Rupiah Menguat 0,23 Persen Sepekan di Tengah Tekanan Fiskal dan Data Ekonomi AS

idxchannel.com
15 jam lalu
Cover Berita

Nilai tukar rupiah menunjukkan performa positif dengan menguat terhadap dolar AS dalam kurun waktu sepekan terakhir.

Rupiah Menguat 0,23 Persen Sepekan di Tengah Tekanan Fiskal dan Data Ekonomi AS. (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Nilai tukar rupiah menunjukkan performa positif dengan menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam kurun waktu sepekan terakhir.

Melansir data Bloomberg, meskipun rupiah pada perdagangan Jumat (13/2/2026) di pasar spot sedikit melemah 0,05 persen ke level Rp16.836, namun secara mingguan mata uang Garuda tercatat menguat 0,23 persen dari posisi Rp16.876 pada Jumat sebelumnya.

Baca Juga:
Dibayangi Tekanan Fiskal, Rupiah Ditutup Melemah ke Rp16.828 per USD

Kondisi serupa terlihat pada kurs referensi Jisdor Bank Indonesia (BI), di mana rupiah menguat 0,25 persen dalam sepekan ke level Rp16.844 per dolar AS, meskipun secara harian mengalami koreksi tipis 0,10 persen.

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa pergerakan rupiah saat ini terjepit di antara sentimen global dan domestik. Di Amerika Serikat, data penjualan ritel Desember yang melemah mengindikasikan pendinginan pengeluaran konsumen.

Baca Juga:
Rupiah Melemah ke Rp16.836 per USD Jelang Libur Panjang, Ini Sentimen Pemicunya

Namun, laporan ketenagakerjaan Januari justru menunjukkan ketangguhan yang mengejutkan. Data Nonfarm Payrolls (NFP) melonjak 130.000, jauh melampaui ekspektasi pasar sebesar 70.000.

Selain itu, tingkat pengangguran AS turun tipis dari 4,4 persen menjadi 4,3 persen, disertai kenaikan pendapatan rata-rata per jam sebesar 0,4 persen secara bulanan (MoM).

Baca Juga:
Rupiah Kembali Lesu, Ambles ke Rp16.828 per Dolar AS

Dari dalam negeri, perhatian pasar tertuju pada kondisi fiskal Indonesia. Ibrahim menyoroti lonjakan belanja negara yang signifikan dalam APBN 2026 yang dapat memengaruhi persepsi investor terhadap stabilitas nilai tukar.

"Dari dalam negeri, tekanan fiskal Indonesia makin terasa seiring membengkaknya belanja negara dan besarnya kewajiban pembayaran utang pemerintah, di tengah penerimaan yang belum sepenuhnya pasti," ujar Ibrahim, Jumat (13/2/2026).

Ibrahim memaparkan bahwa belanja negara dalam APBN 2026 dipatok sebesar Rp3.842,7 triliun, meningkat drastis sekitar Rp391,3 triliun dibandingkan realisasi belanja pada 2025 yang berada di angka Rp3.451,4 triliun.

Melihat dinamika tersebut, nilai tukar rupiah diprediksi masih mengalami fluktuasi namun tetap terjaga di rentang tertentu. Ibrahim memproyeksikan rupiah dalam sepekan ke depan bergerak di kisaran Rp16.770 hingga Rp16.960 per dolar AS.

(Febrina Ratna Iskana)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dragon Crew-12 SpaceX Berhasil Docking dengan ISS, Empat Astronaut Jalani Misi Delapan Bulan
• 10 jam lalupantau.com
thumb
Fenomena Preman Bermotor Bunuh Puluhan Warga di Jalan, Negara Kacau
• 10 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Bukan Cuma Fisik, Ini 7 Tanda Seseorang Menua dengan Sehat dan Bahagia
• 13 jam lalurepublika.co.id
thumb
Menlu AS: Trump Lebih Suka Berunding daripada Perangi Iran
• 2 jam laluviva.co.id
thumb
Skincare Bayi dan Balita: Ini Kandungan yang Dianjurkan Dokter
• 12 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.