenal, tetapi juga dipengaruhi oleh normalisasi kekerasan di lingkungan sosial, paparan konten kekerasan, lemahnya kontrol sosial, serta kurangnya ruang aman bagi remaja untuk mengekspresikan emosi dan mencari bantuan psikologis.

Agar aksi kejahatan termasuk tawuran dapat dikikis, Kepala Polda Metro Jaya Inspektur Jenderal Asep Edi Suheri menyebut pentingnya keterlibatan semua elemen masyarakat dalam memperkuat kolaborasi untuk menjaga keamanan Jakarta.

Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk sama-sama menjaga suasana Ramadhan agar tetap teduh, dan menentramkan dengan cara, yang menjaga ketertiban dan toleransi. "Jangan mudah terprovokasi dan kedepankan musyawarah," kata Asep.

Apabila terjadi persoalan di wilayahnya, Asep meminta warga agar berkoordinasi serta melaporkan potensi kejadian sesegera mungkin ke keamanan dan kepolisian setempat.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Imlek Datang, Mari Menikmati Manisnya Kebersamaan dalam Seloyang Kue Keranjang
• 5 jam lalukompas.id
thumb
Sekolah Bukan Tempat Penitipan Anak: Penguatan Integritas Tri Pusat Pendidikan
• 4 menit lalukumparan.com
thumb
Link Live Streaming Liverpool vs Brighton Dini Hari Nanti di Piala FA, Kick-off Pukul 03.00 WIB
• 4 menit lalukompas.tv
thumb
Wall Street Beragam di Tengah Penurunan Inflasi AS
• 12 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Cara Daftar Mudik Gratis 2026 Jasa Raharja dan Syaratnya
• 12 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.