JAKARTA, KOMPAS.TV - Anggota Komisi I DPR RI Mayjen TNI (Purn) TB Hasanuddin memperingatkan terkait rencana pengiriman prajurit TNI dalam pasukan International Stabilization Force (ISF) di bawah kendali Board of Peace (BoP).
Menurut dia, langkah tersebut merupakan keputusan yang sangat berisiko tinggi dan tidak menguntungkan, baik dari sisi politik maupun militer.
"Soal rencana pengiriman prajurit TNI dalam pasukan ISF di bawah BoP, saya melihat ini sebagai partisipasi Indonesia dalam eksperimen pemerintah Amerika Serikat (AS) yang sangat berisiko tinggi dan menelan biaya tidak sedikit," katanya dalam keterangan resmi yang diterima Kompas TV, Minggu (15/2/2026).
Baca Juga: Kemlu Jelaskan Partisipasi Tentara Indonesia di ISF: Bukan Misi Tempur dan Bukan Demiliterisasi
Ia mengungkapkan ada beberapa aspek yang harus menjadi perhatian serius pemerintah Indonesia sebelum mengerahkan prajurit TNI.
Pertama, kata TB Hasanuddin, masih belum jelasnya mandat ISF. Berdasarkan Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 2803 yang disetujui pada November 2025, menyebutkan peran ISF membantu BoP mendukung gencatan senjata dan demiliterisasi di Gaza.
Namun, TB Hasanuddin menilai dalam perkembangannya, BoP malah menjadi organisasi yang secara struktural didominasi oleh satu negara: Amerika Serikat.
Selain itu, ia juga melihat badan tersebut tidak bersifat kolektif kolegial. Dalam piagam pendiriannya, BoP tidak secara spesifik menyebutkan soal perdamaian Gaza.
Menurut TB Hasanuddin, kondisi tersebut berbahaya karena ISF seperti “cek kosong” untuk pihak yang mendominasi BoP. Dengan begitu, pihak yang mendominasi dinilainya bisa mengubah mandatnya sesuai kepentingan tertentu.
"Hal ini menjadi pertanyaan, apakah ISF benar-benar mewakili kepentingan negara pengirim atau hanya menjadi instrumen pihak tertentu di Gaza," katanya.
“Pemerintah kita harus mempelajari betul mandatnya."
Penulis : Haryo Jati Editor : Tito-Dirhantoro
Sumber : Kompas TV
- tb hasanuddin
- tentara indonesia
- board of peace
- bop
- isf




