Imlek Datang, Mari Menikmati Manisnya Kebersamaan dalam Seloyang Kue Keranjang

kompas.id
8 jam lalu
Cover Berita

Kemeriahan menyambut Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili yang jatuh pada 17 Februari 2026 sudah terasa di sentra perajin kue keranjang di Bandar Lampung, Lampung, sejak satu bulan lalu. Setiap hari, puluhan karyawan sibuk membuat ribuan kue keranjang atau tutun, yang khas disajikan saat Imlek.

Salah satunya terlihat di rumah produksi kue keranjang Subur Jaya di Kampung Sawah, Kecamatan Tanjung Karang Timur, Kota Bandar Lampung, Jumat (13/2/2026). Siang itu, sedikitnya 20 karyawan mencetak adonan tepung beras ketan dan gula pasir pada loyang-loyang bulat berdiameter 15 sentimeter.

Adonan yang sudah dimasukkan dalam loyang kemudian ditata di atas perapian untuk dikukus selama 10 jam. Pembuatan kue basah itu memang memakan waktu lama. Semua demi hasil kue tutun berwarna kecoklatan.

Setelah matang, kue lantas dikeluarkan dari loyang untuk didinginkan dan dibungkus. Diberi label ”Teratai”, kuliner khas itu siap dijual.

Sebagian dikirim ke berbagai toko yang ada di Lampung. Sebagian lainnya untuk konsumen yang datang ke pabrik.

Akan tetapi, kue keranjang itu tidak hanya memberi kebahagiaan untuk konsumen. Para pekerja juga ketiban rezeki. Pekerja kue keranjang ”Teratai” berasal dari berbagai suku dan agama.

Baca JugaImlek, Bagaimana Peruntungan dan Tantangan di Tahun Kuda Api?

Salah satunya adalah Kamilatun (32). Ibu dua anak ini keturunan Jawa.

Kamilatun mengatakan, sudah tiga tahun bekerja membuat kue di pabrik kue Subur Jaya milik warga keturunan Tionghoa tersebut. Bagi Kamilatun, Imlek membawa berkah dan rejeki tersendiri karena karyawan akan membuat lebih banyak kue.      

Satu bulan menjelang Imlek, pabrik sudah mulai memproduksi kue keranjang. Banyaknya pesanan membuat karyawan harus bekerja lebih gesit.

Baca JugaBarongsai Long Wang, Tebar Keceriaan dan Persaudaraan Imlek di Tahun Menantang

Dalam sehari, target produksinya mencapai 2.000 loyang per hari. Setiap hari, dia bekerja sejak pukul 07.30 hingga pukul 18.00 WIB.

Tak sulit bagi karyawan untuk bekerja membuat kue keranjang secara bergotong-royong. Sehari-hari, Kamilatun bertugas mengeluarkan kue yang sudah dikukus dari dalam loyang. Karyawan lain ada yang bertugas mencetak, mengukus, atau menata kue-kue itu ke dalam kardus.

Tahun ini, Imlek yang berbarengan dengan awal Ramadhan kian membawa berkah tersendiri. Setelah perayaan Imlek, karyawan akan lanjut bekerja untuk membuat kue-kue kering untuk Lebaran.

Kamilatun dan karyawan lainnya di pabrik kue itu gembira menyambut perayaan hari-hari besar keagamaan seperti itu.  Semua artinya, mereka bisa bekerja setiap hari.

“Alhamdulillah, kerjaan ramai terus, bisa tambah rezeki keluarga,” ucap Kamilatun.

Baca JugaImlek, Migrasi Terbesar Antero Bumi

Menurut dia, pemilik pabrik juga amat toleran teradap para karyawan yang beragama Islam. Setiap awal Ramadhan, misalnya, pabrik akan tutup beberapa hari agar para karyawannya punya kesempatan sahur dan berbuka bersama keluarganya di rumah.

Selama Ramadhan, jam kerja pabrik juga akan menyesuaikan waktu ibadah dan berbuka puasa bagi para karyawan. Para karyawan sudah bisa pulang ke rumah sebelum azan magrib berkumandang.

Baca JugaImlek, ”Chunyun”, dan Hadirnya Negara

Hasan Kurniawan, pemilik Subur Jaya mengatakan, tempat usahanya sudah mulai memproduksi kue keranjang sejak pertengahan Januari 2026. Tahun ini, para karyawan bisa memproduksi 1.000-2.000 kue keranjang per hari.

Menurut dia, permintaan kue keranjang sebenarnya lebih banyak dari itu. Namun, Hasan terpaksa membatasi pemesanan yang datang dari berbagai daerah karena kapasitas pabrik terbatas.

Mendekati perayaan Imlek seperti sekarang ini, banyak pembeli yang suka datang ke pabrik untuk membeli langsung kue keranjang yang baru matang. Kue seberat 500 gram itu dijual Rp 15.000 per buah.

Saat ini, kue keranjang tidak hanya dinikmati oleh masyarakat Tionghoa. Banyak masyarakat dari berbagai suku di Lampung yang juga menyukai kue khas Imlek itu.

Tekstur kue yang kenyal dan rasa yang manis bercampur aroma gula karamel membuat kue itu terasa lezat saat disantap. Karena itulah, jumlah pesanan tiap tahun juga semakin meningkat.

Baca JugaLengket Kue Keranjang Merekatkan Keluarga
Mengikat

Pabrik kue yang sudah berdiri sejak tahun 1975 itu memang sudah lama mempekerjakan warga sekitar. Para karyawan pabrik kue berasal dari berbagai suku dan agama, menjadi potret keberagaman masyarakat yang ada di Lampung.

Dia menjelaskan, kue tutun yang dibuat dari bahan utama ketan dan gula mempunyai makna filosofi tersendiri di kalangan masyarakat Tionghoa. Lengketnya ketan dan manisnya gula melambangkan makna agar kue itu bisa sebagai pengikat hubungan baik antar masyarakat.

“Kue tutun itu punya makna untuk mengikat persaudaraan, karena kan sifat dari ketan itu kan lengkat. Jadi diasosiasikan untuk mengikat kekeluargaan,” kata Hasan, yang sehari-hari akrab disapa Koh Kiki.  

Baca JugaPerajin Kue Keranjang di Bandar Lampung Kewalahan Penuhi Order

Masyarakat Tionghoa biasanya akan memberikan kue tutun pada saudara dan para kerabatnya. Tak terbatas untuk sanak keluarga dari kalangan suku Tionghoa, tapi juga untuk kerabat yang berbeda suku dan agama.

Semangat itu pula yang terus dia jaga dalam menjalankan usaha kue itu. Hasan yang merupakan generasi kedua yang melanjutkan usaha orangtuanya juga terus melestarikan keberagaman di pabrik kue milik keluarganya.

Dia tak memandang perbedaan suku dan agama saat merekrut karyawan, melainkan mempertimbangkan kesungguhan bekerja. Keberagamaan suku dan agama para karyawannya justru semakin mempererat kebersamaan di pabrik kue itu.

Sebagai keturunan Tionghoa, Hasan juga senang bisa membantu perekonomian warga sekitar pabrik. Para karyawan yang mayoritas adalah ibu-ibu hingga lansia mempunyai penghasilan untuk meningkatkan ekonomi keluarganya.

Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Lampung Christian Chandra menjelaskan, selain sebagai pengikat persaudaraan, kue keranjang melambangkan kesempurnaan, keberuntungan, dan kesatuan.

“Kue keranjang dibuat dalam bentuk bulat karena memiliki makna simbolis dalam budaya Tionghoa. Bentuk bulat melambangkan kesempurnaan, keberuntungan, dan kesatuan. Selain itu, bentuk bulat juga diyakini dapat membawa keberkahan dan kemakmuran yang tidak terbatas,” ungkap Christian.

Dia menambahkan, saling berbagi kue keranjang saat perayaan Imlek juga membawa kebahagiaan  dan memperat kekeluargaan. Tak hanya untuk sesama masyarakat Tionghoa, kue keranjang juga dinikmati masyarakat dari berbagai suku.

Baca JugaImlek, Rayakan Pengharapan

Cara penyajian kue keranjang juga semakin beragam. Ada yang hanya dipotong-potong langsung dimakan, tapi ada juga yang digoreng dengan dilumuri tepung terigu.

Ada juga memakannya dengan campuran parutan kelapa muda atau kuah santan. Ragam penyajian kue keranjang itu menunjukkan akulturasi budaya masyarakat dalam menikmati kue tersebut.

Demikian pula di Lampung, rasa kebersamaan menyambut Imlek itu terjalin antar masyarakat yang berbeda suku dan agama. ”Saat Imlek, ada tradisi berbagi kue keranjang, tak hanya untuk keluarga dari keturunan Tionghoa. Di Lampung, Imlek itu milik semuanya,” ujarnya.

Baca JugaBarongsai, Simbol Keberuntungan dan Kebangkitan Budaya Tionghoa di Indonesia

Saat ini, diperkirakan ada kurang lebih 200.000 warga keturunan Tionghoa yang tinggal di Lampung. Mereka hidup berdampingan dan berbaur dengan masyarakat berbagai suku di 15 kabupaten dan kota di Lampung. Tak sedikit pula warga Tionghoa yang kemudian menikah dengan warga dari suku lain.

Selama ini, PSMTI Lampung juga turut merawat keharmonisan dan keberagaman masyarakat Lampung lewat berbagai kegiatan sosial. Selain donor darah, pihaknya juga secara rutin mengadakan bakti sosial untuk masyarakat luas.

Mereka juga terlibat dalam berbagai kegiatan seni budaya masyarakat Lampung. Demikian pula banyak masyarakat dari berbagai suku dan agama di Lampung yang terampil menjadi pemain barongsai. Setiap perayaan Imlek, atraksi barongsai juga dinikmati seluruh elemen masyarakat.

Karena itulah, perayaan Imlek tahun ini menjadi momentum untuk semakin memperkuat rasa persaudaraan dan toleransi di Tanah Air, termasuk di Lampung. Seperti makna yang tersimpan dalam seloyang kue keranjang, yakni menjadi pengikat persaudaraan yang manis dan hangat sepanjang masa.

Baca JugaKue Tutun, Kue Keranjang dari Lampung

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Tangis dan Doa Anak Riza Chalid Usai Dituntut 18 Tahun Penjara: Bismillah, Semoga Allah Lindungi Kita Semua
• 13 jam lalutvonenews.com
thumb
Sanca Albino Warga Jaktim Menghilang, Ternyata Ngumpet di Kap Mobil
• 1 jam laludetik.com
thumb
Trump Kirim Kapal Induk Kedua AS ke Timur Tengah, Tingkatkan Tekanan ke Iran
• 21 jam lalukumparan.com
thumb
Anggota Banser Beberkan Detik-detik Dugaan Penganiayaan oleh Bahar bin Smith di Tangerang
• 9 jam lalukompas.com
thumb
Roy Suryo Anggap Lucu Pemeriksaan Kembali Jokowi oleh Polisi
• 22 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.