PONOROGO (Realita)- Ketika jembatan runtuh dan negara tak kunjung hadir, warga Dusun Purworejo, Desa Gedangan, Kecamatan Ngrayun, Kabupaten Ponorogo hanya punya satu pilihan: bertahan dengan swadaya, meski harus mempertaruhkan nyawa.
Di atas derasnya arus Sungai Jabok, sebuah kereta gantung darurat kini menjadi satu-satunya penghubung antarwilayah. Alat sederhana itu berdiri bukan berkat proyek pemerintah, melainkan dari uang receh hasil patungan ratusan warga yang selama bertahun-tahun hidup di wilayah pinggiran.
Baca juga: Jembatan Ambrol di Bungkal Ponorogo, Dua Pengendara Motor Jadi Korban
Suyanto, pengelola kereta gantung darurat, menuturkan bahwa praktik swadaya sejatinya telah lama menjadi jalan hidup warga. Sejak 2010, masyarakat Dusun Purworejo sepakat menyisihkan penghasilan dari bertani porang dan bekerja di luar daerah demi membangun jembatan penghubung.
“Awalnya hanya jembatan dari anyaman bambu. Sedikit demi sedikit kami kumpulkan uang. Sampai 2014 akhirnya berdiri jembatan beton. Total dana swadaya waktu itu sekitar Rp300 juta,” ujar Suyanto, Sabtu (14/2/2026).
Namun keterbatasan material dan minimnya pendampingan teknis membuat jembatan itu tak pernah benar-benar kokoh. Berkali-kali ambrol diterjang banjir, lalu ditambal seadanya menggunakan balok kayu jati. Hingga akhirnya, awal Januari 2026, jembatan tersebut runtuh kembali—kali ini memutus akses utama warga selama hampir sepekan.
Tak ada alat berat yang datang. Tak ada proyek darurat. Tak ada kepastian kapan jembatan akan dibangun ulang oleh pemerintah daerah.
Sekitar 8 Januari 2026, warga kembali mengandalkan solidaritas. Ratusan kepala keluarga patungan mengumpulkan sekitar Rp10 juta untuk membangun kereta gantung darurat. Bukan demi kenyamanan, melainkan agar aktivitas hidup—sekolah, bekerja, hingga berobat—tak sepenuhnya terhenti.
Kini, warga Dusun Purworejo di Ponorogo dan Dusun Pegat, Desa Depok, Kecamatan Panggul, Kabupaten Trenggalek harus bergelantungan di atas sungai berarus deras setiap hari. Anak sekolah, buruh, petani, hingga warga yang sakit terpaksa melintas dengan risiko jatuh setiap saat.
“Akses pendidikan dan layanan kesehatan otomatis terganggu. Kondisi ini sudah kami laporkan ke pemerintah desa, tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut,” kata Suyanto.
Salah satu pengguna kereta gantung, Feby Ellen, mengaku ketakutan karena baru pertama kali melintas menggunakan sarana darurat tersebut.
“Takut banget, ini tadi mau berangkat kerja. Baru tahu kalau jembatannya ambrol, jadinya mau nggak mau lewat sini,” tuturnya.
Kepala Dusun Purworejo, Sumarno, menyebut sedikitnya 750 warga terdampak langsung akibat ambrolnya jembatan. Dampaknya merembet ke seluruh sektor kehidupan masyarakat.
Ia membenarkan bahwa jembatan tersebut telah beberapa kali diperbaiki secara swadaya setelah ambrol diterjang banjir.
“Ini akses tercepat ke Trenggalek. Mayoritas warga sini kalau sekolah sampai berobat pasti ke sana,” ujarnya.
Di Ngrayun, swadaya bukan lagi pilihan, melainkan keterpaksaan. Ketika infrastruktur runtuh berulang kali dan respons pemerintah daerah berjalan lambat, yang tersisa hanyalah solidaritas—serta keberanian warga untuk terus bergelantungan di atas sungai, menunggu pembangunan yang entah kapan benar-benar datang. znl
Editor : Redaksi





