Transjakarta, Teman Irit Warga Kota Saat Biaya Hidup Kian Mengimpit 

kompas.id
5 jam lalu
Cover Berita

Di tengah biaya hidup yang terus meningkat, Transjakarta menjadi penyelamat dompet jutaan warga Jakarta. Dengan memanfaatkan layanan bus ini, warga dapat menghemat biaya transportasi hingga Rp 174.000 per bulan, setara 1,6 persen dari total pengeluaran bulanan rumah tangga.

Angka ini terungkap dalam kajian terbaru Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) yang dipaparkan dalam diseminasi Kajian Dampak Ekonomi Subsidi Transjakarta yang digelar bersama PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) di FEB UI Salemba, Rabu (11/2/2026).

Menurut studi tersebut, penghematan 1,6 persen hampir setara dengan rata-rata alokasi belanja rumah tangga untuk buah-buahan, yang berada di kisaran 1,7 persen. Dengan naik Transjakarta, sebuah keluarga bisa mengalihkan anggaran transportasinya untuk memenuhi kebutuhan gizi tanpa harus menambah total pengeluaran bulanan.

Dari sisi tarif, Transjakarta masih mempertahankan tarif flat Rp 3.500 hingga kini. Dengan demikian, warga cukup mengeluarkan Rp 7.000 untuk perjalanan pulang-pergi setiap hari. Angka ini lebih terjangkau dibandingkan biaya kendaraan pribadi atau ojek daring untuk jarak yang sama.

Bagi Devia (32), warga Jakarta Barat yang bekerja di Jakarta Pusat, Transjakarta bukan sekadar pilihan transportasi, tetapi juga solusi praktis untuk mengelola keuangan. Moda transportasi ini dinilai lebih hemat sekaligus biaya perjalanannya bisa diprediksi setiap bulan.

Menurut Devia, transportasi berbasis aplikasi, seperti ojek daring atau taksi online, memang menawarkan fleksibilitas. Namun, harganya sering kali tidak bersahabat bagi pekerja harian.

”Kalau pakai kendaraan lain bisa lebih mahal dan tergantung kondisi jalan. Kalau cuaca sedang buruk atau macet, biaya naik ojek daring pasti lebih tinggi,” ujarnya di Jakarta, Minggu (15/2/2026).

Baca JugaTransjakarta Akan Tambah Rute di Bodetabek

Jika dihitung dalam satu minggu kerja (lima hari), total pengeluaran transportasi Devia hanya sekitar Rp 35.000. Uang yang dihemat bisa dialihkan untuk kebutuhan lain, seperti menambah belanja dapur, membeli susu dan buah untuk anak, atau sekadar menjadi tabungan darurat.

Perjalanan yang ia tempuh setiap hari sekitar 10 km sekali jalan. Jika menggunakan mobil, pengeluaran bisa mencapai puluhan ribu rupiah per hari, belum termasuk parkir. Sedangkan naik kendaraan online berkisar Rp 35.000–Rp 45.000 sekali jalan. Dengan Transjakarta, biaya yang sama bisa menutupi transportasi selama seminggu penuh.

Selain ongkos yang terkendali, Devia juga tak perlu repot mengemudi sendiri. Ia bisa memanfaatkan waktu perjalanan untuk beristirahat, terlebih jika masih ada kursi kosong.

Keuntungan lain, rumahnya hanya berjarak sekitar tujuh menit berjalan kaki dari Halte Jelambar. Kondisi ini membuatnya tak perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk ojek atau angkot sebagai penghubung awal perjalanan (first mile).

”Beruntung banget rumah dekat halte. Jalan kaki cuma tujuh menit, selain sehat, juga jadi jauh lebih hemat karena enggak perlu keluar uang buat naik feeder,” katanya.

Meski merasakan manfaatnya, Devia berharap layanan bus terus ditingkatkan. Frekuensi bus di jam sibuk diharapkan tetap terjaga agar waktu tunggu tidak terlalu lama. Integrasi rute hingga ke kawasan permukiman juga menjadi perhatian agar semakin banyak warga bisa mengakses layanan tanpa biaya tambahan.

Dampak ekonomi

Kepala Kajian Transportasi, Real Estate dan Studi Perkotaan LPEM FEB UI Muhammad Halley Yudhistira mengatakan, keberadaan Transjakarta mendorong tumbuhnya aktivitas ekonomi secara langsung maupun tidak langsung, sekaligus menciptakan efek pengganda (multiplier effect) bagi perekonomian Jakarta.

Berdasarkan kajian LPEM FEB UI, setiap Rp 1 triliun subsidi yang dikucurkan untuk Transjakarta mampu menghasilkan output ekonomi Rp 2,7 triliun di Jakarta, sekaligus menciptakan nilai tambah baru sekitar Rp 1,2 triliun.

Secara akumulatif, selama periode 2015–2024, operasional Transjakarta telah menghasilkan total stimulus ekonomi sebesar Rp 30,7 triliun. Dari angka tersebut, 90 persen stimulus berasal dari pendapatan usaha, sementara sisanya bersumber dari belanja modal.

Dampak ekonomi Transjakarta tidak hanya terasa di Jakarta, tetapi juga secara nasional. Kontribusi terhadap output ekonomi nasional mencapai Rp 73,8 triliun, dengan Rp 62,4 triliun (85 persen) berputar di Jakarta. Layanan ini juga mendorong terciptanya sekitar 32.000 lapangan kerja baru setiap tahun.

Dari sisi fiskal, Transjakarta turut meningkatkan penerimaan negara melalui pajak tidak langsung. Sepanjang 2015-2024, estimasi penerimaan pajak terkait aktivitas Transjakarta mencapai Rp 811,6 miliar, atau rata-rata Rp 81,2 miliar per tahun khusus untuk wilayah Jakarta.

Selain berdampak di Jakarta, aktivitas Transjakarta juga mendorong terciptanya aktivitas ekonomi baru di daerah penyangga. Estimasi pajak tidak langsung yang dihasilkan dari ekosistem Transjakarta mencapai Rp 19,9 miliar untuk Jawa Barat dan Rp 1,3 miliar untuk Banten.

Adapun struktur pendanaan Transjakarta masih bergantung pada peran pemerintah. Data menunjukkan pendapatan usaha utamanya ditopang oleh subsidi Public Service Obligation (PSO) dengan porsi 79,8 persen, disusul pendapatan tiket sebesar 18,5 persen.

Sementara itu, kontribusi lain seperti sponsor dan pendapatan non-angkutan masih relatif kecil, masing-masing di angka 0,3 persen dan 1,4 persen.

Baca JugaTransjakarta Perluas Rute untuk Jangkau Seluruh Pasar di Jakarta

Meski porsi subsidi besar, manfaat yang dikembalikan ke masyarakat cukup signifikan. Rumah tangga bisa menghemat biaya transportasi hingga Rp 174.000 per bulan, yang dapat dialihkan untuk kebutuhan lain atau ditabung.

Peralihan masyarakat dari kendaraan pribadi ke transportasi massal juga membantu menekan emisi dan memperbaiki kualitas udara. Studi ini memperkirakan manfaat ekonomi kesehatan akibat penurunan polutan mencapai Rp 3,8 triliun per tahun. Angka ini setara dengan 0,12 persen dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jakarta tahun 2024.

Menyusun porsi subsidi

Asisten Perekonomian dan Keuangan Jakarta Suharini Eliawati mengatakan, hasil kajian Dampak Ekonomi Subsidi Transjakarta dari LPEM FEB UI menjadi bahan bagi Pemprov Jakarta untuk menyusun porsi subsidi yang tepat sasaran sesuai kemampuan fiskal.

”Dampak ekonomi dan lingkungan dari keberadaan Transjakarta yang telah diteliti menjadi dasar penentuan besaran subsidi di sektor transportasi umum. Kami ingin masyarakat bisa memanfaatkan subsidi yang dialokasikan secara optimal di masa mendatang,” ujarnya.

Suharini menambahkan, hingga 2030, Pemprov Jakarta berencana menambah 10.000 armada bus Transjakarta bertenaga listrik.

”Pembenahan transportasi massal ini juga menjadi salah satu tolok ukur dalam upaya menjadikan Jakarta sebagai kota global yang masuk peringkat 50 besar dunia pada 2030,” katanya.

Baca JugaTransjakarta Buka Sekolah Pramudi, Jamin Kompetensi dan Cegah Kecelakaan 

Ketua Komisi B DPRD Jakarta Nova Harivan Paloh juga menyambut positif hasil kajian tersebut. Menurutnya, setiap tahun PT Transjakarta mengajukan anggaran subsidi untuk layanan transportasi publik yang sangat diminati warga.

”Kami siap memprioritaskan alokasi anggaran subsidi di sektor transportasi publik agar tepat sasaran. PT Transjakarta juga terus berupaya meningkatkan pendapatan dari sektor usaha lainnya,” ujarnya.

Fokus Transjakarta

Sejak mulai mengaspal pada 15 Januari 2004, Transjakarta terus bertransformasi hingga menjadi tulang punggung mobilitas Jakarta. Kini, lebih dari 1,4 juta orang mengandalkan Transjakarta setiap hari dengan 233 rute.

Direktur Utama Transjakarta Welfizon Yuza mengatakan, capaian ini buah dari kepercayaan jutaan pelanggan. Ia menyebut kritik dan saran pelanggan sebagai ”bahan bakar” utama perubahan. Transjakarta tumbuh karena mau terus mendengar.

Menjawab tuntutan zaman akan transportasi ramah lingkungan, Transjakarta mendorong mobilitas hijau dengan menghadirkan 470 bus listrik yang kini beroperasi di berbagai rute. Targetnya, seluruh armada beralih ke listrik pada 2030 untuk menekan emisi dan memperbaiki kualitas udara Jakarta.

Baca JugaTransjakarta 22 Tahun, Fokuskan Armada Listrik dan Integrasi Antarmoda

Ke depan, fokus Transjakarta tidak hanya pada penambahan armada bus, tetapi juga pada penguatan integrasi antarmoda, perluasan jaringan BRT, penerapan sistem transportasi cerdas (Intelligent Transportation Systems), serta renovasi halte.

Selain itu, layanan digital diperkuat melalui Aplikasi TJ, sementara kualitas layanan terus ditingkatkan melalui kepuasan pelanggan, keselamatan, dan inovasi operasional.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Zach LaVine Absen hingga Akhir Musim NBA 2025–2026 Usai Operasi Tangan
• 19 jam lalupantau.com
thumb
PSM Tumbang dari Dewa United pada Pekan Ke-21 BRI Super League, Tomas Trucha: Duel yang Sangat Buruk!
• 7 jam lalubola.com
thumb
Deretan 10 Saham Paling Bersinar di Pekan Ini
• 3 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Belum 2 Tahun, Mobil Listrik Viral Ini Disuntik Mati
• 20 jam laluviva.co.id
thumb
Pascal Struijk Tolak Mentah-mentah Timnas Indonesia, John Herdman Panggil Si Anak Hilang yang Jadi Starter di Inggris untuk FIFA Series 2026?
• 21 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.