Pernah terbayang jika aroma tajam espresso yang modern justru menyeruak di antara keriuhan pasar tradisional? Di Kediri, fenomena ini bukan lagi sekadar imajinasi, melainkan juga realitas baru yang bisa ditemukan saat menapakkan kaki di lantai dua Pasar Setono Betek.
Di balik deretan kios yang tampak sederhana, kini tersaji kontras yang unik; sebuah pertemuan antara mesin kopi canggih dan suasana pasar yang autentik, menciptakan sebuah pergerakan budaya urban yang merakyat.
Milenial dan Gen Z di kota ini kini gemar mengeksplorasi sudut-sudut kota demi mencari pengalaman yang lebih "jujur" dan autentik. Langkah kaki mereka sering kali berujung di lantai dua Pasar Setono Betek untuk menemukan sebuah anomali yang puitis, di mana barisan kios yang sempat lama tak berpenghuni kini justru bernapas kembali.
Lantai dua Setono Betek bukan lagi sekadar area komersial yang gagal, melainkan juga telah bermutasi menjadi ruang ketiga tempat ide-ide segar, diseduh bersama secangkir kopi di tengah suasana yang gritty dan autentik.
Setono Betek: Eksperimen Ruang Ketiga di Lantai DuaJika lantai satu Pasar Setono Betek adalah simfoni keriuhan khas pasar basah—tempat transaksi daging, sayur, dan bumbu dapur yang intens—naiklah ke lantai dua untuk menemukan sebuah ruang yang puitis. Di sana, barisan kios yang sempat lama tak berpenghuni dan sepi peminat kini justru bernapas kembali. Milenial dan Gen Z Kediri menyulap "ruang mati" ini menjadi laboratorium kreatif yang tak terduga.
Lantai ini telah bermutasi menjadi ruang ketiga tempat ide-ide segar diseduh bersama secangkir kopi di tengah suasana yang gritty dan autentik.
Ada daya tarik estetik yang jujur saat sebuah kedai kopi modern berdiri di antara deretan rolling door kusam yang terkunci. Fenomena ini menciptakan suasana liminal space—sebuah ruang transisi yang terasa "mentah" dan jauh dari kesan fake atau terlalu dipoles seperti kafe-kafe di pusat kota.
Di sini, kemewahan tidak diukur dari sofa empuk atau pendingin ruangan yang menggigit, tetapi dari keberanian untuk menghuni kembali sudut kota yang sempat dilupakan. Strategi moralnya jelas: "menghidupkan kembali" fungsi bangunan tanpa harus melakukan renovasi besar-besaran yang seringkali justru menghilangkan jiwa asli pasar.
Di lantai dua ini, batas antara pengunjung dan pemilik usaha sering kali melebur dalam semangat kolektif. Kedai kopi menjadi penghuni baru yang tidak merasa asing di tengah pasar tradisional.
Pasar bukan lagi hanya tentang transaksi kebutuhan pokok yang selesai dalam hitungan menit, melainkan juga telah menjadi titik temu sosial di mana batas antara pedagang pasar tradisional di lantai bawah dan pelaku kreatif modern di lantai atas melebur dalam satu frekuensi. Eksperimen ini membuktikan bahwa pasar tradisional bisa tetap relevan jika diberi kepercayaan untuk menjadi ruang berekspresi bagi generasi baru.
Diplomasi Ruang dan Sustainability yang MembumiDi Pasar Setono Betek, gerakan ramah lingkungan tidak hadir lewat kampanye zero waste yang muluk, tetapi melalui praktik nyata pemanfaatan ruang yang ada. Bagi Milenial dan Gen Z, bentuk sustainability yang paling jujur adalah dengan tidak menambah beban bumi melalui pembangunan gedung baru yang rakus semen, tetapi dengan menghuni kembali bangunan yang sudah berdiri.
Memilih lantai dua Setono Betek sebagai pusat aktivitas adalah sebuah "diplomasi ruang"; sebuah pernyataan bahwa kemajuan kota tidak harus selalu berarti penggusuran, tetapi pemberian fungsi baru pada sisa-sisa arsitektur lama.
Di sini, diplomasi tersebut terlihat dari bagaimana para pelaku usaha muda beradaptasi dengan keterbatasan kios pasar. Tanpa perlu banyak dekorasi plastik atau renovasi yang berlebihan, mereka memanfaatkan struktur asli pasar—dinding semen yang apa adanya, ventilasi udara alami yang lapang, hingga pencahayaan matahari yang masuk melalui celah bangunan.
Ini adalah gaya hidup berkelanjutan yang sangat urban; sebuah kesadaran bahwa ruang publik yang paling "hijau" adalah ruang yang tidak dibiarkan kosong dan berdebu.
Strategi moral ini juga berdampak pada ekosistem di sekitarnya. Dengan aktifnya lantai dua, sirkulasi manusia di pasar ini menjadi lebih merata, yang secara tidak langsung mendukung keberlangsungan hidup pedagang tradisional di lantai bawah.
Anak-anak muda datang untuk mencari "kopi kalcer" di atas, sementara lantai bawah tetap eksis dengan transaksi bahan mentah. Inilah esensi keberlanjutan yang sesungguhnya di Setono Betek: sebuah simbiosis ekonomi yang menjaga agar jantung perdagangan tradisional Kediri tetap berdenyut, sambil tetap memberi ruang bagi kreativitas bagi generasi baru.
Akomodasi Budaya: Cara Espresso Diterima oleh Pasar TradisionalKehadiran mesin espresso di lantai dua Setono Betek bukan sekadar perpindahan alat seduh, melainkan juga sebuah proses akomodasi budaya yang cair dan inklusif. Espresso—yang sering kali dicitrakan sebagai minuman urban yang eksklusif—di sini justru belajar berbaur dengan ekosistem pasar yang merakyat.
Di lorong-lorong lantai dua ini, aroma kopi modern yang kuat bertemu secara alami dengan harum cenil dan jajanan pasar lainnya. Penerimaan ini terjadi karena espresso tidak datang sebagai penantang budaya lokal, tetapi sebagai pelengkap yang menawarkan pengalaman baru bagi pengunjung, tanpa menghilangkan identitas asli pasar yang sudah ada sejak lama.
Cara espresso "berkomunikasi" dengan pasar terlihat dari bagaimana kedai-kedai kopi di sini mengadopsi konsep terbuka yang ramah. Tidak ada sekat kaca kedap suara yang kaku; kedai-kedai seperti Blackbox Coffee Spot dan belasan kios lainnya justru memanfaatkan ruang pasar untuk menciptakan suasana yang nyaman bagi komunitas kreatif.
Di tengah hiruk-pikuk pedagang di lantai bawah, lantai dua menawarkan ruang untuk rapat kecil hingga panggung live music. Espresso diterima dengan baik karena ia menjadi magnet yang menarik kerumunan baru, membuat pasar tetap berdenyut dari pagi hari hingga larut malam.
Lebih dari sekadar minuman, espresso di Setono Betek menjadi jembatan antara gaya hidup kontemporer dengan tradisi lokal. Di satu meja, seseorang bisa menikmati secangkir latte yang presisi, sementara di meja sebelah ada piring berisi dimsum atau croffle yang sedang tren.
Kolaborasi unik ini membuktikan bahwa teknologi seduh modern bisa hidup berdampingan dengan kuliner tradisional dalam satu frekuensi yang harmonis. Espresso diterima oleh pasar tradisional karena ia tidak mencoba mengubah aturan main, tetapi ikut merayakan keriuhan pasar dengan cara yang lebih segar dan estetik bagi generasi masa kini.
Masa Depan yang Menoleh ke BelakangPada akhirnya, fenomena lantai dua Pasar Setono Betek adalah sebuah pengingat bahwa kemajuan sebuah kota tidak selalu harus diukur dari seberapa banyak gedung baru yang menjulang. "Naik kelas" bagi pasar tradisional Kediri bukan berarti mengubahnya menjadi mal yang steril dan kehilangan jiwa, melainkan tentang bagaimana kita memberi makna baru pada ruang yang sudah ada.
Generasi muda di kota ini telah menunjukkan bahwa masa depan yang keren justru bisa ditemukan dengan cara menoleh ke belakang—menghuni kembali kios-kios sepi dan mengubahnya menjadi pusat "Kopi Kalcer" yang inklusif tanpa harus mencabut akar tradisinya.
Pasar Setono Betek telah membuktikan bahwa keterbatasan ruang bukanlah penghalang bagi kreativitas; ia justru menjadi tantangan untuk menciptakan urbanisme yang lebih manusiawi. Di sini, keberlanjutan hidup bukan hanya soal kampanye lingkungan, melainkan juga soal bagaimana satu generasi bersedia "pulang" ke pasar dan menghidupkan kembali denyut ekonomi tempat tinggalnya sendiri.
Strategi moral ini menciptakan harmoni yang langka: tempat di mana aroma espresso dari atas dan bau rempah dari bawah tidak saling berbenturan, tetapi melebur menjadi aroma khas sebuah kota yang sedang merawat identitasnya.
Maka, saat Anda duduk di lantai dua Setono Betek sambil menyesap kopi di tengah barisan kios, ingatlah bahwa Anda sedang berada di sebuah titik balik. Anda sedang merayakan sebuah kota yang menolak untuk melupakan sejarahnya, tetapi tetap terbuka pada perubahan.
Di sini, pasar bukan lagi sekadar tempat mencari kebutuhan pokok, melainkan juga tempat kita belajar berinteraksi dan kembali menghargai hal-hal yang otentik. Di Kediri, masa depan tidak datang dengan menghancurkan masa lalu, tetapi dengan menyeduhnya kembali secara bijak.





